Diabetes Insipidus - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Diabetes Insipidus - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Mei 2025 6 menit waktu baca
diabetes insipidus

Diabetes insipidus adalah kondisi ketika tubuh memproduksi terlalu banyak urine. Kondisi ini bisa bersifat sementara ataupun kronis (seumur hidup). Diabetes insipidus bisa membuat penderitanya sering buang air kecil dan berpotensi mengalami dehidrasi sehingga memerlukan perhatian medis. Simak informasi mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatannya melalui ulasan di bawah ini.

Apa itu Diabetes Insipidus?

Diabetes insipidus (DI) adalah suatu kondisi ketika cairan di dalam tubuh tidak seimbang karena tubuh terlalu banyak memproduksi urine. Hal ini dapat menyebabkan seseorang dengan DI sering kali merasakan haus meskipun sudah minum banyak air.

 

Salah satu gejala diabetes insipidus adalah buang air kecil dalam jumlah besar beberapa kali sehari dan minum lebih banyak karena merasa selalu haus. Bila penderita tidak minum cukup air, ia berpotensi mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan.

 

Diabetes insipidus merupakan kelainan langka yang menyerang sekitar 1 dari 25.000 orang atau sekitar 0,004% dari populasi global. Meskipun DI merupakan kelainan endokrin yang jarang terjadi, kondisi ini dapat berdampak negatif pada kualitas hidup penderitanya apabila tidak ditangani dengan baik.

Perbedaan Diabetes Insipidus dan Diabetes Melitus

Perlu dipahami bahwa diabetes insipidus (DI) dan diabetes melitus (DM) adalah dua kondisi yang berbeda dan tidak berkaitan satu sama lain. Sebenarnya, keduanya sama-sama dapat menyebabkan penderitanya sering buang air kecil dan merasakan haus yang ekstrem. DM terjadi ketika kadar gula darah di dalam tubuh tinggi, namun insulin tidak dapat mengelolanya dengan baik.

 

Sedangkan, DI terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan hormon antidiuretik yang cukup sehingga ginjal tidak bisa bekerja dengan baik. Sebagai informasi, hormon antidiuretik atau vasopresin merupakan hormon yang membantu mengatur jumlah air dalam tubuh. Jika fungsi hormon ini terganggu, tubuh tidak bisa mempertahankan kadar air yang seimbang. Dibandingkan dengan diabetes melitus, DI adalah kondisi yang lebih jarang terjadi.

Jenis-Jenis Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus terbagi menjadi empat jenis, yaitu diabetes insipidus sentral, nefrogenik, dispogenik, dan gestasional. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • DI sentral: Jenis DI yang paling umum. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup hormon antidiuretik. Hormon tersebut diproduksi oleh hipotalamus dan disimpan atau dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis. Jika terdapat kerusakan pada salah satunya,  seseorang bisa terkena DI sentral.

  • DI nefrogenik: Kondisi ini terjadi ketika kelenjar hipofisis melepaskan hormon antidiuretik dalam jumlah cukup, tetapi ginjal tidak dapat merespons dengan benar sehingga tidak dapat menahan air.

  • DI dipsogenik/primary polydipsia: Pada kondisi ini, gangguan tidak terjadi pada produksi hormon diuretik, melainkan pada kerja organ hipotalamus. Diabetes insipidus dipsogenik disebabkan oleh gangguan pada pengiriman sinyal rasa haus dari otak. Kondisi ini menyebabkan penderitanya merasa haus dan selalu ingin minum lebih banyak cairan, melebihi dari kebutuhan harian. Itulah sebabnya, penderita kondisi ini juga mengalami gejala buang air kecil lebih sering.

  • DI gestasional: Jenis DI cukup jarang terjadi dan bersifat sementara, yaitu selama kehamilan. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menyebabkan terlalu banyak enzim yang memecah hormon antidiuretik, yaitu vasopressinase. Kadar vasopresinase mencapai titik tertingginya pada akhir trimester kedua atau awal trimester ketiga. DI gestasional biasanya akan menghilang dengan sendirinya setelah kehamilan berakhir. 

Penyebab Diabetes Insipidus

Secara umum, diabetes insipidus terjadi akibat adanya masalah pada cara tubuh memproduksi atau menggunakan hormon antidiuretik yang membantu ginjal menyeimbangkan jumlah cairan di dalam tubuh. Namun, penyebab pastinya bisa bervariasi, tergantung dari jenisnya. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Penyebab diabetes insipidus sentral:

 

  • Kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar hipofisis akibat operasi atau cedera kepala (terutama fraktur tengkorak basal).

  • Peradangan akibat sarkoidosis atau tuberkulosis.

  • Tumor yang memengaruhi hipotalamus atau kelenjar hipofisis.

  • Reaksi autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel sehat yang menghasilkan hormon antidiuretik.

  • Mutasi (perubahan) gen pada kromosom 20.

 

Penyebab diabetes insipidus nefrogenik:

 

  • Obat-obatan tertentu, seperti lithium dan tetrasiklin.

  • Kadar kalium yang rendah (hipokalemia) atau tinggi (hiperkalemia) dalam darah.

  • Saluran kemih yang tersumbat.

  • Mutasi gen yang diwariskan. DI nefrogenik yang diturunkan dapat disebabkan oleh mutasi pada sedikitnya dua gen. Sekitar 90% DI nefrogenik herediter disebabkan oleh mutasi pada AVPR2 (Arginine Vasopressin Receptor 2). Sedangkan, 10% sisanya sebagian besar terjadi akibat mutasi pada gen AQP2 (Aquaporin 2).

  • Penyakit ginjal kronis (jarang terjadi).

 

Penyebab diabetes insipidus dipsogenik:

 

  • Kerusakan pada hipotalamus akibat operasi, infeksi, peradangan, tumor, atau cedera kepala.

  • Kondisi kesehatan mental tertentu, seperti skizofrenia atau OCD.

 

Penyebab diabetes insipidus gestasional:

 

  • Plasenta memproduksi terlalu banyak enzim tertentu yang memecah hormon antidiuretik.

  • Ibu mengandung lebih dari satu bayi.

Gejala Diabetes Insipidus

Gejala DI pada orang dewasa dan anak-anak bisa berbeda. Pada orang dewasa, diabetes insipidus biasanya menimbulkan sejumlah gejala sebagai berikut:

 

  • Sering merasa sangat haus dan biasanya lebih memilih minum air dingin.

  • Mengeluarkan urine berwarna pucat dalam jumlah besar.

  • Sering bangun untuk buang air kecil dan minum air pada malam hari.

  • Orang dewasa sehat biasanya buang air kecil sekitar 1–3 liter per hari. Sedangkan, orang dengan DI bisa menghasilkan 19 liter urine setiap harinya.

 

Sementara itu, beberapa gejala diabetes insipidus yang menyerang bayi atau anak-anak adalah sebagai berikut:

 

  • Sering merasa sangat haus dan lebih memilih minum air dingin.

  • Pada bayi, frekuensi buang air kecil sangat sering, sehingga popoknya sering kali terasa berat dan basah.

  • Pada anak-anak mungkin akan lebih sering mengompol.

  • Pertumbuhan yang buruk.

  • Penurunan berat badan.

  • Sakit kepala.

  • Muntah.

  • Iritabilitas.

  • Demam.

  • Sembelit.

  • Masalah tidur.

  • Masalah penglihatan.

Diagnosis Diabetes Insipidus

Untuk mendiagnosis diabetes insipidus, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan medis pasien beserta keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriskaan fisik menyeluruh pada pasien. Kemudian, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan untuk mengenyampingkan kondisi lain dan mengonfirmasi diagnosis DI. Pemeriksaan tersebut meliputi:

 

  • Water deprivation test. Pada tes ini, pasien akan diminta untuk berhenti minum cairan selama beberapa jam. Kemudian, dokter akan mengukur perubahan berat badan, jumlah urine yang dihasilkan, konsentrasi urine, serta jumlah hormon antidiuretik dalam darah. Pasien juga akan diberikan ADH sintetis. Hasil pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah tubuh memproduksi hormon antidiuretik yang cukup serta menilai respons ginjal. 

  • Tes urine untuk menilai urine rutin, konsistensi dan osmolalitas urine, serta melihat apakah terdapat gula (glukosa) dalam urine.

  • Tes darah untuk mengukur kadar elektrolit, pemeriksaan hormon. 

  • Pemeriksaan pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mencari kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari yang dapat menyebabkan diabetes insipidus.

Pengobatan Diabetes Insipidus

Pengobatan diabetes insipidus akan disesuaikan dengan jenisnya, dan penanganannya sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengobatan difokuskan pada penyebab awal gangguan, sehingga menentukan apakah gejala dapat dikurangi atau diobati sepenuhnya. Baik DI sentral maupun nefrogenik, terdapat beberapa metode pengobatan yang dapat membantu menjaga keseimbangan cairan. Mengonsumsi air dalam jumlah cukup sangat penting untuk mencegah dehidrasi yang berlebihan.

 

Pada DI sentral, dokter akan memberikan obat yang bekerja seperti hormon antidiuretik sintetis yang dikenal sebagai desmopresin atau DDAVP. Obat ini bisa diberikan melalui suntikan, pil, atau semprotan hidung. Pada DI dipsogenik, pengobatan difokuskan pada terapi perilaku yang ditujukan untuk mengatur asupan air dan/atau pemberian terapi farmasi antipsikotik.

 

Perlu dipahami bahwa penyebab dan gejala terkait diabetes insipidus di atas tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama yang mewakili kondisi tersebut. Bukan tidak mungkin, beberapa gejala yang disebutkan di atas juga terjadi pada kondisi medis lain, sehingga penting untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang tepat.

 

Setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Diabetes Insipidus. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Diabetes Insipidus. Diakses pada 2024 | National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail