Mengenal Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS)
Kesehatan Tubuh

Mengenal Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS)

17 Maret 2026 6 menit waktu baca
Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery (EETS)

Beberapa kondisi seperti tumor kelenjar hipofisis, kista pituitari, atau tumor dasar tengkorak bisa menyebabkan gangguan hormon, sakit kepala, dan masalah penglihatan. Untuk mengatasinya, endoscopic endonasal transsphenoidal surgery (EETS) hadir sebagai prosedur bedah minimal invasif yang memungkinkan pengangkatan tumor melalui hidung menggunakan endoskop. 

 

Teknik ini memberikan pandangan yang jelas pada area operasi, memungkinkan pengangkatan tumor dengan presisi tinggi, meminimalkan risiko kerusakan jaringan di sekitar, dan mempercepat pemulihan pasien dibandingkan metode bedah konvensional. Mari simak penjelasan lebih lengkapnya dalam artikel ini.

 

Apa Itu Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery?

 

Endoscopic endonasal transsphenoidal surgery atau EETS adalah prosedur bedah minimal invasif untuk mengangkat tumor hipofisis dan lesi di sekitarnya melalui jalur rongga hidung. Kelenjar hipofisis terletak di dasar otak dan berperan sebagai hormon penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti hormon pertumbuhan, hormon tiroid, hormon kortisol, hormon reproduksi, dan prolaktin.

 

Umumnya, tindakan ini menggunakan endoskop, yaitu tabung tipis yang dilengkapi kamera dan sumber cahaya, yang dimasukkan melalui lubang hidung sehingga dokter dapat melihat area operasi secara jelas di layar monitor. Dengan bantuan instrumen khusus, tumor diangkat tanpa perlu sayatan di wajah atau pembukaan tulang tengkorak yang luas.

 

EETS memiliki keunggulan seperti dapat menampilkan anatomi yang lebih dekat dan menyeluruh dan kerusakan jaringan sekitar yang lebih minimal. Sehingga proses pemulihan dapat diusahakan lebih cepat dan lebih nyaman bagi pasien dibandingkan dengan teknik konvensional berbasis mikroskop yang lebih invasif.

 

Tujuan Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

 

EETS ditujukan untuk menangani tumor dan kelainan di area hipofisis dengan pendekatan yang terarah dan aman. Selain mengangkat jaringan abnormal, prosedur ini bertujuan menjaga struktur penting di sekitar dasar otak agar tetap terlindungi serta membantu mengembalikan keseimbangan fungsi tubuh yang terganggu akibat keberadaan tumor. Adapun beberapa tujuan tindakan ini mencakup:

 

  • Mengangkat tumor sebagian atau secara menyeluruh sesuai kondisi klinis pasien.

  • Mengurangi tekanan pada saraf optik guna membantu memperbaiki gangguan penglihatan.

  • Mengendalikan produksi hormon yang berlebihan atau tidak teratur.

  • Mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk memastikan jenis tumor dan menentukan rencana terapi.

  • Mencegah pertumbuhan tumor lebih lanjut yang berisiko merusak jaringan sekitar.

  • Menangani keadaan darurat, seperti pituitary apoplexy (perdarahan atau infark mendadak pada tumor hipofisis yang menyebabkan sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan akut).



Kondisi yang Bisa Ditangani dengan Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

 

Endoscopic endonasal transsphenoidal surgery digunakan untuk mengangkat berbagai tumor dan lesi di area sekitar kelenjar hipofisis dan dasar tengkorak, termasuk area yang berdekatan dengan saraf optik dan struktur otak di sekitarnya.

 

Beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan EETS antara lain:

 

  • Adenoma hipofisis, yaitu tumor jinak yang berasal dari kelenjar hipofisis. Tumor ini dapat menghasilkan hormon berlebih atau tidak menghasilkan hormon, tetapi tetap dapat menimbulkan gejala karena menekan jaringan di sekitarnya. 

  • Craniopharyngioma, yaitu tumor jinak di sekitar tangkai hipofisis. Tumor ini dapat menyebabkan gangguan hormon dan gangguan penglihatan.

  • Kista Rathke, yaitu kista berisi cairan yang terbentuk dari sisa perkembangan embrional di kelenjar hipofisis. Bila membesar, kista dapat menekan jaringan sekitar dan menimbulkan gejala.

  • Meningioma parasellar, yaitu tumor yang berasal dari selaput otak di area dasar tengkorak (meningen).

  • Chordoma, yaitu tumor tulang ganas yang muncul di dasar tengkorak.

Pada kondisi tertentu seperti akromegali atau penyakit Cushing akibat tumor hipofisis, tindakan operasi dilakukan untuk menghilangkan tumor yang menjadi sumber produksi hormon berlebih sehingga kadar hormon tubuh dapat kembali mendekati normal.

 

Meski demikian, tidak semua kasus memerlukan tindakan operasi. Jika ukuran atau penyebaran tumor melewati batas aman pendekatan transsphenoidal, dokter dapat mempertimbangkan metode bedah lain yang memberikan akses lebih luas ke area yang terdampak.

 

Prosedur Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

 

Prosedur Endoscopic endonasal transsphenoidal surgery dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari persiapan sebelum operasi hingga pemantauan setelah tindakan. Seluruh prosesnya dapat melibatkan kerja sama dokter spesialis bedah saraf dan dokter THT untuk memastikan akses dan pengangkatan tumor berlangsung aman. Berikut tahapannya:

 

A. Sebelum Tindakan

 

Sebelum tindakan, umumnya pasien akan menjalani evaluasi menyeluruh oleh tim dokter. Bila terdapat gangguan penglihatan, pemeriksaan mata juga dilakukan untuk menilai kondisi saraf optik. Beberapa langkah persiapannya meliputi:

 

  • Pemeriksaan radiologi, seperti MRI dengan kontras atau CT scan untuk menilai ukuran tumor, karakteristiknya, serta hubungannya dengan struktur penting di sekitarnya seperti saraf optik dan pembuluh darah. Selain itu, pencitraan dilakukan untuk mengevaluasi struktur tulang pada rongga hidung dan dasar tengkorak guna membantu perencanaan jalur operasi.

  • Pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, pemeriksaan kadar hormon, rekam jantung.

  • Penyesuaian atau penghentian sementara obat tertentu, terutama obat pengencer darah. 

  • Puasa sebelum operasi sesuai dengan instruksi dokter.

 

B. Saat Tindakan

 

Tindakan umumnya dilakukan dengan anestesi umum (bius total). Langkah utama dalam prosedur EETS meliputi:

 

  • Akses melalui hidung: Dokter memasukkan endoskop melalui salah satu lubang hidung untuk mencapai area sinus sfenoid di dasar tengkorak.

  • Membuka akses ke area tumor: Tulang tipis di dasar tengkorak dibuka secara hati-hati agar dokter dapat melihat area kelenjar hipofisis dengan bantuan kamera endoskop.

  • Pengangkatan tumor: Tumor diangkat secara hati-hati menggunakan instrumen bedah khusus dengan panduan visual dari kamera endoskop. 

 

C. Sesudah Tindakan

 

Setelah tindakan EETS, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU) untuk pemantauan keadaan umum pasien. Beberapa keluhan yang mungkin akan muncul pascatindakan antara lain sakit kepala ringan, hidung tersumbat, dan mual, yang umumnya dapat dikendalikan dengan obat.

 

Risiko Komplikasi Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

 

Endoscopic endonasal transsphenoidal surgery termasuk prosedur yang umumnya aman dan memiliki risiko rendah bagi kebanyakan pasien. Meski demikian, seperti tindakan medis lainnya, beberapa kemungkinan risiko komplikasi tetap perlu diketahui. Dengan pemantauan yang tepat dan penanganan cepat, sebagian besar risiko ini dapat diminimalkan dan bersifat sementara.

 

Beberapa risiko yang dapat terjadi meliputi:

 

  • Kebocoran cairan serebrospinal (CSF rhinorrhea).

  • Gangguan hormon sementara.

  • Perdarahan.

  • Infeksi ringan.

  • Gangguan penglihatan sementara.

  • Masalah pada hidung dan sinus.

 

Larangan Setelah Prosedur Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery

 

Setelah menjalani endoscopic endonasal transsphenoidal surgery, pasien perlu mematuhi beberapa larangan agar proses penyembuhan berjalan lancar dan mengurangi risiko komplikasi. Sebagian besar pasien bisa kembali ke aktivitas normal dalam enam minggu, tetapi harus dikonsultasikan dengan dokter untuk waktu pastinya.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama masa pemulihan setelah EETS antara lain:

 

  • Hindari mengangkat benda berat lebih dari 4–5 kilogram atau melakukan olahraga berat.

  • Jangan meniup hidung terlalu keras atau memasukkan jari ke dalam rongga hidung. Jika ingin batuk atau bersin, lakukan dengan mulut terbuka.

  • Hindari mengejan, terutama saat buang air besar.

  • Jangan membungkuk terlalu sering untuk mencegah peningkatan tekanan di kepala.

  • Gunakan semprotan hidung atau bilasan saline sesuai petunjuk dokter untuk menjaga kebersihan hidung.

 

Demikian pembahasan mengenai endoscopic endonasal transsphenoidal surgery (EETS). Perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun saran medis langsung dari dokter.

 

Jika Anda memiliki keluhan, seperti gangguan hormon, penglihatan, atau tumor kelenjar hipofisis yang memerlukan penanganan, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals terdekat. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh melalui pemeriksaan fisik, tes laboratorium, pencitraan, serta pemeriksaan endokrin untuk memastikan diagnosis dan merencanakan terapi yang sesuai.

 

Perlu diketahui bahwa tahapan pemeriksaan dan penanganan EETS dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas, jenis dan ukuran tumor, usia, serta kondisi klinis pasien. Meski demikian, tenaga medis akan memastikan proses perawatan dilakukan secara aman, tepat, dan terarah.

 

Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Mayo Clinic. Transsphenoidal surgery. Diakses pada 2026 | Johns Hopkins Medicine. Endoscopic Pituitary Surgery. Diakses pada 2026 | Frontiers in Oncology. Endoscopic, Endonasal Transsphenoidal Surgery for Tumors of the Sellar and Suprasellar Region: A Monocentric Historical Cohort Study of 369 Patients. Diakses pada 2026 | MAYFIELD Brain & Spine. Endoscopic Pituitary Surgery (Transsphenoidal). Diakses pada 2026 | UFHealth. Transsphenoidal surgery. Diakses pada 2026 | PubMed Central. Endoscopic Endonasal Trans-Sphenoidal Minimally Invasive Pituitary Surgery with Image Guided Navigation System (Igns): Learning Experience of Ent Surgeon. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-donny-argie-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Donny Argie, SpBS, NVas, FINPS, FICS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ivanmorl-ruspanah-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ivanmorl Ruspanah, SpBS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Ambon

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-bagus-sasongko-spbs

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail