Malformasi Arteri Vena Bisa Tingkatkan Risiko Stroke, Waspada!
Kesehatan Tubuh

Malformasi Arteri Vena Bisa Tingkatkan Risiko Stroke, Waspada!

25 Juni 2025 5 menit waktu baca
malformasi arteri vena

 

Malformasi arteri vena atau arteriovenous malformations (AVM) adalah kondisi medis yang terjadi ketika sekelompok pembuluh darah di tubuh tidak terbentuk dengan baik. Kondisi ini biasanya terjadi pada janin sebelum dilahirkan dan sesaat setelahnya. AVM dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, termasuk otak yang bisa meningkatkan risiko stroke. Mari kenali penyebab, gejala, hingga pengobatan AVM selengkapnya di bawah ini.

 

Apa Itu Malformasi Arteri Vena?

 

Malformasi arteri vena atau juga dikenal dengan malformasi arteriovenosa adalah kondisi medis berupa adanya jalinan pembuluh darah abnormal yang menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah di dalam tubuh. Akibatnya, jaringan dan organ-organ tubuh tidak mendapatkan suplai nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan.

 

Selain itu, karena AVM juga menyebabkan pembuluh darah menjadi kusut, pembuluh darah tersebut juga berisiko tinggi untuk melemah atau bahkan pecah. Apabila AVM terjadi di otak, hal ini bisa meningkatkan risiko terjadinya stroke hemoragik yang berbahaya.

 

Terdapat dua jenis malformasi arteriovenosa yang umum terjadi, yaitu:

 

  • Brain arteriovenous malformations, yaitu jenis AVM yang terjadi di jaringan otak maupun sumsum tulang belakang.

  • Peripheral arteriovenous malformations, yaitu jenis AVM yang terbentuk di berbagai pembuluh darah tubuh selain pembuluh darah otak dan sumsum tulang belakang, seperti, pembuluh darah di wajah, lengan, kaki, ataupun organ-organ dalam seperti hati, paru-paru, hingga jantung.

 

Penyebab Malformasi Arteri Vena

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, malformasi arteri vena terjadi ketika ada arteri dan vena yang terhubung secara tidak teratur. Sebagai informasi, arteri adalah pembuluh darah yang berfungsi mengalirkan darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh tubuh. Sebaliknya, vena adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya karbon dioksida dari seluruh tubuh kembali ke jantung.

 

Belum diketahui secara pasti apa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya malformasi arteriovenosa. Namun, para ahli menduga bahwa perubahan atau mutasi genetik berperan dalam perkembangan kondisi ini. Kendati demikian, sebagian besar jenis malformasi arteri vena biasanya tidak diturunkan dalam keluarga.

 

Faktor Risiko Malformasi Arteri Vena

 

Meski jarang diwariskan, seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat malformasi arteri vena tetap cenderung lebih berisiko mengalami kondisi ini. Selain itu, kelainan genetik tertentu, seperti hereditary hemorrhagic telangiectasia (Osler-Weber-Rendu syndrome) juga menjadi salah satu faktor risiko malformasi arteri vena.

 

Gejala Malformasi Arteri Vena

 

Gejala malformasi arteriovenosa bisa beragam, bahkan terkadang juga tidak menimbulkan gejala. Bagi penderita AVM yang tidak bergejala, biasanya akan mengetahui kondisinya secara tidak sengaja ketika melakukan tes pencitraan untuk kondisi medis lain. Umumnya, AVM dapat menimbulkan gejala awal berupa perdarahan yang sering terjadi. Selain perdarahan, sejumlah gejala awal AVM adalah:

 

  • Gangguan cara berpikir yang makin parah seiring berjalannya waktu.

  • Sakit kepala.

  • Mual dan muntah.

  • Kejang.

  • Kehilangan kesadaran.

 

Di samping itu, gejala lain yang dapat dialami oleh penderita malformasi arteriovenosa adalah sebagai berikut:

 

  • Melemahnya otot-otot, seperti otot kaki.

  • Kesemutan atau mati rasa.

  • Gangguan koordinasi, seperti kesulitan menjaga keseimbangan.

  • Sakit punggung.

  • Pusing.

  • Gangguan penglihatan.

  • Gangguan berbicara.

  • Kelumpuhan pada bagian tubuh yang terdampak.

  • Kehilangan ingatan atau demensia.

  • Halusinasi.

  • Kebingungan.

 

Diagnosis Malformasi Arteri Vena

 

Dalam menegakkan diagnosis malformasi arteri vena, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui kondisi dan riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik mulai dari tanda-tanda vital (tekanan darah, laju nadi, laju napas, suhu tubuh) dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara bruit atau mendesing. Suara ini merupakan tanda bahwa ada darah yang mengalir cepat melalui arteri dan vena AVM.

 

Kemudian, untuk membantu mengonfirmasi diagnosis, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang berikut ini:

 

  • Cerebral angiography.

  • CT scan.

  • CT angiography.

  • MRI.

  • Magnetic resonance angiography (MRA).

  • Ultrasonografi doppler transkranial.

 

Siapa yang Dapat Terkena Malformasi Arteri Vena?

 

Malformasi arteri vena paling sering bersifat bawaan, penderita dapat mengalami kondisi ini sejak lahir. AVM kerap terjadi karena adanya gangguan yang terjadi selama janin dalam masa perkembangan di rahim. 

 

Dalam beberapa kasus, AVM mungkin juga bisa muncul sesaat setelah bayi lahir atau beberapa hari kemudian. Selain itu, pada kasus yang jarang terjadi, pembentukan lesi vaskular akibat cedera pada sistem saraf pusat (otak) juga bisa berkembang menjadi malformasi arteri vena.

 

Pengobatan Malformasi Arteri Vena

 

Apabila pasien dikonfirmasi menderita malformasi arteriovenosa, ia diharuskan untuk selalu berhati-hati dan rutin memantau gejala-gejala yang mungkin berkaitan dengan stroke hemoragik (perdarahan). Sementara untuk menangani kondisi ini, ada beberapa prosedur medis yang dapat dilakukan, seperti:

 

  • Pemberian obat-obatan tertentu, untuk membantu meredakan gejala yang dialami, seperti sakit kepala, sakit punggung, kejang, dan lain-lain.

  • Prosedur operasi. Terdapat tiga jenis operasi yang umum dilakukan untuk menangani AVM, yaitu:

    • Pembedahan konvensional, dilakukan dengan membuka akses ke otak atau sumsum tulang belakang untuk mengangkat bagian tengah AVM, termasuk fistula, pada pembuluh darah abnormal.

    • Radiosurgery, yaitu menggunakan sinar radiasi yang sangat terfokus untuk mengecilkan pembuluh darah yang membentuk lesi AVM.

    • Embolisasi endovaskular, dilakukan dengan melibatkan kateter yang diarahkan melalui arteri hingga mencapai lokasi AVM. Kemudian, dokter dapat menyuntikkan zat khusus pada kateter yang akan mengalir melalui pembuluh darah dan menciptakan bekuan darah buatan di bagian tengah AVM. Prosedur ini biasanya dilakukan sebagai pelengkap dari pembedahan konvensional atau radiosurgery.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Malformasi arteriovenosa dapat terjadi lebih dari satu kali atau berulang (rekuren) pada sebagian orang. Maka dari itu, bagi mereka yang pernah menderita AVM, disarankan untuk mengunjungi dokter setiap tiga bulan sekali pada tahun pertama. Setelah itu, penderita AVM hanya perlu membuat janji temu dengan dokter setahun sekali.

 

Di samping itu, segera kunjungi instalasi gawat darurat apabila mengalami beberapa gejala berikut ini:

 

  • Sakit kepala parah dan tiba-tiba.

  • Kejang.

  • Kelemahan pada lengan atau kaki, seperti ketidakmampuan untuk menggerakkan lengan atau kaki secara mendadak.

  • Gangguan penglihatan, keseimbangan, atau ingatan.

 

Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala malformasi arteri vena yang disebutkan di atas tidak secara spesifik mewakili kondisi tersebut. Pasalnya, penyebab dan gejala kondisi ini bisa saja serupa dengan kondisi medis maupun penyakit lainnya. Maka dari itu, sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Setiap tahapan pemeriksaan serta pengobatan yang dijalani oleh pasien bisa berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada hasil diagnosis dan fasilitas kesehatan yang tersedia. Dalam hal ini, tenaga medis profesional akan menentukan prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang tepat agar sesuai dengan kondisi pasien.

 

Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam untuk mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Unduh aplikasi MySiloam sekarang dan nikmati berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Mayo Clinic. Arteriovenous Malformation. Diakses pada 2025 | National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Arteriovenous Malformations (AVMs). Diakses pada 2025 | Johns Hopkins Medicine. Arteriovenous Malformations. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Arteriovenous Malformation. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-donny-argie-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Donny Argie, SpBS, NVas, FINPS, FICS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ivanmorl-ruspanah-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ivanmorl Ruspanah, SpBS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Ambon

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-bagus-sasongko-spbs

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail