Kesehatan Tubuh
Kriteria Orang yang Memerlukan Skrining Kanker Paru-Paru

Table of Contents
Skrining adalah pengujian untuk suatu penyakit saat pasien tidak mengalami gejala atau memiliki riwayat penyakit tersebut. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan pada orang dengan faktor risiko tertentu untuk mendiagnosis penyakit lebih awal sehingga pengobatannya semakin optimal. Lantas, bagaimana kriteria orang yang direkomendasikan melakukan skrining kanker paru-paru? Simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Kriteria Orang yang Perlu Melakukan Skrining Kanker Paru-Paru
American Cancer Society (ACS) secara signifikan mengembangkan pedoman mengenai kriteria orang yang perlu melakukan skrining kanker paru-paru dan perlu menjalani skrining setiap tahun. Pedoman skrining kanker paru-paru yang baru telah diterbitkan dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians.
Dalam jurnal tersebut, ACS merekomendasikan agar penyedia layanan kesehatan merujuk pasien berusia 50–80 tahun untuk melakukan skrining kanker paru-paru dengan LDCT (low-dose CT scan, yaitu CT scan dengan radiasi lebih sedikit) jika aktif merokok, atau pernah merokok dengan riwayat merokok 20 bungkus per tahun atau lebih, tanpa gejala kanker paru-paru.
Secara lebih spesifik, beberapa perubahan yang dilakukan ACS terhadap kriteria orang yang perlu melakukan skrining kanker paru-paru adalah sebagai berikut:
-
Orang berusia 50–80 tahun yang memiliki riwayat merokok atau saat ini sedang merokok (pedoman ACS sebelumnya adalah usia 55–74 tahun).
-
Orang dengan riwayat merokok 20+ bungkus per tahun (pedoman sebelumnya 30+ per tahun bungkus rokok).
Perubahan terpenting dalam pedoman ini adalah jumlah tahun sejak berhenti merokok tidak lagi menjadi kualifikasi untuk memulai atau menghentikan skrining tahunan. Artinya, orang yang pernah merokok minimal 20 bungkus per tahun, baik yang baru berhenti kemarin atau 20 tahun yang lalu dianggap berisiko tinggi terkena kanker paru-paru dan bisa menjalani skrining LDCT.
Sebelumnya, pedoman ACS hanya merekomendasikan orang yang telah berhenti merokok 15 tahun yang lalu atau kurang. Dengan pedoman yang baru, hal ini tetap memungkinkan seseorang yang sudah berhenti merokok lebih dari 15 tahun lalu bisa menjalani skrining kanker paru-paru.
Jenis Skrining Kanker Paru-Paru
Skrining kanker paru-paru bisa dilakukan melalui beberapa metode. Biasanya, dokter mengombinasikan dua atau lebih pemeriksaan untuk mendapatkan hasil diagnosis yang akurat. Pemeriksaan tersebut di antaranya:
1. Tes Carcinoembryonic Antigen (CEA)
CEA test adalah pemeriksaan yang berguna untuk mengukur kadar CEA dalam darah sebagai penanda tumor. Umumnya, kadar CEA akan meningkat jika seseorang memiliki kanker usus besar atau kanker rektum, kanker pankreas, kanker lambung, atau kanker paru-paru.
2. Tes Cyfra 21-1
Cyfra 21-1 merupakan penanda kanker dalam darah untuk salah satu jenis kanker paru-paru. Nilai ambang batas untuk Cyfra 21-1 bagi pasien yang dicurigai menderita kanker adalah 3,15 ng/mL. Batas baru ini menurunkan tingkat hasil positif palsu dan meningkatkan keakuratan diagnosis Cyfra 21-1 sebagai penanda tumor dan risiko kematian.
3. CT Thorax Non Contrast atau Low-Dose CT Scan (LDCT)
LDCT dapat membantu tim medis untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker paru-paru sekaligus menentukan stadium kanker, efektivitas pengobatan, perencanaan bedah, serta pemantauan jangka panjang terhadap kanker.
Risiko Skrining Kanker Paru-Paru
Meskipun skrining kanker paru-paru bermanfaat untuk mendeteksi penyakit pada tahap awal, dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), skrining kanker paru-paru memiliki setidaknya tiga risiko utama yang perlu dipertimbangkan, di antaranya:
-
Tes skrining ini bisa menunjukkan bahwa seseorang menderita kanker paru-paru padahal tidak ada kanker yang muncul. Ini disebut juga dengan hasil positif palsu (false positive). Risikonya, hal ini bisa menyebabkan tes lanjutan dan operasi yang tidak diperlukan dan mungkin berisiko.
-
Tes skrining ini dapat menemukan kasus kanker yang sebenarnya tidak pernah menimbulkan gejala atau keluhan apa pun pada pasien. Hal ini dikenal juga dengan overdiagnosis yang bisa menyebabkan pasien mendapatkan perawatan yang tidak diperlukan.
-
Radiasi dari tes LDCT yang berulang dapat menyebabkan kanker pada orang yang sehat.
Karena beberapa risiko tersebut, skrining ini hanya direkomendasikan untuk orang dewasa yang berisiko tinggi terkena kanker paru-paru akibat riwayat merokok, usia, serta tidak memiliki riwayat penyakit tertentu yang dapat membatasi harapan hidup pasien. Itulah mengapa, penting untuk berbicara terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan menjalani skrining kanker paru-paru.
Perlu diketahui bahwa pemeriksaan kanker ini biasanya direkomendasikan oleh dokter ketika pasien membutuhkannya. Dokter tentu akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien guna memastikan apakah pasien memenuhi syarat untuk menjalani tindakan ini. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan akan dijelaskan secara langsung oleh dokter.
Apabila Anda ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai pemeriksaan ini atau mengalami keluhan yang mengarah pada beberapa kondisi medis yang disebutkan di atas, Anda bisa mengunjungi Dokter Spesialis Pulmonologi di Siloam Hospitals terdekat.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan langkah pengobatan di setiap rumah sakit mungkin berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.
Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kanker Paru yang bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, lalu tinggal datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.
Sumber
American Cancer Society. New Lung Cancer Screening Guideline Increases Eligibility. Diakses pada 2024 | Centers for Disease Control and Prevention. Screening for Lung Cancer. Diakses pada 2024 | Advances in Laboratory Medicine. CYFRA 21-1 in patients with suspected cancer: evaluation of an optimal cutoff to assess the diagnostic efficacy and prognostic value. Diakses pada 2024 |



