Kesehatan Tubuh
Transplantasi Sel Punca untuk Menangani Kerusakan Sel Tubuh

Table of Contents
Stem cell transplant atau transplantasi sel punca adalah prosedur medis yang dilakukan dengan menanam sel punca pada organ tubuh tertentu untuk menggantikan sel-sel yang rusak. Prosedur ini biasanya digunakan untuk menangani berbagai jenis penyakit, seperti kelainan darah hingga kanker. Mari simak informasi selengkapnya mengenai transplantasi sel punca dalam artikel berikut ini.
Apa itu Transplantasi Sel Punca?
Seperti yang telah dijelaskan, transplantasi sel punca, transplantasi sel induk, atau transplantasi sumsum tulang (bone marrow transplant) adalah tindakan medis untuk mengganti sel-sel yang rusak dengan sel punca. Sel punca atau stem cell adalah sel yang belum memiliki fungsi khusus sehingga bisa mengubah, menyesuaikan, serta memperbanyak diri tergantung di mana lokasi sel tersebut berada. Sel ini bisa berubah menjadi tiga jenis sel darah, yaitu:
-
Sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
-
Sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
-
Trombosit yang berfungsi untuk membantu pembekuan darah.
Secara umum, sel punca bisa didapatkan dari beberapa sumber, di antaranya:
-
Sel punca embrio: Berasal dari embrio yang berusia 4–5 hari. Pada waktu tersebut, embrio umumnya hanya memiliki sekitar 150 sel. Sel tersebut bisa berkembang menjadi berbagai jenis sel tubuh dibandingkan dengan sel punca dewasa.
-
Sel punca perinatal: Diperoleh dari cairan ketuban atau tali pusat janin. Pengambilan sel ini dilakukan saat proses persalinan dan bisa disimpan dengan cara dibekukan di laboratorium untuk sementara waktu. Sel punca perinatal dapat digunakan ketika anak menderita kelainan darah, seperti leukemia.
-
Sel punca dewasa: Berasal dari sebagian kecil jaringan tubuh, seperti sumsum tulang atau lemak.
-
Sel punca dari hasil rekayasa genetika: Melalui teknologi biomolekuler, sel dewasa bisa dibentuk ulang menyerupai sel embrio yang memiliki karakteristik seperti sel punca. Sel tersebut bisa membelah menjadi sel punca lain maupun sel spesifik di dalam tubuh.
Secara umum, terdapat 5 tahapan utama dalam melakukan transplantasi sel punca, yaitu:
-
Melakukan serangkaian tes dan pemeriksaan untuk menilai tingkat kesehatan pasien secara umum.
-
Melakukan proses pengumpulan sel induk untuk digunakan dalam transplantasi, baik dari pasien itu sendiri dari atau donor.
-
Pengkondisian pasien dengan melakukan pengobatan dengan kemoterapi dan/atau radioterapi untuk mempersiapkan tubuh pasien menghadapi transplantasi.
-
Transplantasi sel induk.
-
Fase pemulihan.
Tujuan Transplantasi Sel Punca
Secara umum, transplantasi sel punca digunakan untuk menangani kondisi ketika sumsum tulang mengalami kerusakan dan tidak mampu lagi memproduksi sel darah yang sehat. Selain itu, prosedur ini juga dapat dilakukan untuk menggantikan sel darah yang rusak akibat beberapa kondisi berikut ini:
-
Efek samping kemoterapi intensif pada pasien yang menjalani pengobatan kanker.
-
Anemia aplastik berat.
-
Leukemia (kanker darah).
-
Limfoma (kanker kelenjar getah bening).
-
Multiple myeloma (kanker sel plasma).
-
Sindrom mielodisplasia, yaitu sekelompok kondisi yang timbul akibat produksi sel-sel darah secara tidak normal di dalam sumsum tulang.
-
Gangguan darah, sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme tertentu, seperti anemia sel sabit, talasemia, severe combined immunodeficiency/SCID (sekelompok kelainan bawaan langka yang menyebabkan kelainan utama pada sistem imun), relapsing-remitting multiple sclerosis, serta sindrom Hurler.
Transplantasi sel induk biasanya dilakukan jika metode pengobatan lain tidak membantu, potensi manfaat transplantasi lebih besar dibandingkan risikonya, serta kondisi pasien dalam keadaan baik.
Persiapan Transplantasi Sel Punca
Sebelum menjalani transplantasi sel punca, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) serta pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dalam hal ini, pasien juga perlu melakukan pre-treatment chemotherapy (conditioning) serta beberapa pemeriksaan lanjutan, seperti:
-
Tes darah, untuk seperti hitung darah lengkap (complete blood count/CBC), memeriksa fungsi hati dan ginjal, dan lain-lain.
-
Biopsi, untuk memeriksa sel kanker.
Prosedur Transplantasi Sel Punca
Prosedur transplantasi sel punca terlihat seperti transfusi darah melalui selang kateter pembuluh darah atau intravena (IV). Pertama-tama, dokter akan memberikan cairan dan obat-obatan tertentu untuk membantu menghindari risiko efek samping atau kemungkinan tubuh menolak sel induk baru. Setelah itu, dokter akan mulai memasukkan sel induk melalui intravena.
Secara umum, terdapat dua metode transplantasi sel induk yang umum digunakan, yaitu transplantasi sel punca autolog (autologous stem cell transplant) dan transplantasi sel punca allogenik (allogeneic stem cell transplant). Penentuan metode yang digunakan untuk transplantasi ini tergantung pada usia, kebutuhan pasien, serta hasil pemeriksaan dokter. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing metode transplantasi sel induk.
1. Transplantasi Sel Punca Autolog (Autologous Stem Cell Transplant)
Metode ini menggunakan sel-sel punca yang diambil dari tubuh pasien sendiri. Lalu, sel punca tersebut dibekukan, disimpan, dan akan digunakan ketika pasien membutuhkannya, yaitu saat sel-sel tubuh mengalami kerusakan.
Adapun kelebihan dari metode transplantasi autolog adalah memiliki risiko efek samping dan kemungkinan tubuh menolak sel punca baru yang cenderung rendah. Namun, prosedur ini berisiko mengalami kegagalan jika sel punca yang diambil dari tubuh pasien masih terdapat sel kanker.
2. Transplantasi Sel Punca Allogenik (Allogeneic Stem Cell Transplant)
Transplantasi sel punca alogenik merupakan metode transplantasi yang menggunakan sel punca pendonor, seperti dari kerabat atau relawan. Metode ini umumnya digunakan jika transplantasi autolog tidak berhasil atau penyakit yang diderita pasien cenderung lebih agresif.
Kelebihan dari transplantasi alogenik adalah menggunakan sel punca yang bebas dari kanker, karena diambil dari pendonor yang sudah dipastikan kesehatannya. Meski demikian, transplantasi ini memiliki risiko efek samping yang lebih besar. Masa pemulihannya pun cenderung lebih lambat dibandingkan dengan transplantasi autolog, karena ada kemungkinan tubuh menolak sel punca dari pendonor.
Pascaprosedur Transplantasi Sel Punca
Pada dasarnya, sel induk yang baru ditransplantasi ke dalam tubuh pasien akan membutuhkan waktu untuk memproduksi sel darah baru. Jika menerima sel induk dari pendonor, sel tersebut akan mulai membangun sistem kekebalan baru. Proses ini dikenal dengan engraftment, biasanya terjadi dalam waktu 2–4 minggu setelah prosedur transplantasi.
Dalam kondisi tertentu, pasien mungkin perlu menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa bulan agar dokter bisa memantau proses pemulihan dan kesehatan pasien secara keseluruhan. Adapun beberapa hal yang dapat terjadi setelah menjalani transplantasi sel punca adalah:
-
Pre-treatment chemotherapy yang dijalani pasien sebelum prosedur transplantasi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien lebih rentan mengalami infeksi. Untuk meminimalkan risiko hal tersebut, pasien mungkin perlu menjalani rawat inap dan sendirian di dalam ruangan yang sudah dibersihkan secara menyeluruh. Pasien juga perlu membatasi kontak fisik dengan orang lain untuk sementara waktu.
-
Pasien mungkin akan diberikan resep obat-obatan untuk meringankan gejala serta cairan tambahan melalui intravena (IV) untuk menggantikan cairan yang hilang.
-
Jika mendapatkan transplantasi sel punca dari pendonor, pasien akan menerima resep obat imunosupresan yang berfungsi menekan kerja sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi kemungkinan tubuh dalam menolak sel donor.
-
Pasien mungkin memerlukan transfusi darah untuk menggantikan sel darah merah dan trombosit.
Efek Samping Transplantasi Sel Punca
Sama seperti prosedur medis lainnya, transplantasi sel induk juga memiliki sejumlah risiko efek samping dan komplikasi yang mungkin terjadi pascaprosedur. Komplikasi setelah transplantasi mungkin bersifat akut atau kronis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ini, termasuk usia, kondisi awal pasien sumber transplantasi sel induk, dan jenis serta intensitas rejimen persiapan. Komplikasi akut terjadi dalam 90 hari pertama.
Sebagian pasien mungkin hanya mengeluhkan efek samping ringan, seperti mual, muntah, dan diare. Namun, sebagian lainnya bisa mengalami komplikasi yang serius. Beberapa risiko komplikasi tersebut, di antaranya:
-
Perkembangan sel punca embrionik yang tidak teratur.
-
Gangguan kesuburan (infertilitas).
-
Munculnya kanker baru.
-
Kegagalan prosedur transplantasi.
-
Katarak.
-
Berkurangnya jumlah sel darah yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, pendarahan atau memar yang berlebihan, dan peningkatan risiko infeksi.
-
Graft-versus-host disease, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh pasien menganggap bahwa sel punca dari donor adalah benda asing sehingga menolak tubuh akan sel tersebut. Kondisi ini umumnya ditandai dengan gejala berupa mual, muntah, diare, kram perut, sariawan, kehilangan nafsu makan, kerusakan organ, dan penyakit kuning.
Penting untuk diketahui bahwa prosedur transplantasi sel punca hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis ditegakkan. Dokter akan terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi medis pasien untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini.
Oleh karena itu, jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan penyakit kanker, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Lebih lanjut, guna mengetahui informasi terkait prosedur transplantasi sel punca secara lebih mendalam, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi sebagai pusat unggulan penanganan penyakit kanker di Siloam Hospitals Group.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi kanker dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.




