Kesehatan Tubuh
Jenis-Jenis Fisioterapi Dada, Bantu Pulihkan Fungsi Pernapasan

Table of Contents
Chest physiotherapy atau fisioterapi dada adalah metode rehabilitasi yang dapat membantu menangani berbagai masalah pada sistem pernapasan. Terapi ini dapat menggunakan alat ataupun tidak, sesuai dengan jenis fisioterapi dada yang dilakukan. Mari kenali apa saja jenis-jenis fisioterapi dada melalui artikel berikut ini.
Apa itu Fisioterapi Dada?
Chest physiotherapy atau fisioterapi dada adalah jenis terapi yang dilakukan untuk membantu mengeluarkan lendir yang berlebih dari dalam saluran pernapasan. Terapi ini biasanya dilakukan jika batuknya pasien tidak cukup efektif untuk mengeluarkan lendir yang kental, banyak, dan terlokalisasi di dalam saluran pernapasan.
Adapun beberapa kondisi yang kerap membuat seseorang memerlukan tindakan fisioterapi dada adalah:
-
Gangguan neuromuskular, yaitu gangguan saraf dan otot.
-
Asma.
-
Pernah cedera atau baru menjalani operasi di area dada maupun perut.
-
Adanya benda asing di jalan napas.
Namun, pasien mungkin tidak dianjurkan untuk melakukan chest physiotherapy apabila mengalami beberapa kondisi berikut ini:
-
Diatesis perdarahan, kondisi seseorang rentan terhadap perdarahan termasuk pada pasien yang mengonsumsi obat antikoagulasi (obat untuk mencegah penggumpalan darah).
-
Peningkatan tekanan intrakranial (tekanan di dalam kepala).
-
Mengalami patah tulang rusuk atau tulang belakang.
-
Cedera kepala termasuk adanya masalah pada pembuluh darah otak.
-
Pasien yang menjalani esofagektomi, yaitu prosedur pengangkatan kerongkongan (esofagus).
-
Hemoptisis (batuk darah) yang berat.
-
Aneurisma aorta.
-
Edema paru.
-
Emfisema subkutis, yaitu kondisi ketika terdapat udara yang terperangkap di bawah jaringan kulit.
-
Gangguan irama jantung (aritmia).
-
Hernia hiatus, kondisi ketika sebagian lambung masuk melalui diafragma yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut.
Jenis-Jenis Fisioterapi Dada
Secara umum, terdapat beberapa jenis fisioterapi dada yang umum digunakan untuk membantu mempercepat proses pemulihan gangguan pernapasan, di antaranya chest percussion, postural drainage, positive expiratory pressure technique (PEPT), active cycle of breathing technique (ACBT), dan spirometer insentif. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Chest Percussion
Jenis fisioterapi dada yang pertama adalah chest percussion. Terapi ini dilakukan dengan menepuk-nepuk dada atau punggung guna membantu melonggarkan lendir di paru-paru. Dengan begitu, lendir dapat keluar lebih mudah saat pasien sedang batuk.
Chest percussion bisa dilakukan tanpa menggunakan bantuan alat, yaitu dengan menelungkupkan telapak tangan seperti ketika menahan air, namun dengan mengarahkan telapak tangan menghadap ke bawah.
Source: Cystic Fibrosis Foundation.
Perkusi dilakukan secara kuat dengan irama yang stabil. Setiap ketukan harus menghasilkan hollow sound, yaitu seperti bunyi yang dihasilkan ketika Anda memukul sesuatu yang kosong di dalamnya.
Sebagian besar gerakannya dilakukan di pergelangan tangan dengan lengan yang rileks, sehingga membuat perkusi tidak terlalu melelahkan untuk dilakukan. Jika tangan ditangkupkan dengan benar, perkusi tidak akan terasa nyeri.
Chest percussion juga bisa dilakukan menggunakan bantuan alat elektronik maupun instrumen lain yang menghasilkan getaran di dada. Penderita gangguan pernapasan disarankan untuk melakukan chest percussion di pagi hari, tepatnya ketika lendir mungkin menumpuk di saluran pernapasan setelah tidur di malam hari.
2. Postural Drainage
Jenis fisioterapi dada berikutnya adalah postural drainage. Terapi fisik ini dilakukan dengan cara mengubah posisi tubuh serta memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengeluarkan lendir berlebih dari dalam paru-paru. Pada dasarnya, postural drainage cenderung mudah dilakukan, sehingga pasien bisa mempraktekkannya sendiri di rumah. Adapun cara melakukan postural drainage adalah:
-
Berbaring dengan posisi telentang. Lalu, letakkan beberapa bantal di bawah lutut dan pinggul sampai posisi pinggul lebih tinggi daripada dada. Selain telentang, terapi ini juga dapat dilakukan dengan posisi tengkurap serta meletakkan beberapa bantal di bawah perut dan dada.
-
Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu buang secara perlahan melalui mulut.
-
Terakhir, tahanlah posisi tersebut selama 5 menit seraya tetap mengatur napas.
3. Positive Expiratory Pressure Technique (PEPT)
Positive expiratory pressure technique (PEPT) merupakan jenis fisioterapi dada yang dilakukan dengan bernapas pada sebuah alat khusus seukuran genggaman tangan. Kemudian, alat tersebut akan menghasilkan tekanan udara yang memaksa pasien untuk mengembuskan napas lebih kuat.
Manfaat fisioterapi dada ini adalah membantu menahan saluran pernapasan agar tetap terbuka, sehingga memungkinkan udara masuk ke tenggorokan untuk membantu mengeluarkan lendir. Langkah-langkah melakukan PEPT adalah:
-
Duduk dengan posisi tegak, letakkan siku di atas meja, serta dagu sedikit terangkat. Posisi ini dapat membuat tenggorokan lebih terbuka, sehingga memudahkan dahak keluar dari saluran pernapasan.
-
Tarik napas dalam-dalam, lalu tahan selama 2–3 detik. Saat menahan napas, letakkan corong pada alat PEPT di mulut.
-
Buang napas secara perlahan dengan durasi yang lebih lama dibandingkan saat menarik napas.
-
Ulangi langkah-langkah di atas sampai dada terasa lega.
-
Terakhir, batuklah sebanyak 2–3 kali untuk membuang dahak. Lalu, tarik napas dalam-dalam dan embuskan napas sebanyak 3 kali dengan cepat dan kuat sambil mengeluarkan suara “ha, ha, ha”. Kemudian, batuklah lebih keras sampai lendir keluar.
4. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT)
Active cycle of breathing technique (ACBT) merupakan serangkaian pola pernapasan yang dilakukan untuk membantu mengeluarkan dahak dari saluran napas. Jenis fisioterapi ini dapat dilakukan dengan posisi duduk maupun berdiri. Adapun pola pernapasan yang dilakukan dalam metode ACBT adalah:
-
Pernapasan terkontrol, pasien bisa bernapas seperti biasanya.
-
Pernapasan dalam, dilakukan dengan menarik napas panjang dan dalam secara perlahan melalui hidung. Lalu, tahan selama 2–3 detik dan embuskan melalui mulut.
-
Mendengus, dilakukan dengan mengembuskan napas secara keras melalui mulut, namun tanpa terbatuk.
5. Spirometer Insentif
Spirometer insentif merupakan alat yang mengukur volume udara yang dihirup ke dalam paru-paru selama inspirasi (menarik napas). Saat menghirup melalui spirometer insentif, piston akan naik ke dalam perangkat dan mengukur volume udara yang dihirup.
Perangkat yang terbuat dari plastik ini juga dapat digunakan untuk membersihkan serta membantu menguatkan fungsi paru-paru. Alat ini umumnya digunakan ketika pasien baru menjalani operasi di area paru-paru. Secara umum, berikut adalah panduan menggunakan spirometer insentif:
-
Duduk dengan posisi tegak seraya memegang alat spirometer insentif.
-
Letakkan corong spirometer di mulut, kemudian tarik napas sedalam dan selambat mungkin.
-
Saat menarik napas, pasien dapat melihat indikator pada alat spirometer bergerak ke atas. Usahakan untuk menarik napas sedalam mungkin agar indikator pada alat tersebut naik setinggi mungkin.
-
Lalu, tahan napas setidaknya selama 5 detik atau selama mungkin. Kemudian, buang napas secara perlahan.
-
Istirahatlah selama beberapa detik. Setelah itu, ulangi langkah-langkah di atas setidaknya 10 kali setiap jam.
-
Setelah melakukannya sebanyak 10 kali, cobalah batuk untuk mengeluarkan lendir dan dahak. Apabila pasien memiliki luka bekas operasi, tekanlah area tersebut menggunakan bantal dengan lembut untuk meminimalkan rasa tidak nyaman yang mungkin muncul.
Itu dia berbagai jenis fisioterapi dada yang dapat dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemulihan gangguan pernapasan. Penting untuk diketahui bahwa fisioterapi dada akan direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani terapi ini.
Oleh karena itu, jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan gangguan pernapasan, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait gangguan pernapasan dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Fisioterapi (6x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp3.300.000
Fisioterapi Silver ASRI - Homecare
Rp1.200.000
Fisioterapi & Chest Therapy (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp1.072.000







