Kenali Leukemia Mielositik Kronik, Gejala Lemas dan Demam yang Harus Diwaspadai!
Kesehatan Tubuh

Kenali Leukemia Mielositik Kronik, Gejala Lemas dan Demam yang Harus Diwaspadai!

28 Mei 2025 4 menit waktu baca
leukemia mielositik kronik

 

Leukemia mielositik kronik atau chronic myeloid leukemia (CML) adalah kanker darah yang berasal dari sel mieloid pembentuk darah atau sel punca dalam sumsum tulang. Kondisi ini dikenal juga sebagai leukemia granulositik kronik atau leukemia mielositik kronik. 

 

Meski tergolong kanker yang merupakan penyakit berbahaya, CML dapat dikelola melalui berbagai pilihan terapi. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai CML di bawah ini.

 

Apa itu Leukemia Mielositik Kronik?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, leukemia mielositik kronik atau chronic myeloid leukemia (CML) adalah jenis kanker darah (leukemia) yang bermula dari sel mieloid yang membentuk darah atau sel punca di sumsum tulang. Pada CML, sumsum tulang akan menghasilkan granulosit (sejenis sel darah putih) dalam jumlah yang abnormal atau disebut juga sebagai sel-sel blast.

 

Ketika jumlah sel-sel abnormal menggantikan sel-sel sehat, hal tersebut dapat menyebabkan infeksi, anemia, dan perdarahan. Selain itu, sel-sel abnormal tersebut juga bisa menyebar ke luar darah dan menuju bagian tubuh lainnya. Kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak dan kebanyakan menyerang paruh baya.

 

Penyebab Leukemia Mielositik Kronik

 

Sebagian besar penderita leukemia mielositik kronik memiliki mutasi genetik yang disebut kromosom Philadelphia. Disebut demikian karena mutasi ini ditemukan dalam sebuah penelitian di Philadelphia. Normalnya, orang memiliki 23 pasang kromosom di setiap sel dan masing-masing kromosom memiliki deoxyribonucleic acid (DNA).

 

Pada kondisi leukemia mielositik kronik, DNA dari satu kromosom berpindah ke kromosom lain dan bergabung dengan sebagian DNA lainnya sehingga menciptakan gen baru yang disebut BCR-ABL. Gen inilah yang menyebabkan sumsum tulang menghasilkan sel darah putih yang belum matang (sel blast) tanpa terkendali.

 

Akhirnya, sel blast terakumulasi di sumsum tulang dan menyebabkan sumsum tulang sulit memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dalam kadar normal. Sayangnya, belum diketahui secara pasti penyebab mutasi tersebut. Namun, beberapa faktor risikonya adalah:

 

  • Usia. Risiko CML akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

  • Jenis kelamin. CML lebih banyak ditemukan pada pria.

  • Paparan radiasi dosis tinggi.

 

Gejala Leukemia Mielositik Kronik

 

Leukemia mielositik kronik tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas. Apabila ada, gejala CML mulanya bersifat ringan dan semakin memburuk seiring waktu. Adapun gejala umum leukemia mielositik kronik adalah sebagai berikut:

 

  • Tubuh mudah lelah dan lemah.

  • Nyeri tulang.

  • Demam berkepanjangan.

  • Keringat malam.

  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

  • Pembengkakan perut atau rasa tidak nyaman di bagian kiri atas perut, tepatnya di area limpa.

  • Mudah merasa kenyang meski belum makan banyak.

  • Penglihatan kabur akibat perdarahan di bagian belakang mata.

 

Diagnosis Leukemia Mielositik Kronik

 

Proses diagnosis leukemia mielositik kronik dimulai dengan anamnesis atau wawancara medis mengenai gejala dan riwayat medis pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, suhu tubuh), meraba area kelenjar getah bening, limpa, dan perut untuk melihat apakah ada pembengkakan, serta pemeriksaan fisik secara menyeluruh. 

 

Adapun pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, di antaranya:

 

  • Tes darah untuk memeriksa jumlah jenis sel darah serta mengukur fungsi organ yang berkaitan.

  • Biopsi sumsum tulang dan aspirasi sumsum tulang untuk mengambil sampel cairan dari tulang pinggul, kemudian diuji di laboratorium.

  • Tes untuk mencari kromosom Philadelphia. Tes ini dapat mencakup fluorescence in situ hybridization analysis (FISH) dan polymerase chain reaction (PCR).

 

Dokter juga melakukan pemeriksaan untuk menentukan fase leukemia mielositik kronik. Adapun fase CML terdiri dari:

 

  1. Chronic: Fase paling awal dan umumnya memiliki respons positif terhadap pengobatan.

  2. Accelerated: Fase transisi ketika penyakit menjadi lebih agresif.

  3. Blast: Fase ketika penyakit sudah parah dan agresif sehingga bisa mengancam jiwa.

 

Pengobatan Leukemia Mielositik Kronik

 

Pengobatan paling umum untuk CML fase kronis adalah memberikan tyrosine kinase inhibitors (TKIs). TKI adalah jenis terapi target yang menargetkan enzim BCR-ABL abnormal yang menyebabkan sel darah putih abnormal membelah dan berkembang biak secara tidak terkendali. TKI akan memblokir enzim tersebut sehingga dapat mengendalikan produksi sel darah putih.

 

TKI diketahui efektif mengatasi CML hingga menjadi remisi (tidak adanya gejala dan tidak ditemukannya tanda-tanda penyakit). Beberapa obat yang termasuk dalam jenis TKI adalah sebagai berikut:

 

  • Dasatinib.

  • Imatinib.

  • Bosutinib.

  • Nilotinib.

  • Ponatinib.

  • Asciminib.

 

Pilihan pengobatan CML lainnya adalah transplantasi sumsum tulang atau transplantasi sel punca. Namun, prosedur ini biasanya direkomendasikan untuk penderita yang tidak menunjukkan efek positif terhadap pengobatan lainnya. Pasalnya, prosedur ini memiliki risiko dan tingkat komplikasi yang lebih tinggi.

 

Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan pasien untuk menjalani kemoterapi. Terapi kanker ini menggunakan obat-obatan yang kuat untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi terkadang dikombinasikan dengan terapi target untuk mengobati CML yang agresif.

 

Perlu dipahami bahwa tanda serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi leukemia mielositik kronik. Dengan kata lain, tanda dan gejala yang disebutkan mungkin terjadi pada kondisi medis lainnya sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.

 

Penting pula untuk dicatat bahwa proses pemeriksaan dan pengobatan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun, tenaga medis tentu akan memastikan bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

 

Apabila ingin mendapatkan perawatan komprehensif untuk kanker, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. MRCCC Siloam Hospitals menyediakan berbagai layanan kesehatan untuk penanganan kanker, mulai dari deteksi dini, onkologi, kemoterapi, radioterapi, dan berbagai prosedur lain beserta tim dokter yang berpengalaman.

Sumber

Medline Plus. Chronic Myeloid Leukemia. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Chronic Myeloid Leukemia (CML). Diakses pada 2024 | StatPearls [Internet]. Chronic Myelogenous Leukemia. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Chronic myelogenous leukemia. Diakses pada 2024 |

message

ArticleDetail