Apakah Henti Jantung Bisa Diselamatkan? Ini Peluangnya!
Kesehatan Tubuh

Apakah Henti Jantung Bisa Diselamatkan? Ini Peluangnya!

02 September 2025 5 menit waktu baca
apakah henti jantung bisa diselamatkan

 

Henti jantung adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika jantung secara tiba-tiba berhenti berdetak. Tanpa penanganan segera, kondisi ini dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Lantas, apakah henti jantung bisa diselamatkan?

 

Meskipun tergolong sebagai kondisi yang mengancam jiwa, kemajuan di bidang medis menunjukkan bahwa henti jantung tidak selalu berujung pada kematian apabila ditangani secara cepat dan tepat. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai penanganan dan pencegahan henti jantung di bawah ini.

 

Apakah Henti Jantung Bisa Diselamatkan?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, henti jantung (cardiac arrest) adalah kondisi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Kondisi ini mengakibatkan terhentinya aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Hal tersebut dapat menyebabkan cedera berat pada organ tubuh atau bahkan sampai dengan kematian. Adapun beberapa tanda henti jantung adalah sebagai berikut:

 

  • Kehilangan kesadaran secara mendadak.

  • Pernapasan terhenti atau sangat lemah.

  • Denyut nadi di pergelangan tangan atau leher tidak teraba.

 

Lantas, apakah henti jantung bisa diselamatkan? Meski cukup fatal, pasien dengan kondisi ini tetap memiliki peluang untuk selamat jika memperoleh penanganan yang tepat dengan segera. Pertolongan pertama terhadap henti jantung pun dapat dilakukan bahkan oleh orang awam yaitu dengan memberikan bantuan hidup dasar (BHD) atau basic life support (BLS)

 

Meski begitu, pasien tetap memerlukan penanganan lebih lanjut oleh tenaga medis. Berikut uraian mengenai penanganan henti jantung secara mandiri dan di rumah sakit.

 

1. Penanganan Darurat secara Mandiri

 

Dilansir dari National Heart, Lung, and Blood Institute (2022), penanganan darurat yang bisa dilakukan ketika seseorang mengalami henti jantung adalah sebagai berikut:

 

  • Memeriksa respons pasien dan tanda vital: Periksa apakah pasien memberi respons terhadap rangsangan suara atau sentuhan. Kemudian, periksa apakah pasien bernapas dan denyut nadi di pergelangan tangan atau leher dapat teraba. Jika pasien tidak memberikan respons atau tidak merespons secara normal, segera hubungi layanan gawat darurat.

  • Melakukan CPR atau resusitasi jantung paru: Jika tidak ditemukan napas atau denyut nadi, segera mulai tindakan CPR untuk mempertahankan aliran darah ke otak dan organ vital hingga bantuan medis tiba. American Heart Association (2020) merekomendasikan CPR untuk dilakukan sesegera mungkin terhadap pasien dengan dugaan henti jantung, meski belum diketahui secara pasti apakah pasien mengalami henti jantung.

  • Mencari alat AED (automated external defibrillator): Penolong juga dapat menggunakan AED apabila tersedia untuk memberikan kejut jantung pada pasien.

 

Selama pertolongan pertama, lanjutkan tindakan CPR hingga tim medis tiba dan mengambil alih penanganan. Nantinya, tim medis akan melakukan CPR dan memberikan kejutan listrik tambahan dengan defibrilator jika diperlukan. Tim medis juga dapat memberikan terapi obat secara intravena (IV) jika diperlukan untuk membantu mengembalikan fungsi jantung.

 

2. Penanganan di Rumah Sakit

 

Setelah pasien berhasil diselamatkan melalui pertolongan pertama atau penanganan darurat, pasien akan dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan pengobatan lanjutan. Perawatan ini bertujuan untuk memantau kondisi jantung dan mencegah kerusakan organ, terutama otak. Adapun langkah-langkah perawatan henti jantung di rumah sakit adalah sebagai berikut:

 

  • Targeted temperature management (TTM): TTM dilakukan jika pasien tidak sadarkan diri atau tidak dapat merespons meski detak jantung kembali. Tindakan ini bertujuan melindungi otak dengan menurunkan suhu tubuh menggunakan beberapa alat, seperti selimut pendingin, helm pendingin, es batu, dan lain-lain.

  • Terapi oksigen: Prosedur ini dilakukan untuk memastikan paru-paru pasien menerima cukup oksigen sehingga organ-organ tubuh dapat berfungsi sebagaimana mestinya saat masa pemulihan.

  • Extracorporeal membrane oxygenation (ECMO): ECMO adalah alat yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru sementara waktu. Prosedur ini dapat meningkatkan peluang pasien selamat, terutama yang tidak merespons penanganan standar yang diberikan di luar rumah sakit.

 

Selama di rumah sakit, dokter akan mencari tahu penyebab utama henti jantung. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya penyakit jantung koroner. Jika henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner, dokter mungkin merekomendasikan operasi bypass atau prosedur angioplasti.

 

Cara Mencegah Henti Jantung Berulang

 

Individu dengan riwayat henti jantung berisiko tinggi untuk mengalami kejadian serupa. Guna mencegah henti jantung berulang, dokter biasanya merekomendasikan pemasangan alat kejut jantung (defibrillator) yang dapat ditanam di dalam tubuh atau digunakan di luar tubuh. 

 

Fungsi utama alat tersebut adalah mendeteksi gangguan irama jantung yang membahayakan nyawa dan mengirimkan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung ke kondisi normal. Adapun tiga jenis alat kejut jantung yang umumnya direkomendasikan oleh dokter meliputi:

 

  • Implantable cardioverter defibrillator (ICD): Alat ini dapat ditanam di bawah kulit pada bagian dada atau perut melalui prosedur operasi. Ketika detak jantung tidak normal, alat ini akan memberi denyut listrik atau memberi kejutan listrik kuat untuk mengembalikan detak jantung normal.

  • Subcutaneous cardioverter device (SCD): SCD biasanya lebih direkomendasikan bagi pasien dengan risiko infeksi tinggi, seperti penderita diabetes, atau seseorang yang berisiko mengalami henti jantung akibat kegagalan fungsi ICD. Namun, alat ini tidak disarankan bagi pasien yang membutuhkan dukungan pacemaker.

  • Wearable cardioverter device (WCD): WCD biasanya ditujukan bagi pasien yang tengah menunggu jadwal operasi untuk pemasangan ICD/SCD atau transplantasi jantung. WCD juga dapat direkomendasikan bagi pasien yang baru saja menjalani operasi bypass jantung atau baru memulai pengobatan untuk kondisi kardiomiopati yang cukup parah.

 

Cara Menurunkan Risiko Henti Jantung

 

Langkah pertama dalam menurunkan risiko henti jantung adalah menerapkan gaya hidup sehat. Penelitian berjudul Healthy Lifestyle Factors, Cardiovascular Comorbidities, and The Risk of Sudden Cardiac Arrest: A Case-Control Study in Korea (2022) menunjukkan bahwa risiko henti jantung akibat penyakit jantung dapat dikurangi melalui penerapan gaya hidup sehat.

 

Adapun beberapa gaya hidup sehat yang bisa diterapkan untuk menurunkan risiko henti jantung adalah sebagai berikut:

 

  • Rutin melakukan olahraga untuk kesehatan jantung, seperti senam jantung, berenang, atau bersepeda.

  • Tidur yang cukup dan berkualitas.

  • Tidak merokok.

  • Mengonsumsi buah dan sayur.

  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol.

 

Melalui informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa pasien dengan henti jantung memiliki peluang untuk selamat jika mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. Apabila orang terdekat mengalami henti jantung mendadak, jangan tunda untuk langsung datang ke IGD Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan penanganan medis yang tepat.

 

Tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter atau tenaga medis lainnya terkait dengan kondisi ini dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada kondisi medis setiap pasien dan fasilitas yang tersedia. Karenanya, dalam memilih rumah sakit jantung terbaik, pertimbangkan referensi layanan kesehatan unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

 

Konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dan lakukan pemeriksaan jantung secara rutin sebagai langkah pencegahan dengan memanfaatkan paket Skrining Jantung dari Siloam Hospitals yang bisa dipesan melalui aplikasi MySiloam. 

 

Aplikasi MySIloam juga bisa membantu mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online.

Sumber

American Heart Association. Pedoman CPR dan ECC 2020. Diakses pada 2025 | Johns Hopkins. Cardiac Arrest. Diakses pada 2025 | National Heart, Lung, and Blood Institute. Cardiac Arrest. Diakses pada 2025 | International Journal of Emergency Medicine. Impact of cardiopulmonary resuscitation duration on the neurological outcomes of out-of-hospital cardiac arrest. Diakses pada 2025 | Resuscitation. Healthy lifestyle factors, cardiovascular comorbidities, and the risk of sudden cardiac arrest: A case-control study in Korea. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail