Cervical Stenosis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Cervical Stenosis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

15 Mei 2025 5 menit waktu baca
cervical stenosis adalah

Cervical spinal stenosis atau cervical stenosis adalah salah satu jenis stenosis yang terjadi di sekitar tulang leher. Pada dasarnya, stenosis tulang belakang adalah kondisi ketika terdapat penyempitan ruang pada tulang belakang (intervertebral space) yang merupakan tempat keluarnya saraf tulang belakang. 

 

Mari kenali apa itu cervical stenosis selengkapnya melalui pembahasan berikut ini.

 

Apa itu Cervical Stenosis?

 

Stenosis servikal atau cervical stenosis adalah kondisi medis berupa penyempitan ruang tulang belakang (intervertebral space) yang berada di bagian leher. Pada intervertebral space terdapat sekumpulan saraf yang membentang dari pangkal otak hingga punggung bawah. Saraf-saraf ini memungkinkan seseorang untuk bergerak, mengendalikan sistem pencernaan, dan lain-lain.

 

Kondisi cervical stenosis ini dapat mengakibatkan terjepitnya saraf tulang belakang (radikulopati) hingga merusak sumsum tulang belakang (mielopati). Dalam beberapa kasus, cervical stenosis juga dapat menyebabkan kerusakan sumsum tulang belakang sekaligus terjepitnya saraf tulang belakang secara bersamaan (mieloradikulopati).

 

Penyebab Cervical Stenosis

 

Cervical stenosis biasanya disebabkan oleh proses penuaan tubuh manusia. Proses ini bisa membuat bantalan tulang belakang (diskus intervertebralis) yang ada di sekitar ruang tulang belakang melebar, sehingga dapat mempersempit ruangan tersebut.

 

Proses penuaan juga dapat menyebabkan terjadinya penonjolan cakram di antara tulang belakang serta pertumbuhan tulang berlebihan di area persendian tulang belakang, sehingga bisa memicu terjadinya penyempitan pada ruang tulang belakang bagian leher. 

 

Penebalan jaringan ligamen serta penumpukan jaringan lemak juga dapat memicu penyempitan intervertebral space. Cedera pada tulang belakang saat kecelakaan dapat membuat tulang belakang patah atau meradang. Adanya tumor yang tumbuh juga dapat memicu penyempitan ruangan tersebut.

 

Selain itu, stenosis tulang belakang juga dapat disebabkan oleh penyakit bawaan, namun hanya 9% kasus stenosis tulang belakang yang disebabkan oleh kondisi bawaan lahir. Di sisi lain, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya cervical stenosis adalah sebagai berikut.

 

  • Berusia di atas 50 tahun.

  • Menderita penyakit Paget, yaitu adanya gangguan pada proses regenerasi tulang yang dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mengalami kelainan bentuk.

  • Efek tindakan medis tertentu.

  • Menderita kondisi medis sistemik.

  • Menderita skoliosis.

  • Menderita rheumatoid arthritis.

 

Gejala Cervical Stenosis

 

Gejala cervical stenosis dapat hilang timbul ataupun terjadi secara terus-menerus, baik pada salah satu maupun kedua sisi tubuh. Gejala juga bisa bertahan lama dan terus berkembang jika tidak segera ditangani dengan tepat. Adapun beberapa gejala umum dari cervical stenosis adalah sebagai berikut.

 

  • Rasa nyeri, kaku, mati rasa, atau lemas pada leher, bahu, lengen, tangan, dan kaki.

  • Masalah keseimbangan dan koordinasi, seperti berjalan dengan tidak stabil atau sering tersandung.

  • Pada kasus yang berat dapat timbul gejala berupa gangguan berkemih dan buang air besar, hingga kelumpuhan.

 

Selain itu, gejala dari cervical stenosis juga dapat bervariasi sesuai dengan bagian tulang leher yang terdampak. Berikut penjelasannya.

 

  • Penyempitan pada tulang leher C6-7 (paling umum): Dapat menimbulkan gejala berupa wrist drop serta kesemutan pada jari telunjuk dan jari tengah.

  • Penyempitan pada tulang leher C5-6: Kesulitan untuk menekuk lengan bawah dan kesemutan pada ibu jari serta lengan bawah di sisi ibu jari.

  • Penyempitan pada tulang leher C7-T1: Kelemahan pada otot tangan dan kesemutan di jari manis serta jari kelingking.

  • Penyempitan pada tulang leher C4-5: Kelemahan dan kesemutan pada bahu.

 

Namun, perlu diketahui bahwa cervical stenosis tidak selalu menimbulkan gejala yang parah dan bersifat progresif. Sebagian kasus cervical stenosis mungkin hanya menimbulkan gejala ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan tidak menunjukkan gejala klinis tertentu.

 

Diagnosis Cervical Stenosis

 

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh dokter dalam mendiagnosis cervical stenosis adalah wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik guna mengetahui apakah pergerakan leher pasien dapat menimbulkan rasa nyeri, kebas, atau lemas.

 

Di samping itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis cervical stenosis adalah:

 

  • Foto rontgen.

  • CT scan.

  • MRI.

  • Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium darah untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi medis lain, seperti multiple sclerosis atau defisiensi vitamin B12.

 

Pengobatan Cervical Stenosis

 

Jika cervical stenosis tidak menimbulkan gejala klinis, pasien akan dianjurkan untuk mempertahankan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter. Selain itu, pasien juga disarankan untuk melakukan beberapa upaya, seperti:

 

  • Istirahat yang cukup.

  • Menggunakan bantal yang nyaman saat tidur.

  • Tidur dengan posisi yang nyaman.

  • Meletakkan kompres hangat untuk melemaskan otot yang tegang, lalu diikuti dengan kompres dingin guna mengurangi peradangan pada bagian yang nyeri.

  • Melakukan peregangan otot secara rutin.

  • Menghindari kebiasaan membunyikan leher.

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.

  • Rutin berolahraga.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Menyesuaikan tinggi kursi dan meja kerja agar layar komputer sejajar dengan mata.

  • Mempertahankan postur tubuh yang baik saat beraktivitas.

  • Tidak menggunakan tas selempang untuk membawa beban berat.

 

Sementara jika menimbulkan gejala klinis, dokter dapat menangani cervical stenosis dengan sejumlah tindakan medis berikut.

 

  • Fisioterapi.

  • Pemberian obat antiinflamasi, pelemas otot, antikejang, dan steroid. 

  • Pada kasus yang tergolong parah, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani tindakan operasi untuk mengangkat bantalan tulang belakang, tulang, atau jaringan yang menekan saraf maupun sumsum tulang belakang. Beberapa operasi yang umum dilakukan adalah laminectomy (prosedur pengangkatan lamina yang merupakan struktur di tulang belakang) dan prosedur dekompresi untuk mengangkat bagian ligamen yang menebal di tulang belakang, yang dilakukan dengan instrumen khusus seperti jarum.

 

Pencegahan Cervical Stenosis

 

Cervical stenosis adalah kondisi yang cenderung sulit untuk dicegah, terutama jika disebabkan oleh proses penuaan. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya cervical stenosis, mulai dari mengonsumsi makanan sehat hingga menghindari mengangkat beban berat. Berikut adalah uraian lengkapnya.

 

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, seperti buah dan sayuran.

  • Minum air putih yang cukup.

  • Istirahat yang cukup.

  • Menjaga postur tubuh yang baik saat duduk dan berdiri.

  • Melakukan peregangan otot dan sendi secara berkala.

  • Rutin berolahraga.

  • Mempertahankan berat badan ideal.

  • Menghindari mengangkat beban terlalu berat.

 

Jadi, cervical stenosis adalah kondisi yang perlu mendapatkan penanganan yang tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada cervical stenosis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter secara virtual melalui layanan Telekonsultasi.

 

Selain itu, Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda dalam mengakses layanan kesehatan, seperti memesan paket kesehatan, membuat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat, hingga check in mandiri. Mari nikmati kemudahan akses layanan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail