Anak Hiperaktif - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
Kesehatan Mental

Anak Hiperaktif - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

31 Oktober 2024 5 menit waktu baca
mengenal penyebab Anak Hiperaktif, tanda, dan cara mengatasi

 

Anak hiperaktif adalah kondisi ketika anak sangat aktif tanpa melihat waktu, situasi, serta kondisi lingkungan di sekitar. Ciri-ciri anak hiperaktif biasanya dapat terlihat dari perilakunya, seperti tidak bisa duduk tenang, berbicara terlalu cepat, dan sulit memusatkan fokus dan konsentrasi. Mari kenali penyebab, gejala, hingga cara mengatasi anak hiperaktif selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Anak Hiperaktif?

 

Anak hiperaktif adalah anak yang melakukan aktivitasnya dengan sangat aktif dan cenderung sulit untuk dikendalikan. Bahkan, kondisi ini dapat membuat anak sulit untuk memusatkan fokus dan konsentrasinya sehingga bisa memengaruhi lingkungan sosial maupun prestasi di sekolah.

 

Penyebab Anak Hiperaktif

 

Hiperaktif pada anak bisa disebabkan oleh kondisi fisik maupun psikis. Umumnya, sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan anak hiperaktif adalah sebagai berikut:

 

 

Gejala Anak Hiperaktif

 

Perlu dipahami, anak yang bergerak aktif dan lincah tidak selalu menjadi tanda anak hiperaktif. Lebih tepatnya, sejumlah tanda-tanda yang biasanya dimiliki anak hiperaktif adalah sebagai berikut:

 

  • Selalu bergerak meskipun sedang duduk, seperti mengayunkan kaki atau menggerakan kepala.

  • Berbicara tanpa henti dan dengan suara tinggi.

  • Berlari dan berteriak meskipun sedang bermain di dalam ruangan.

  • Berjalan-jalan di dalam kelas saat guru sedang berbicara.

  • Bermain terlalu kasar hingga melukai orang lain maupun diri sendiri.

  • Kesulitan untuk duduk diam dan fokus saat mengonsumsi makanan.

  • Sering mengganggu orang lain.

  • Bergerak terlalu cepat hingga menabrak orang lain atau barang-barang di sekitarnya.

  • Anak tidak mau mengalah, tidak sabar, dan tidak mau berbagi.

  • Beraktivitas terus menerus dan hanya sedikit beristirahat atau tidur. 

 

Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif

 

Tak jarang dari orang tua yang sulit membedakan apakah anaknya berperilaku aktif atau hiperaktif. Agar tidak keliru, berikut adalah sejumlah perbedaan anak aktif dan hiperaktif yang perlu dipahami.

 

1. Dari Cara Berbicara

 

Salah satu perbedaan anak aktif dan anak hiperaktif adalah dari cara berbicaranya. Secara umum, anak yang aktif lebih mudah untuk diajak berbicara dan memahami kosakata baru yang diajarkan padanya. Sebaliknya, anak hiperaktif cenderung berbicara dengan tempo yang cepat dan kerap menyela atau menginterupsi orang lain.

 

2. Dari Suasana Hatinya

 

Perbedaan anak aktif dan hiperaktif selanjutnya bisa dilihat dari perasaan dan suasana hati si kecil. Anak aktif biasanya lebih bisa mengontrol emosi dan tidak mudah menangis, kecuali saat ia dalam keadaan sedih, kesal, dan marah. Di sisi lain, anak hiperaktif cenderung sangat sensitif dengan rangsangan dari lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat anak hiperaktif lebih mudah tersinggung dan merengek.

 

3. Dari Fokus dan Perhatiannya

 

Perbedaan anak aktif dan hiperaktif juga dapat terlihat dari bagaimana si kecil memfokuskan dirinya pada suatu hal. Anak aktif dapat memusatkan fokus dan perhatian mereka pada satu hal, sementara itu perhatian anak hiperaktif lebih mudah teralihkan setiap kali mereka melihat hal-hal yang membuatnya tertarik dan penasaran.

 

4. Dari Hubungan Sosialnya

 

Perbedaan anak aktif dan hiperaktif juga bisa dilihat dari pergaulan atau hubungan sosialnya. Saat berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, anak aktif cenderung disukai karena sifatnya yang mau mengalah, mau berbagi, dan lebih sabar, terlebih saat menggunakan alat-alat permainan bersama.

 

Sementara itu, anak hiperaktif sering kali tidak mau mengalah dengan orang lain dan enggan untuk berbagi mainan bersama teman-temannya. Hal tersebut sering kali membuat anak hiperaktif cenderung tidak disukai atau bahkan dijauhi oleh teman-temannya.

 

5. Dari Rasa Lelahnya

 

Jika merasa lelah, anak aktif akan beristirahat atau tidur untuk mengembalikan energinya. Hal tersebut berbeda dengan anak hiperaktif, sebab mereka akan tetap bermain dan bergerak seperti tidak mengenal rasa lelah. Bahkan, anak hiperaktif hanya akan menghabiskan sedikit waktunya untuk beristirahat.

 

Cara Mengatasi Kondisi Anak Hiperaktif

 

Anak hiperaktif adalah kondisi yang dapat ditangani melalui beberapa cara, yaitu melalui tindakan medis dan penerapan pola asuh orang tua yang tepat. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Tindakan Medis

 

Penanganan anak hiperaktif cenderung beragam sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Namun, metode pengobatan yang umum dilakukan dokter untuk menangani kondisi anak hiperaktif adalah:

 

  • Meresepkan obat-obatan, seperti dexmethylphenidate, amphetamine, dan dextroamphetamine untuk mengendalikan gejala dan memberikan efek menenangkan.

  • Terapi bicara untuk mendiskusikan gejala yang dialami oleh anak bersama terapis.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy/CBT) untuk membantu mengubah pola pikir dan perilaku anak hiperaktif.

 

2. Penerapan Pola Asuh Orang Tua yang Tepat

 

Di samping pengobatan medis, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan penanganan anak hiperaktif adalah dengan menerapkan jenis pola asuh yang tepat. Misalnya, jika si kecil sedang mengerjakan tugas, orang tua dapat menciptakan suasana senyaman mungkin dan menghindari berbagai hal yang dapat mengganggu konsentrasi anak, seperti televisi, ponsel, dan lain-lain.

 

Selain itu, orang tua juga perlu mengarahkan anak untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya menjaga keseimbangan fokus dan konsentrasi. Sejumlah pola hidup sehat yang bisa dilakukan untuk menangani anak hiperaktif adalah:

 

  • Mengajak anak untuk rutin berolahraga. Dengan berolahraga, anak dapat belajar disiplin, mengontrol diri, serta mengatur energi sebaik mungkin.

  • Memberikan makanan sehat dengan gizi seimbang.

  • Menghindari hal-hal yang dapat memicu gejala hiperaktif, seperti makanan atau minuman yang mengandung kafein dan paparan nikotin.

  • Melatih anak untuk mengontrol emosinya dengan baik.

  • Membuat peraturan yang jelas dan konsisten di lingkungan rumah.

  • Membuat jadwal harian yang terstruktur pada anak, mulai dari menentukan waktu untuk mandi, belajar, bermain, dan tidur.

  • Meningkatkan frekuensi aktivitas outdoor, seperti piknik, bersepeda, jalan santai, hiking, dan sebagainya.

 

Penting untuk diketahui bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi hiperaktif pada anak. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan penyakit lainnya. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pediatri (Anak) di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis yang tepat. Tenaga medis profesional akan memastikan prosedur medis yang dilakukan telah sesuai dengan kondisi pasien.

 

Agar lebih praktis, manfaatkan pula aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan fitur untuk menemukan informasi jadwal praktik hingga reservasi pertemuan dengan dokter terkait. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat melakukan konsultasi virtual dengan dokter pilihan dari mana pun dan kapan pun.

message

ArticleDetail