Kesehatan Tubuh
Mengenal Jenis-Jenis Penyakit THT yang Perlu Diketahui

Table of Contents
Penyakit THT adalah beberapa kondisi yang memengaruhi telinga, hidung, dan tenggorokan. Seperti diketahui, ketiga organ tersebut memiliki fungsi penting bagi tubuh, mulai dari mendengar, bernapas, menelan makanan dan minuman, hingga berbicara.
Apabila seseorang mengalami keluhan yang mengarah pada salah satu atau beberapa penyakit THT, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis THT (otolaryngologist) agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Lantas, apa saja jenis-jenis penyakit THT yang biasanya ditangani oleh dokter spesialis THT? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui artikel di bawah ini.
Jenis-Jenis Penyakit THT
Ada berbagai jenis penyakit yang dapat menyerang organ THT (telinga hidung tenggorokan), mulai dari alergi, infeksi, peradangan, hingga tumor. Ketiga organ tersebut juga saling berhubungan, sehingga gangguan pada salah satu organ dapat memengaruhi organ lainnya.
Mulai dari gangguan pendengaran, keseimbangan, hingga infeksi telinga, berikut adalah beberapa penyakit THT yang cukup umum terjadi.
1. Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran atau tuli dapat dibagi menjadi dua, yaitu gangguan pendengaran yang terjadi secara temporer (sementara) maupun gangguan pendengaran secara permanen. Penyebab tuli sementara yang paling sering adalah otitis media atau peradangan pada telinga tengah.
Sedangkan tuli permanen sering kali disebabkan oleh faktor-faktor yang memengaruhi ibu saat kehamilan maupun pada bayi saat setelah persalinan, genetik, trauma kepala, infeksi (seperti meningitis atau peradangan pada selaput otak), obat-obatan tertentu, penuaan, dan paparan suara.
Gangguan pendengaran atau tuli diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu tuli konduktif, sensorineural, dan kombinasi keduanya (campuran). Tuli konduktif (conductive hearing loss) adalah tuli yang disebabkan oleh kerusakan telinga bagian luar atau tengah.
Sementara itu, tuli sensorineural adalah gangguan pendengaran yang disebabkan oleh adanya masalah pada koklea (bagian telinga dalam yang berisi saraf sensorik). Adapun gangguan pendengaran campuran biasanya diawali dengan gejala tuli konduktif kemudian berkembang menjadi tuli sensorineural.
Secara umum, gangguan pendengaran tersebut bisa disebabkan oleh faktor usia, paparan suara dengan volume keras dalam jangka panjang maupun pendek (trauma akustik), penumpukan kotoran telinga, hingga pertumbuhan tumor yang dapat menghambat fungsi pendengaran.
2. Infeksi Telinga
Penyakit THT yang umum terjadi berikutnya adalah infeksi telinga. Infeksi ini bisa menyerang telinga bagian luar (otitis eksterna), telinga tengah (otitis media), maupun telinga dalam (lebih jarang terjadi). Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa demam, rasa nyeri di telinga, gangguan pendengaran, dan keluar cairan dari telinga.
3. Gangguan Keseimbangan
Salah satu fungsi telinga adalah untuk menjaga keseimbangan tubuh. Gangguan keseimbangan termasuk dalam salah satu penyakit THT karena struktur penting di dalam telinga yaitu sistem vestibular atau labirin memegang peranan penting. Gangguan keseimbangan yang disebabkan oleh telinga ini disebut juga dengan vertigo perifer.
Apabila keseimbangan terganggu, gejala seperti pusing berputar, merasa seperti ingin jatuh, sulit berjalan, rasa ingin pingsan, disorientasi, telinga berdenging, maupun pandangan kabur dapat dirasakan. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan di telinga, yaitu:
-
BPPV (benign paroxysmal positional vertigo), merupakan kondisi yang terjadi ketika kepala mengalami perubahan posisi yang terlalu cepat, seperti saat bergerak atau bangun dari tempat tidur. Hal ini terjadi karena otolith (batu kalsium yang terdapat di telinga dalam untuk membantu keseimbangan) lepas dan ‘salah masuk’ ke salah satu kanal di sistem vestibular.
-
Labyrinthitis, yaitu infeksi di struktur labirin, biasanya penurunan pendengaran terjadi hanya di satu telinga.
-
Meniere’s disease, disebabkan karena cairan endolimfe atau cairan yang berada di bagian dalam telinga terlalu banyak yang menyebabkan gangguan di telinga.
-
Vestibular neuronitis, peradangan pada saraf vestibularis, yaitu saraf yang mengatur keseimbangan. Kondisi ini biasanya terjadi setelah infeksi virus.
4. Gangguan Hidung
Gangguan hidung yang paling sering ditangani oleh dokter spesialis THT adalah sinusitis, yaitu kondisi di mana mukosa atau selaput lendir pada rongga sinus (rongga kecil yang terhubung melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak) mengalami peradangan (inflamasi).
Sebagai informasi, ada istilah gangguan hidung yang dinamakan rhinosinusitis. Ini adalah peradangan pada hidung dan sinus paranasalis (sinus yang ada di sekitar hidung). Istilah rhinosinusitis saat ini lebih dipakai daripada sinusitis karena peradangan pada sinus jarang terjadi tanpa bersamaan dengan peradangan pada mukosa hidung.
Gejala rhinosinusitis meliputi hidung mampet (nasal congestion), ingus atau lendir berlebih dari hidung yang dapat menetes hingga ke tenggorokan, dan penurunan kemampuan untuk mencium bau. Hal ini sering kali juga diikuti dengan kondisi tubuh yang cepat lelah.
Rhinosinusitis akut merupakan inflamasi yang terjadi selama <4 minggu, untuk subakut 4–12 minggu, sedangkan kronik >12 minggu. Rhinosinusitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi, sedangkan pada rhinosinusitis kronis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti:
-
Polip hidung: Kelainan pada mukosa hidung yang ditandai dengan terbentuknya massa atau jaringan lunak bertangkai di bagian sinus menuju rongga hidung, sehingga polip dapat menutupi ‘pintu keluar’ sinus menuju rongga hidung, sehingga terjadi berbagai gejala rhinosinusitis. Jaringan ini umumnya tidak menyebabkan rasa nyeri maupun berpotensi menyebabkan kanker.
-
Rinitis alergi: Peradangan pada lapisan dalam hidung yang dipicu oleh paparan alergi, seperti serbuk sari, tungau, debu, bulu hewan, kecoa, jamur (molds) dan lain sebagainya. Beberapa gejala rinitis alergi adalah hidung tersumbat, gatal, berair, dan bersin-bersin.
-
Deviasi septum: Kelainan bentuk hidung yang ditandai dengan posisi septum nasal yang tidak normal (tidak berada di tengah). Septum nasal merupakan tulang rawan yang berperan sebagai pembatas antara dua lubang hidung. Kondisi ini bisa menjadi kelainan bawaan atau disebabkan oleh cedera pada hidung.
Selain penyebab di atas, terdapat faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kejadian rhinosinusitis yaitu paparan terhadap asap rokok, iritan yang tersebar melalui udara (misalnya formalin), gangguan sistem imun, dan infeksi virus.
Seseorang juga bisa mengalami anosmia, yaitu gangguan penciuman yang membuat penderitanya tidak mampu atau tidak peka terhadap aroma, misalnya parfum, bau kotoran, bau gas, dan lain-lain. Anosmia biasanya disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti pilek, rinitis alergi atau nonalergi, flu, dan lain-lain.
5. Gangguan Tenggorokan
Salah satu penyakit THT yang menyerang tenggorokan adalah laringitis, yaitu peradangan yang terjadi pada organ laring (kotak suara), tepatnya di pita suara. Kondisi ini dapat menyebabkan suara menjadi serak serta gangguan pernapasan akibat terhambatnya peredaran oksigen.
Selain laringitis, gangguan tenggorokan lainnya adalah radang amandel (tonsilitis) dan difteri. Tonsilitis adalah infeksi bakteri atau virus pada amandel. Kondisi ini ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan munculnya lapisan berwarna putih di organ amandel. Tonsilitis dapat menyebabkan penderitanya kesulitan menelan, demam, dan bau mulut.
Sementara itu, difteri adalah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan nyeri di tenggorokan, pembengkakan leher, demam, dan lemas. Lebih lanjut, penyakit THT yang menyerang tenggorokan selanjutnya adalah kanker nasofaring (kanker yang terbentuk di tenggorokan atau jaringan di dinding belakang hidung).
Itulah penjelasan mengenai beberapa jenis penyakit THT yang ditangani oleh dokter spesialis THT. Jika Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada salah satu atau beberapa kondisi di atas, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi secara langsung dengan dokter.
Sementara itu, jika Anda memerlukan perawatan dari rumah, Anda dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care dari Siloam Hospitals melalui aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan pendampingan perawat secara intens di rumah (menginap atau pulang pergi), serta pemantauan secara berkala oleh dokter umum dan dokter spesialis jika diperlukan. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Hidup Sehat Basic
Penawaran Spesial, Skrining Lite
11 Service/Item
Rp649.000
TERPOPULER
Skrining Hidup Sehat Mini
Skrining Lite
7 Service/Item
Rp449.000
Non Live In Coordinated Care Monthly (Competent) - Homecare
Coordinated Care
Rp78.000.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Non Live In Coordinated Care Weekly (Advance) - Homecare
Coordinated Care
Rp25.000.000
Live In Coordinated Care Weekly (Advance) - Homecare
Coordinated Care
Rp27.500.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







