Pola Hidup Sehat
Apa itu Altitude Training? Kenali Manfaat dan Risikonya

Table of Contents
Altitude training adalah latihan yang melibatkan berbagai aktivitas fisik di dataran tinggi. Latihan ini dilakukan di tempat yang lebih tinggi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan performa atlet saat berkompetisi. Mari kenali manfaat dan risiko altitude training yang perlu diperhatikan melalui pembahasan di bawah ini.
Apa itu Altitude Training?
Altitude training atau hypoxic training adalah praktik berlatih olahraga yang dilakukan di ketinggian 7.000–8.000 kaki atau setara dengan 2133.6–2438.4 meter di atas permukaan laut. Metode latihan ini berfokus pada aktivitas fisik di dataran tinggi yang membuat seseorang lebih sulit bernapas atau mengalami hipoksia buatan dengan cara yang disengaja.
Tujuan dari altitude training adalah untuk menantang tubuh agar dapat beradaptasi dengan jumlah oksigen yang lebih sedikit di dataran tinggi. Tubuh harus bisa bekerja secara optimal saat latihan dengan kadar oksigen yang lebih sedikit dari biasanya. Hasilnya, performa fisik tubuh pun dapat meningkat pada tempat dengan ketinggian yang lebih rendah.
Saat ini, altitude training telah menjadi protokol latihan standar dalam banyak olahraga aerobik untuk meningkatkan kapasitas latihan seseorang di permukaan laut atau untuk melakukan aklimatisasi (penyesuaian) sebelum mengikuti kompetisi di ketinggian atau sebelum naik ke ketinggian.
Paparan tubuh manusia terhadap lingkungan hipoksia atau tinggal di ketinggian akan memicu berbagai adaptasi yang dapat meningkatkan performa atlet di permukaan laut. Mekanisme ini umumnya dikaitkan dengan efek altitude training terhadap hematologi (darah), kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), atau ventilasi (pertukaran udara masuk dan keluar dari paru-paru).
Altitude training menuntut tubuh untuk bekerja lebih keras selama latihan berlangsung. Semakin tinggi suatu dataran, maka kadar oksigen akan semakin berkurang. Kelelahan yang muncul saat latihan disebabkan oleh hipoksia akibat ketinggian. Hal tersebut terjadi karena otot tidak mendapatkan cukup oksigen untuk menghasilkan energi.
Selain itu, kondisi hipoksia tersebut juga akan membuat tubuh memproduksi sel darah merah agar dapat mengikat lebih banyak oksigen. Semakin lama seseorang berlatih di dataran tinggi, akan semakin banyak sel darah merah yang diproduksi oleh tubuh saat sudah terbiasa dengan ketinggian. Sel darah merah ekstra ini akan meningkatkan kinerja otot karena lebih banyak oksigen yang tersedia.
Atlet profesional biasanya menjalankan altitude training untuk membantu mengoptimalkan performanya di kompetisi. Adapun beberapa atlet yang umumnya menerapkan praktik altitude training adalah pelari, perenang, atlet sepeda gunung, cyclist, dan pemain ski.
Terdapat berbagai metode yang digunakan dalam altitude training. Adapun salah satu metode yang sering diterapkan adalah “live high, train low”. Metode ini mengharuskan seseorang untuk tinggal di tempat tinggi agar tubuhnya terbiasa dengan kadar oksigen rendah. Aktivitas fisik yang ringan pun tetap bisa dilakukan secara rutin.
Manfaat Altitude Training bagi Kesehatan
Efek positif dari altitude training masih dipelajari hingga sekarang, namun beberapa manfaatnya bagi kesuksesan atlet pada ajang kompetisi olahraga di berbagai bidang sudah terbukti. Salah satunya adalah atlet Tiongkok, Xing Huina, yang melakukan lima siklus altitude training dari tahun 2003 hingga 2004 berhasil menjuarai lomba lari 10.000 meter putri pada Olimpiade 2004 di Athena.
Berikut beberapa manfaat altitude training bagi kesehatan tubuh:
-
Meningkatkan kapasitas aerobik.
-
Meningkatkan VO2 max atau jumlah maksimum oksigen yang bisa diserap dan digunakan oleh tubuh saat sedang berolahraga.
-
Meningkatkan kadar hemoglobin (Hb). Kondisi hipoksia dalam altitude training dapat meningkatkan konsentrasi hormon eritropoietin dalam tubuh, sehingga akan meningkatkan jumlah dan kualitas sel darah merah.
-
Meningkatkan toleransi tubuh terhadap asam laktat. Asam laktat adalah sisa metabolisme tubuh yang dihasilkan di sel otot dan sel darah merah. Penumpukan asam laktat berlebih dapat menyebabkan nyeri otot, kram otot, kelelahan, dan lain-lain.
-
Meningkatkan kebugaran sistem jantung dan pernapasan (kardiorespirasi).
Risiko Altitude Training yang Harus Diperhatikan
Bagi atlet, altitude training mungkin merupakan suatu keharusan untuk mencapai performa optimal di lapangan. Namun, orang biasa yang ingin mendapatkan manfaat kesehatan mungkin hanya akan merasakan sedikit manfaat dari altitude training. Berlatih terlalu intens di tempat yang tinggi justru dapat menyebabkan altitude sickness. Adapun gejala-gejalanya adalah:
-
Kelelahan.
-
Sakit kepala.
-
Kurang nafsu makan.
-
Mual dan muntah.
-
Sulit tidur.
Pada kasus yang berat, altitude sickness bisa menyebabkan beberapa kondisi berikut:
-
Kulit membiru (sianosis).
-
Dada seperti tertekan.
-
Batuk berdarah.
-
Penurunan kesadaran.
Berlatih di dataran yang tinggi juga dapat berisiko berdampak buruk pada kekentalan darah, sintesis protein, aliran darah otot, dan cardiac output (curah jantung). Efek samping ini memiliki tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan jenis olahraga, asupan nutrisi, kondisi psikologis, dan tingkat performa tubuh seseorang. Pada kasus yang parah, altitude training berisiko menyebabkan pembengkakan otak atau edema paru.
Untuk mengurangi risiko altitude sickness dan efek samping lain dari altitude training yang justru dapat memperburuk kesehatan, langkah-langkah berikut bisa diterapkan:
-
Mendaki atau berjalan secara perlahan dan bertahap.
-
Mengurangi intensitas latihan setibanya di tempat yang tinggi.
-
Menjaga kebutuhan cairan tubuh karena pernapasan yang berat membutuhkan lebih banyak air.
-
Memeriksakan kondisi ke dokter sebelum menjalankan altitude training, terutama jika menderita penyakit komorbid seperti diabetes atau penyakit jantung serta paru-paru.
-
Berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mengatasi kekurangan zat besi sebelum menjalankan altitude training. Kadar zat besi yang rendah dapat mengganggu fungsi hemoglobin, yaitu protein pembawa oksigen dalam sel darah merah.
Itulah pembahasan seputar altitude training yang mencakup manfaat serta risikonya. Apabila Anda atlet yang ingin mengoptimalkan performa saat berkompetisi, altitude training bisa menjadi pilihan strategi yang tepat. Namun, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di Siloam Hospitals terdekat terlebih dahulu guna mendapatkan evaluasi, diagnosis, dan rekomendasi latihan yang tepat.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk berkonsultasi dengan dokter secara praktis. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Healthline. All About High Altitude Fitness Training. Diakses pada 2024 | WebMD. What To Know About Elevation Training. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Effect Of Altitude Training On The Aerobic Capacity Of Athletes: A Systematic Review And Meta-Analysis. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Thomas Sintong Pratama Purba SpKFR.,FIPM.,AIFO-K.,COMSK
Rehabilitasi Medik
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Andreas Wardono Santoso, SpKFR, M.Kes
Rehabilitasi Medik
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
SHMD Physiotherapist
Rehabilitasi Medik
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Siloam Hospitals Medan
Tersedia :
Tersedia hari ini





