Memahami Tingkatan Stadium Leukemia Berdasarkan Jenisnya
Kesehatan Tubuh

Memahami Tingkatan Stadium Leukemia Berdasarkan Jenisnya

08 September 2025 7 menit waktu baca
stadium leukemia

Leukemia adalah salah satu jenis kanker darah yang memengaruhi fungsi sumsum tulang sehingga menyebabkan produksi sel darah putih meningkat secara abnormal. Berdasarkan tingkat keparahannya, leukemia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa stadium. Setiap jenis leukemia memiliki tingkatan stadium yang berbeda. Untuk mengetahui stadium leukemia pada masing-masing jenisnya, Anda dapat menyimak artikel berikut ini.

 

Mengenal Stadium Leukemia berdasarkan Jenisnya

 

Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang yang ditandai dengan adanya proliferasi sel-sel darah putih dengan tampakan adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi (sel blast) secara berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan terdesaknya sel darah yang normal sehingga mengakibatkan fungsi dari sel normal tersebut terganggu.

 

Gejala Leukimia

 

Jenis leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan kecepatan proliferasi atau pembelahan sel kanker menjadi leukemia akut dan kronis. Selain itu, leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan sel dasarnya menjadi mieloid atau limfoid. 

 

Untuk membantu menentukan metode pengobatan yang tepat, dokter umumnya perlu mengidentifikasi stadium leukemia yang dialami oleh pasien. Pada jenis kanker yang lain, tingkatan stadium biasanya ditentukan berdasarkan ukuran dan persebaran kanker di dalam tubuh.

 

Namun, penentuan stadium pada kanker darah sedikit berbeda. Secara umum, stadium leukemia ditentukan berdasarkan jumlah sel darah putih dan akumulasi sel kanker pada organ dalam tubuh, seperti limpa dan hati.

 

Dalam menentukan stadium leukemia, dokter dapat melakukan berbagai prosedur pemeriksaan, seperti complete blood count dan biopsi jaringan. Masing-masing jenis leukemia juga memiliki sistem stadiumnya sendiri. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

1. Stadium Leukemia Limfoblastik Akut

 

Leukemia limfoblastik akut atau acute lymphocytic leukemia (ALL) merupakan jenis kanker leukemia yang terjadi ketika limfoblas (limfosit yang belum matang) memperbanyak diri secara tidak terkendali, agresif, dan terlalu cepat. 

 

ALL adalah kanker sel darah putih yang banyak diderita anak-anak. Pada jenis leukemia ini, sistem stadiumnya ditentukan berdasarkan jenis limfosit dan tingkat kematangan sel kanker yang ditemukan dalam hasil tes laboratorium.

 

Tingkatan stadium leukemia limfoblastik akut juga cenderung berbeda pada setiap kelompok usia. Pada anak-anak, stadium kanker ini biasanya ditentukan sesuai dengan risikonya, yaitu:

 

  • Risiko rendah: Anak penderita leukemia dianggap berisiko rendah jika berusia di bawah 10 tahun dan memiliki jumlah sel darah putih kurang dari 50.000.

  • Risiko tinggi: Anak penderita leukemia dianggap berisiko tinggi apabila berusia di atas 10 tahun atau memiliki jumlah sel darah putih lebih dari 50.000.

 

Sementara pada orang dewasa, stadium ALL dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu untreated, in remission, dan recurrent.

 

  • Untreated ALL. Pasien yang baru terdiagnosis ALL akan masuk ke dalam stadium ini. Stadium untreated merupakan tahapan sebelum pasien mulai menerima pengobatan untuk menghancurkan sel-sel kanker.

  • In remission ALL. Tahapan ini utamanya terjadi setelah pasien menjalani pengobatan kanker. Pasien dianggap berada dalam tahap remisi jika ditemukan <5% sel sumsum tulang yang bersifat kanker, kadar sel darah putih berada di batas normal, dan pasien tidak lagi merasakan gejala apa pun. Terdapat dua subtipe dalam remisi ALL, yaitu:

    • Complete molecular remission: Kondisi ketika tidak ada lagi bukti ditemukannya kanker pada sumsum tulang.

    • Minimal residual disease (MDR): Kondisi ketika masih ditemukan bukti kanker pada sumsum tulang. Orang dengan MDR memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kanker kambuh atau muncul kembali.

  • Recurrent ALL. Tahapan ketika sel kanker kembali muncul setelah remisi.

 

Pada tahun 1970-an, The French-American-British (FAB) system membagi ALL menjadi 3 subtipe, yaitu L1, L2, dan L3. Pembagian subtipe ini dilakukan berdasarkan tampilan sel leukemia di bawah mikroskop setelah pewarnaan rutin. Sistem ini, yang dikenal sebagai klasifikasi FAB, sebagian besar telah digantikan karena tes laboratorium yang terbaru lebih memungkinkan dokter untuk mengklasifikasikan ALL dengan lebih akurat.

 

2. Stadium Leukemia Mieloblastik Akut

 

Leukemia mieloblastik akut atau acute myeloblastic leukemia (AML) adalah jenis leukemia yang bisa tumbuh dengan cepat dan ditemukan pada seluruh aliran darah. Dokter biasanya tidak menentukan AML berdasarkan stadiumnya. Namun, AML dapat dibagi menjadi beberapa subtipe yang ditentukan dengan melihat kematangan sel leukemia dan dari mana asal sel kanker tersebut.

 

Terdapat dua metode yang umum digunakan untuk membagi subtipe AML, yaitu The French-American-British (FAB) system dan subtipe berdasarkan penentuan WHO. Berdasarkan sistem FAB, AML dapat dibedakan menjadi 9 subtipe, yaitu:

 

  • M0: AML yang tidak terdiferensiasi.

  • M1: AML dengan maturasi minimal.

  • M2: AML dengan maturasi.

  • M3: Acute promyelocytic leukemia.

  • M4: Acute myelomonocytic leukemia.

  • M4 eos: Acute myelomonocytic leukemia with eosinophilia.

  • M5: Acute monocytic leukemia.

  • M6: Acute erythroid leukemia.

  • M7: Acute megakaryoblastic leukemia.

 

Subtipe AML menurut sistem FAB ini juga didasarkan pada asal muasal munculnya sel kanker. Di mana, subtipe M0–M5 dimulai dari sel darah putih yang belum matang, subtipe M6 dimulai dari sel darah merah yang belum matang, dan subtipe M7 dimulai di trombosit yang belum matang.

 

Perlu diketahui bahwa subtipe FAB tidak menentukan stadium. Jadi, angka yang lebih tinggi bukan menandakan bahwa kondisi tersebut dalam tingkatan yang parah dan memiliki prognosis lebih buruk. Namun, subtipe ini dapat memengaruhi peluang kelangsungan hidup (survival rate) pasien, seperti:

 

  • High survival rate: Pasien biasanya mendapatkan prognosis yang lebih baik jika mengalami AML suptibe M1, M2, M3, atau M4 eos. Subtipe M3 memiliki tingkat kelangsungan hidup paling tinggi dari semua subtipe AML menurut sistem FAB.

  • Average survival rate: Biasanya pada subtipe M3, M4, dan M5.

  • Low survival rate: Subtipe M0, M6, dan M7, kerap memiliki prognosis yang lebih buruk.

 

Sementara itu, berdasarkan penyebab dan pengaruhnya terhadap prognosis, World Health Organization (WHO) juga mengklasifikasikan leukemia mieloblastik akut menjadi beberapa subtipe, di antaranya:

 

  • AML dengan kelainan genetik tertentu.

  • AML terkait dengan kemoterapi atau terapi radiasi sebelumnya.

  • AML terkait dengan gangguan produksi sel darah (myelodysplasia).

  • AML yang tidak termasuk dalam salah satu dari tiga kelompok di atas.

 

3. Stadium Leukemia Limfositik Kronis

 

Leukemia limfositik kronis atau chronic lymphocytic leukemia (CLL) merupakan jenis leukemia yang pertumbuhannya cenderung lebih lambat dan kerap ditemukan pada sel darah putih yang sudah matang. Karena pertumbuhannya cenderung lambat, CLL memiliki tingkatan stadium yang sama dengan jenis kanker lainnya, di samping ALL atau CML. Penentuan stadium leukemia limfositik kronis dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu RAI staging system dan Binet staging system.

 

RAI staging system

 

RAI staging system adalah metode penentuan stadium CLL yang dilakukan dengan memperhatikan tiga faktor utama, yaitu jumlah sel kanker dalam limfosit, jumlah eritrosit dan trombosit, serta ada tidaknya pembengkakan pada kelenjar getah bening, limpa, atau hati. Dalam sistem RAI, CLL dapat dibedakan menjadi 5 tingkatan stadium, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Stadium 0: Ditandai dengan tingginya kadar limfosit abnormal di dalam tubuh atau limfositosis (biasanya berjumlah lebih dari 10.000 per sampel). Pada CLL staduim 0, kadar komponen darah lainnya masih cenderung normal, tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, hati, dan limpa.

  • Stadium 1: Kadar limfosit lebih dari 10.000 per sampel (limfositosis), sudah terjadi pembengkakan kelenjar getah bening, namun tidak ada pembesaran hati dan limpa, serta komponen darah lainnya seperti sel darah merah dan trombosit masih mendekati normal

  • Stadium 2: Kadar limfosit yang tinggi (limfositosis), disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening serta hati atau limpa, dengan sel darah merah dan trombosit yang masih normal.

  • Stadium 3: Pada tahap ini, komponen sel darah lainnya sudah mulai terpengaruh, yaitu sel darah merah mulai rendah (anemia) namun trombosit masih cenderung normal. Selain itu, CLL stadium 3 juga kerap disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, hati, dan limpa.

  • Stadium 4: Pada stadium 4, pasien dapat mengalami semua gejala yang terjadi pada tahap sebelumnya. Kondisi ini juga sudah memengaruhi jumlah trombosit dan sel darah merah, serta menyebabkan darah tidak bisa membeku secara normal.

 

Binet staging system

 

Untuk menentukan stadium CLL, Biner staging system menggunakan jumlah kelompok jaringan yang dipengaruhi oleh limfosit dan keberadaan anemia. Terdapat tiga tingkatan stadium CLL dalam sistem Biner ini, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Stadium A: Pada stadium A, hanya kurang dari tiga area jaringan tubuh yang terdampak oleh CLL. Stadium ini juga masih belum ditemukan anemia atau masalah pembekuan darah (trombositopenia).

  • Stadium B: Terdapat tiga atau lebih area jaringan yang terdampak dan masih belum ditemukan adanya anemia atau gangguan pembekuan darah (trombositopenia).

  • Stadium C: Pada stadium C, pasien sudah mengalami anemia dan/atau gangguan pembekuan darah (trombositopenia).

 

4. Stadium Leukemia Mielositik Kronis

 

Leukemia mielositik kronis atau chronic myeloid leukemia (CML) terjadi ketika sumsum tulang menghasilkan terlalu banyak sel darah putih belum matang yang dikenal dengan blast cell. Kanker ini biasanya berkembang secara perlahan hingga kadar blast cell melebihi jumlah sel-sel darah yang sehat.

 

Penentuan stadium CML didasarkan pada persentase sel darah putih yang bersifat kanker. Terdapat tiga tingkatan stadium leukemia mielositik kronis, di antaranya:

 

  • Chronic phase CML: Fase ini merupakan fase paling awal pada CML. Gejala yang dialami pasien pada fase ini cenderung masih ringan, yaitu seperti kelelahan. Pada fase kronis, ditemukan <10% blast cell pada sel-sel di dalam sumsum tulang.

  • Accelerated phase CML: Pada fase ini CML menjadi lebih agresif. Gejala yang dialami pasien adalah demam, penurunan selera makan, dan penurunan berat badan. Ditemukan sekitar 10–19% blast cell pada sel-sel di dalam sumsum tulang.

  • Blastic phase CML: Fase ini merupakan fase yang paling agresif pada CML. Pada fase ini 20% blast cell pada sel-sel di dalam sumsum tulang.

 

Itu dia penjelasan lengkap mengenai tingkatan stadium leukemia pada masing-masing jenisnya. Pada dasarnya, penentuan tingkatan stadium ini merupakan hal yang penting dilakukan dalam prosedur diagnosis leukemia. Dengan begitu, dokter bisa memilih metode pengobatan yang tepat dan sesuai kondisi tubuh.

 

Untuk memperoleh penegakan diagnosis yang tepat, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terutama jika mengalami gejala-gejala terkait dengan leukemia. Gunakan aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda dalam mencari informasi jadwal praktik hingga reservasi pertemuan dengan dokter terkait.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

message

ArticleDetail