Kesehatan Tubuh
Displasia Fibromuskular: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Displasia fibromuskular adalah gangguan pada pembuluh darah yang disebabkan karena pertumbuhan abnormal sel-sel pada dinding arteri. Biasanya, kondisi ini terjadi pada pembuluh darah yang menuju ginjal dan otak, namun tidak menutup kemungkinan memengaruhi pembuluh darah di organ lain, seperti kaki, area perut, dan jantung. Untuk memahami displasia fibromuskular lebih lanjut, mari simak pembahasan di bawah ini.
Apa itu Displasia Fibromuskular?
Displasia fibromuskular adalah kelainan langka pada pembuluh darah ketika arteri yang seharusnya terdiri dari sel-sel yang fleksibel digantikan dengan sel-sel yang lebih banyak mengandung jaringan ikat. Sel-sel berserat ini membuat sel-sel arteri lebih kaku dan kurang elastis dibandingkan dengan sel-sel arteri yang normal.
Pada akhirnya, arteri yang terdampak tidak dapat mengembang sempurna saat darah mengalir melaluinya yang berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi. Selain itu, kondisi displasia fibromuskular juga membuat dinding arteri menjadi lebih lemah di beberapa bagian. Akibatnya, tekanan darah yang mengalir melalui arteri bisa menyebabkan bagian yang lemah tersebut menggelembung atau menonjol keluar (aneurisma).
Perlu diketahui, displasia fibromuskular berbeda dengan gangguan pada pembuluh darah lainnya karena tidak disebabkan oleh peradangan atau penumpukan plak. Umumnya, displasia fibromuskular ditemukan pada orang dewasa berusia 25 hingga 50 tahun. Di samping itu, wanita lebih rentan terkena displasia fibromuskular daripada pria. Penyakit ini juga diketahui dapat diturunkan secara genetik di dalam keluarga pada sebagian penderita.
Meskipun kondisi ini sering kali terjadi di arteri renalis yang mengarah ke ginjal serta arteri karotis dan vertebralis yang mengarah ke otak, displasia fibromuskular bisa menyerang pembuluh darah di anggota tubuh mana pun. Displasia fibromuskular juga dapat terjadi di lebih dari satu tempat.
Penyebab Displasia Fibromuskular
Hingga saat ini, masih belum ditemukan penyebab pasti displasia fibromuskular. Namun, beberapa kemungkinan penyebab yang dihipotesiskan adalah faktor genetik dan berkaitan dengan hormon. Meskipun penderitanya lebih banyak wanita, faktor hormon yang dihipotesiskan masih belum terbukti.
Pasalnya, belum cukup studi ilmiah yang membuktikan bahwa kondisi displasia fibromuskular memiliki kaitan dengan penggunaan kontrasepsi, terapi pengganti hormon, dan juga kehamilan. Maka dari itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengapa wanita lebih banyak terkena penyakit ini.
Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada orang berusia 50 tahun meskipun bisa menyerang orang-orang dari berbagai kelompok usia. Selain itu, orang yang merokok cenderung lebih berisiko terkena displasia fibromuskular.
Gejala Displasia Fibromuskular
Displasia fibromuskular umumnya tidak memunculkan gejala apa pun. Gejala yang muncul biasanya bergantung pada lokasi pembuluh darah yang terdampak. Adapun beberapa gejala yang mungkin muncul karena displasia fibromuskular adalah:
-
Telinga berdenging (tinitus) atau berdenyut.
-
Pusing atau vertigo.
-
Sakit kepala atau migrain.
-
Nyeri leher secara tiba-tiba.
-
Gangguan penglihatan.
-
Mati rasa di wajah.
-
Tekanan darah tinggi (hipertensi).
-
Stroke atau serangan iskemik transien.
Diagnosis Displasia Fibromuskular
Dokter akan mendiagnosis displasia fibromuskular dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu untuk mengetahui riwayat medis pasien dan anggota keluarga. Kemudian, dokter akan mendengarkan aliran darah yang mengalir melalui arteri leher dan perut menggunakan stetoskop. Pada beberapa kasus, suara bruit mungkin ditemukan.
Apabila dokter menduga seseorang menderita displasia fibromuskular, tes-tes berikut akan direkomendasikan meskipun pasien tidak menunjukkan gejala sama sekali:
-
Tes darah.
-
Angiografi.
-
Ultrasonografi (USG) dupleks.
-
CT scan angiografi.
-
MRI angiografi.
-
Digital subtraction angiography (DSA)
Pengobatan Displasia Fibromuskular
Dokter akan menyesuaikan penanganan displasia fibromuskular dengan gejala, area penyempitan pembuluh darah, dan kondisi medis lain yang diderita pasien. Jika kondisinya tidak parah, pasien perlu melakukan regular checkup. Selain itu, dokter bisa merekomendasikan pemberian obat-obatan dan prosedur pembedahan untuk mencegah terjadinya komplikasi atau memperbaiki pembuluh darah bila diperlukan.
Namun, perlu diketahui bahwa belum ada obat yang dapat menyembuhkan displasia fibromuskular. Obat-obatan yang diresepkan dokter, seperti antikoagulan, hanya diberikan untuk mengurangi risiko terbentuknya sumbatan yang dapat menyebabkan aliran darah ke organ vital berhenti total sehingga berisiko menyebabkan kondisi yang serius. Beberapa pilihan pengobatan lainnya adalah percutaneous transluminal angioplasty (PTA) dan pembedahan revaskularisasi.
Penting untuk diingat bahwa penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili displasia fibromuskular. Artinya, penyebab serta gejala tersebut juga dapat mengindikasikan kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, bagi Anda yang mengeluhkan gejala serupa, konsultasikan kondisi tersebut ke Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan secara tepat.
Dokter akan menentukan tahapan diagnosis dan merekomendasikan perawatan sesuai dengan kondisi setiap pasien. Penyesuaian terhadap langkah pemeriksaan dan penanganan juga akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga mungkin saja terdapat perbedaan pada prosedurnya di setiap rumah sakit.
Untuk memudahkan konsultasi dengan dokter, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi ini dapat membantu Anda untuk mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan gunakan fitur-fiturnya untuk membantu memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Mayo Clinic. Fibromuscular Dysplasia. Diakses pada 2024 | National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Fibromuscular Dysplasia. Diakses pada 2024 | Johns Hopkins Medicine. Fibromuscular Dysplasia (FMD). Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Progesterone Receptor Expression In Fibromuscular Dysplasia: A Report Of Two Unusual Cases. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC
Kardiologi (Jantung)
Subspesialis Kardiologi Intervensi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Premium Kesehatan Jantung
Skrining Jantung
13 Service/Item
Rp5.400.000
TERPOPULER
Skrining Jantung Advance
Skrining Jantung
9 Service/Item
Rp2.950.000
TERPOPULER
Jantung Sehat
Skrining Jantung
6 Service/Item
Rp999.000
TERPOPULER
Jantung Prima
Skrining Jantung
7 Service/Item
Rp1.399.000
TERPOPULER
Jantung Ultima
Skrining Jantung
8 Service/Item
Rp1.900.000






