Cedera Testis - Jenis, Gejala, Penanganan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Cedera Testis - Jenis, Gejala, Penanganan, dan Pencegahannya

02 Juni 2025 4 menit waktu baca
cedera testis

Testis atau buah zakar adalah jaringan yang menggantung di luar tubuh dan dilapisi dengan kantung kulit yang disebut skrotum. Akibat posisinya tersebut, testis sering kali mengalami cedera akibat insiden atau kecelakaan tertentu, misalnya tendangan yang meleset, benturan benda keras, dan lain sebagainya. Lantas, apakah cedera testis berbahaya? Bagaimana cara mengatasinya? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Cedera Testis?

 

Sebagai informasi, testis adalah bagian penting dalam organ reproduksi pria yang berfungsi sebagai tempat untuk memproduksi dan menyimpan sperma. Testis berada di dalam skrotum (kantung buah zakar). Normalnya, masing-masing pria memiliki dua testis, kanan dan kiri. Lokasi testis sendiri berada di luar tubuh dan tidak terlindungi oleh tulang maupun otot, sehingga rentan mengalami cedera.

 

Sebagian besar cedera pada testis dipicu oleh adanya trauma tumpul (benturan), seperti tendangan, pukulan bola bisbol, kecelakaan sepeda maupun sepeda motor, serta insiden lain yang dapat menusuk atau memotong skrotum hingga melukai testis, seperti gigitan, luka tembak, dan lain-lain.

 

Untungnya, testis tidak terlalu melekat dengan tubuh dan tersusun dari jaringan seperti spons, sehingga dapat menyerap hantaman tanpa mengalami kerusakan permanen. Meski sensitif, testis bisa memantul kembali dengan cepat, sehingga cedera ringan jarang menyebabkan efek jangka panjang. Namun, terdapat pula cedera testis yang dapat mengancam keselamatan organ testis dan sekitarnya yang dapat memengaruhi fungsi reproduksi seseorang. 

 

Penyebab Cedera Testis

 

Cedera pada testis dapat disebabkan oleh banyak hal, tergantung dari jenisnya. Pasalnya, testis juga tersusun dari berbagai jenis jaringan. Selain itu, skrotum juga mengandung berbagai struktur lain yang melekat dengan testis. Adapun beberapa jenis cedera testis adalah sebagai berikut:

 

  • Ruptur atau fraktur testis: Pecahnya atau robeknya lapisan pelindung yang mengelilingi testis, hingga merusak testis.

  • Hematokel: Kondisi ketika darah terkumpul di bawah lapisan pelindung testis.

  • Memar: Kecelakaan yang melukai pembuluh darah di testis, sehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan, perdarahan, dan memar.

  • Torsio testis: Kondisi ketika testis yang berada di dalam skrotum terpuntir hingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Kondisi ini merupakan suatu kegawatdaruratan. Pasalnya, jika testis terpuntir terlalu lama, aliran darah ke testis akan terhambat dan dapat menyebabkan kematian jaringan pada testis.

  • Dislokasi: Kecelakaan yang mengenai testis dapat menyebabkan testis terdorong keluar dari skrotum. Kondisi ini paling sering terjadi akibat kecelakaan sepeda motor karena testis bertabrakan dengan tangki bensin.

  • Epididimitis: Cedera pada testis juga bisa melukai epididimis (saluran sperma), sehingga organ tersebut meradang atau terinfeksi.

  • Infeksi: Cedera akibat gigitan hewan dapat memicu terjadinya infeksi pada skrotum dan memengaruhi testis.

  • Degloving injury: Pada jenis cedera ini, kulit skrotum mengalami robekan hingga terpisah dari jaringan yang mendasarinya. Akibatnya, suplai darah menuju skrotum menjadi terganggu.

 

Gejala dari Cedera Testis

 

Ketika mengalami cedera, tentu akan terasa nyeri pada testis. Sebagian orang mungkin juga merasakan mual selama beberapa waktu. Bila cedera testis ringan, rasa nyeri yang muncul biasanya akan menghilang secara perlahan dalam waktu kurang lebih 1 jam. Selain rasa nyeri, adapun sejumlah gejala lain dari cedera pada testis adalah:

 

  • Memar pada skrotum.

  • Pembengkakan pada skrotum.

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.

  • Mual atau muntah, sering terjadi pada penderita torsio testis.

  • Demam setelah cedera.

  • Urine berdarah (hematuria).

  • Nyeri saat buang air kecil.

  • Sulit buang air kecil.

 

Diagnosis Cedera Testis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis atau wawancara medis untuk mengetahui tentang riwayat cedera serta  kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Lalu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik pada skrotum dan organ atau jaringan di sekitarnya.

 

Bila dokter belum bisa memastikan ada atau tidaknya cedera testis melalui pemeriksaan fisik, maka dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan USG atau MRI untuk melihat kondisi di dalam skrotum, termasuk beberapa organ di dalamnya, seperti testis, epididimis, dan korda spermatika. Dengan begitu, dokter dapat menegakkan diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.

 

Penanganan Cedera Testis

 

Penanganan terhadap cedera testis bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis cederanya. Pada kasus kegawatdaruratan, seperti torsio testis, tindakan orchidopexy (operasi untuk mengembalikan posisi testis) harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan atau kematian jaringan secara permanen. Tingkat keberhasilan penyelamatan testis akan lebih tinggi bila tindakan ini dilakukan dalam waktu 4–6 jam setelah timbulnya gejala.

 

Pada kasus yang ringan, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk beristirahat, minum obat pereda nyeri, dan meletakkan kompres es di area yang terdampak. Bila diperlukan, dokter juga bisa menyarankan penggunaan penyangga skrotum dan pemberian obat antibiotik.

 

Dokter biasanya akan melakukan tindakan pembedahan untuk menangani cedera, seperti:

 

  • Melepaskan testis yang terpuntir dan mengembalikannya pada posisi yang tepat.

  • Memperbaiki testis yang pecah dan menjahit penutupnya kembali.

  • Membersihkan luka untuk meminimalkan risiko infeksi.

  • Memindahkan testis yang terpuntir bila upaya untuk mengembalikannya ke posisi semula tidak berhasil.

  • Menyambungkan kembali testis yang terlepas.

  • Cangkok kulit (skin flap) untuk cedera kulit skrotum yang tidak dapat disembuhkan dengan tindakan pembedahan biasa.

  • Pengangkatan testis yang rusak melalui prosedur orchiectomy.

 

Pencegahan Cedera Testis

 

Cedera testis dapat dicegah dengan selalu berhati-hati saat beraktivitas, terutama ketika berolahraga. Cobalah melindungi testis dengan athletic cup bila sedang berolahraga, terutama saat sedang bermain sepak bola atau karate yang memiliki risiko terkena serangan lawan atau tertendang kaki lawan.

 

Meski tidak selalu berdampak serius, namun pada beberapa kondisi, cedera testis bisa menjadi cukup serius bahkan memerlukan penanganan dokter sesegera mungkin. Jadi, bila Anda mengalami cedera testis dan merasakan nyeri hebat yang tak kunjung membaik, jangan ragu untuk segera memeriksakannya ke Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals.


Anda dapat memanfaatkan fitur yang ada di aplikasi MySiloam untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan di Siloam Hospitals. Fitur tersebut telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter dan pembuatan janji temu dengan dokter terkait.

 

Aplikasi My Siloam (1)

message

ArticleDetail