Ablasio Retina - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Ablasio Retina - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

20 Oktober 2025 5 menit waktu baca
mengenal ablasio retina

Retinal detachment, ablasi retina, atau ablasio retina adalah kondisi ketika retina terlepas dari posisi yang seharusnya. Sebagai informasi, retina merupakan lapisan tipis yang terletak di belakang mata dan berfungsi untuk memproses cahaya yang ditangkap mata untuk diubah menjadi sinyal listrik, yang kemudian akan diteruskan ke otak melalui saraf optik. Selanjutnya, otak akan menerjemahkan sinyal tersebut menjadi sebuah gambar.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai ablasio retina, termasuk penyebab, gejala, dan pengobatannya, melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Ablasio Retina (Retinal Detachment)?

 

Retinal detachment atau ablasio retina adalah kondisi darurat medis yang terjadi ketika lapisan retina terpisah dari bagian belakang mata yang terdapat pembuluh darah, sehingga membuat lapisan tersebut tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup.

 

Ablasi retina adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja, namun cenderung lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 50 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, di mana tingkat keparahannya tergantung dengan seberapa besar bagian retina yang terlepas.

 

Penyebab Ablasio Retina

 

Berdasarkan mekanisme yang menyebabkan lepasnya retina dari mata, ablasio retina dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ablasi retina regmatogenosa, ablasi retina eksudatif, dan ablasi retina traksional. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

1. Ablasi Retina Regmatogenosa

 

Ablasi retina regmatogenosa merupakan jenis ablasi retina yang paling umum terjadi. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya luka robek atau lubang pada retina sehingga membuat cairan di bola mata bagian tengah (cairan vitreus) merembes masuk serta menumpuk di belakang retina. Kondisi inilah yang menyebabkan terlepasnya lapisan retina dari bagian belakang mata.

 

Robeknya lapisan retina ini umumnya terjadi karena perubahan tekstur atau konsistensi cairan vitreus seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat menyebabkan retina robek adalah cedera mata, rabun jauh (miopi), atau efek samping operasi mata.

 

2. Ablasi Retina Eksudatif

 

Ablasi retina eksudatif merupakan jenis ablasi retina yang terjadi ketika terdapat penumpukan cairan atau darah di belakang retina sehingga menyebabkan lapisan tersebut terlepas dari mata. Namun, pada ablasi retina eksudatif, penumpukan cairan tersebut tidak sampai menyebabkan retina robek.

 

Secara umum, penumpukan cairan pada retina dapat terjadi karena adanya kebocoran pembuluh darah atau pembengkakan di bagian belakang mata. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

 

  • Trauma atau cedera pada mata.

  • Peradangan pada mata.

  • Degenerasi makula.

  • Tumor atau kanker mata.

  • Penyakit Coats, yaitu kondisi langka yang menyebabkan kelainan pada perkembangan retina.

 

3. Ablasi Retina Traksional

 

Ablasi retina traksional adalah jenis ablasio retina yang terjadi karena terdapat jaringan parut yang menyebabkan retina tertarik dan terlepas dari bagian belakang mata. Jaringan parut tersebut biasanya terbentuk karena retinopati diabetik, yaitu gangguan mata yang kerap terjadi pada penderita diabetes.

 

Faktor Risiko Ablasio Retina

 

Selain kondisi-kondisi di atas, terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ablasio retina secara umum. Berikut adalah beberapa faktor risiko ablasio retina yang perlu diwaspadai.

 

  • Berusia di atas 50 tahun.

  • Memiliki riwayat ablasi retina sebelumnya.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat ablasi retina.

  • Pernah mengalami cedera atau trauma parah pada mata.

  • Menderita miopi atau rabun jauh yang parah.

  • Pernah menjalani operasi pada mata.

  • Menderita penyakit pada mata, misalnya seperti uveitis (peradangan pada lapisan tengah mata).

 

Gejala Ablasio Retina

 

Secara umum, kondisi ini tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, penderitanya dapat mengalami gangguan atau bahkan kehilangan penglihatan yang bisa terjadi secara tiba-tiba maupun didahului dengan beberapa gejala berikut ini.

 

  • Munculnya bercak-bercak hitam yang melayang pada penglihatan (floaters) secara tiba-tiba.

  • Munculnya kilatan cahaya pada penglihatan (fotopsia).

  • Penglihatan buram.

  • Lapang pandang perifer menyempit.

 

Komplikasi Ablasio Retina

 

Ablasio retina adalah kondisi darurat medis yang perlu segera ditangani dengan tepat. Pasalnya, jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan permanen. Selain itu, sejumlah komplikasi yang dapat terjadi karena pascapenanganan ablasio retina adalah sebagai berikut.

 

  • Infeksi atau perdarahan pada mata.

  • Katarak.

  • Glaukoma.

  • Kambuhnya ablasi retina.

 

Diagnosis Ablasio Retina

 

Dalam mendiagnosis ablasio retina, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mengetahui keluhan, kronologi kecelakaan, dan riwayat kesehatan pasien serta keluarga secara keseluruhan. Selain itu, dokter juga dapat mengonfirmasi diagnosis dari kondisi ini melalui sejumlah pemeriksaan penunjang, seperti:

 

  • Pemeriksaan fisik dengan memberikan tetes mata khusus untuk melebarkan pupil pasien. Selama diberikan tetes mata tersebut, pasien mungkin akan mengalami rasa tidak nyaman pada mata.

  • Pemeriksaan oftalmoskopi menggunakan alat khusus untuk melihat retina dan bagian dalam mata. 

  • USG mata.

 

Pengobatan Ablasio Retina

 

Pada dasarnya, pengobatan ablasio retina cenderung bervariasi, tergantung dengan kondisi pasien dan penyebab yang mendasarinya. Jika terdapat robekan pada retina namun masih belum terdapat bagian dari retina yang terlepas dari bagian belakang mata, dokter dapat menangani kondisi ini dengan beberapa prosedur medis, yaitu:

 

  • Kriopeksi: Untuk membekukan robekan pada retina agar lapisan tersebut tetap menempel di bagian belakang mata.

  • Terapi laser atau fotokoagulasi: Untuk membakar jaringan di sekitar robekan pada retina serta membantu lapisan tersebut agar tetap menempel pada mata.

 

Namun, apabila retina sudah terlepas dari mata, dokter dapat menangani kondisi tersebut melalui tindakan operasi. Adapun beberapa prosedur medis yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi tersebut adalah:

 

  • Pneumatic retinopexy: Prosedur ini dilakukan dengan cara menyuntikkan gelembung gas khusus ke mata yang dapat menekan retina agar kembali pada posisi seharusnya.

  • Vitrektomi: Melalui prosedur ini, dokter akan mengeluarkan cairan vitreus serta jaringan parut yang menarik retina dari lapisan mata. Lalu, dokter dapat menyuntikkan gelembung gas atau silikon khusus ke mata untuk menekan retina ke posisi semula.

  • Scleral buckling: Prosedur ini akan dilakukan dengan cara menempatkan silikon di sisi luar bagian putih mata atau sklera sehingga dapat mendekatkan bola mata ke retina.

 

Pencegahan Ablasio Retina

 

Ablasio retina adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah. Meski demikian, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Mengontrol kadar gula darah dalam tubuh dan tekanan darah secara rutin guna menjaga kesehatan pembuluh darah di retina secara keseluruhan.

  • Melakukan pemeriksaan mata secara rutin, terutama jika menderita diabetes dan hipertensi.

  • Menggunakan kacamata pelindung saat melakukan aktivitas yang berisiko tinggi menyebabkan cedera pada mata.

  • Segera memeriksakan diri ke dokter jika muncul kilatan cahaya, floaters, atau perubahan pada fungsi penglihatan.

 

Dapat disimpulkan, ablasi retina merupakan kondisi darurat medis yang perlu segera ditangani dengan tepat untuk menghindari risiko terjadinya kebutaan permanen. Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala yang mengarah ke kondisi ablasio retina seperti ulasan di atas, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Sebelum itu, temukan informasi jadwal dan buat janji temu dengan dokter terlebih dahulu menggunakan fitur Cari Dokter atau melalui aplikasi MySiloam. Agar lebih cepat, Anda juga bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk self check in serta antre secara online. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-anastasia-vanny-launardo-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anastasia Vanny Launardo, M.Kes, SpM

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-boyke-kuhurima-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Boyke Kuhurima, SpM (K)

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-nursyamsi-spm-m-kes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Nursyamsi, SpM, M.Kes

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail