Waspadai Hallux Rigidus, Jangan Abaikan Ibu Jari yang Terasa Kaku
Kesehatan Tubuh

Waspadai Hallux Rigidus, Jangan Abaikan Ibu Jari yang Terasa Kaku

19 April 2025 4 menit waktu baca
mengenal Hallux rigidus

 

Hallux Rigidus adalah kondisi peradangan yang memengaruhi sendi jempol kaki sehingga menyebabkan kekakuan, nyeri, dan keterbatasan gerakan. Gangguan ini sebaiknya tidak diabaikan karena dapat menghambat aktivitas sehari-hari, utamanya saat sedang berjalan atau berlari. Ketahui penyebab, gejala, hingga pengobatan Hallux Rigidus melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Hallux Rigidus?

 

Hallux Rigidus adalah jenis osteoarthritis yang terjadi pada jempol kaki. Osteoarthritis adalah peradangan kronis di sendi akibat kerusakan pada tulang rawan. Hallux mengacu pada jempol kaki, sedangkan Rigidus artinya jari kaki kaku dan tidak bisa digerakkan.

 

Artritis adalah istilah umum untuk sekelompok lebih dari 100 penyakit. Kondisi ini menyebabkan dokter terkadang menyebut Hallux Rigidus sebagai “artritis jempol kaki”. Secara spesifik, kondisi ini memengaruhi sendi jempol kaki, yaitu sendi metatarsophalangeal (MTP). Sendi MTP adalah area pangkal jempol kaki yang terhubung dengan kaki. Pada kondisi ini, tulang rawan di sendi utama jempol kaki rusak atau terkikis.

 

Penyebab Hallux Rigidus

 

Sebagian besar Hallux Rigidus berkembang secara alami tanpa penyebab yang jelas. Seiring bertambahnya usia, keausan (wear and tear) pada sendi dapat bertambah dan merusak tulang rawan yang melindunginya. Keausan ini biasanya menyebabkan Hallux Rigidus (dan bentuk osteoartritis lainnya). Penyebab umum Hallux Rigidus adalah gangguan fungsi (biomekanik) dan kelainan struktural kaki yang dapat menyebabkan osteoartritis pada sendi jempol kaki.

 

Di samping itu, Hallux Rigidus mungkin juga berkembang karena sendi jempol kaki mengalami banyak tekanan saat berjalan. Adapun beberapa penyebab lain Hallux Rigidus adalah sebagai berikut:

 

  • Terlalu sering menggunakan sendi MTP, seperti saat berolahraga, menjalankan hobi, atau bekerja.

  • Jari kaki terbentur.

  • Jari kaki terkilir.

  • Memiliki tulang yang lebih panjang dari normalnya pada kaki dan jari kaki.

 

Sementara itu, beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko Hallux Rigidus adalah sebagai berikut:

 

  • Berusia lebih dari 50 tahun.

  • Berjenis kelamin wanita.

  • Orang yang berdiri sepanjang hari saat bekerja.

  • Atlet.

  • Menderita kondisi tertentu, seperti:

 

Gejala Hallux Rigidus

 

Secara umum, beberapa gejala Hallux Rigidus adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri di dalam atau di sekitar jempol kaki. Biasanya, nyeri terasa seperti di bagian atas jempol kaki atau di dalam jempol kaki.

  • Kaku pada jempol kaki.

  • Pembengkakan di sekitar sendi jempol kaki.

  • Kehilangan rentang gerak di jempol kaki.

  • Benjolan yang terlihat seperti bunion atau kapalan di atas jempol kaki.

 

Beberapa aktivitas tertentu juga dapat memperburuk penyakit, di antaranya seperti:

 

  • Berdiri atau bergerak.

  • Cuaca dingin atau lembap.

  • Mengenakan sepatu yang terlalu ketat atau tidak pas di kaki.

 

Diagnosis Hallux Rigidus

 

Dalam proses menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk memeriksa rentang gerak sendi jari kaki dan seberapa jauh pasien bisa menekuk jari kaki ke atas dan ke bawah.

 

Guna mengonfirmasi diagnosis Hallux Rigidus, dokter mungkin akan meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang menggunakan sinar-X (rontgen) kaki untuk mengevaluasi tulang kaki. Dokter juga dapat menentukan tingkat keparahan Hallux Rigidus berdasarkan seberapa besar pengaruhnya terhadap kemampuan pasien dalam menggerakkan jempol kaki. Tingkatan Hallux Rigidus adalah sebagai berikut:

 

  • Tingkat 0: Jari kaki yang terdampak bisa bergerak 10–20% lebih sedikit daripada jempol kaki yang lain.

  • Tingkat 1: 20–50% lebih sedikit gerakan pada jempol kaki yang terkena.

  • Tingkat 2: 50–75% lebih sedikit gerakan.

  • Tingkat 3: 75–100% lebih sedikit gerakan.

  • Tingkat 4: 75–100% pergerakan berkurang disertai rasa nyeri yang lebih hebat saat menggerakkan jempol kaki yang terdampak.

 

Pengobatan Hallux Rigidus

 

Perlu diketahui bahwa Hallux Rigidus tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, gejalanya bisa dikendalikan melalui beberapa langkah penanganan, seperti:

 

  • Mengganti alas kaki yang lebih pas: Mengenakan sepatu atau sandal yang cukup untuk jari guna mengurangi tekanan pada sendi MTP. Hindari mengenakan high heels atau sepatu yang menekan jari-jari kaki. 

  • Membatasi gerakan jari kaki: Dokter mungkin merekomendasikan pasien mengenakan bantalan yang dapat dimasukkan ke dalam sepatu untuk menyangga jempol kaki dan membatasi gerakannya. Pasien juga disarankan menghindari aktivitas yang dapat membuat jari kaki tegang, seperti berlari.

  • Obat pereda nyeri: Dokter dapat meresepkan obat antinyeri untuk mengurangi nyeri yang dialami oleh pasien dan meredakan pembengkakan. Konsumsi obat harus sesuai dengan anjuran atau resep dokter.

  • Mengompres dingin jari kaki yang terdampak: Langkah penanganan ini dapat membantu meredakan gejala. Caranya, bungkus es dengan handuk atau kain tipis agar tidak langsung mengenai kulit. Konsultasikan dengan dokter mengenai frekuensi yang tepat untuk mengompres dingin jari kaki.

  • Kortikosteroid: Dokter juga dapat meresepkan obat kortikosteroid untuk pasien jika diperlukan untuk mengurangi peradangan.

  • Merendam kaki: Pasien bisa mencoba merendam kaki di air hangat dan air dingin secara bergantian masing-masing selama 30 detik untuk mengurangi peradangan.

  • Latihan kaki: Dokter atau ahli terapi fisik dapat merekomendasikan latihan atau peregangan yang tepat untuk pasien guna mengurangi gejala.

  • Bidai atau penyangga: Pada beberapa kasus, pasien mungkin memerlukan bantuan bidai atau penyangga untuk jari kaki yang terdampak.

 

Sebagai informasi, gejala atau tanda yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi Hallux Rigidus. Dengan kata lain, gejala atau tanda tersebut bisa serupa dengan gejala atau tanda dari kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Ortopedi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat.

 

Perlu diketahui bahwa informasi dalam artikel ini hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan diagnosis ataupun saran penanganan dari dokter. Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin 

berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.


Untuk membuat janji temu dengan dokter spesialis ortopedi, Anda bisa memanfaatkan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat melihat riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail