Patellofemoral Pain Syndrome, Ini Penyebab dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Patellofemoral Pain Syndrome, Ini Penyebab dan Pengobatannya

23 April 2025 5 menit waktu baca
patellofemoral pain syndrome adalah

Sindrom nyeri patellofemoral atau patellofemoral pain syndrome (PFPS) merupakan istilah umum untuk kondisi pada saat penderitanya merasakan nyeri pada bagian depan lutut, tepatnya di sekitar tempurung lutut (patella).

 

Kondisi ini juga termasuk dalam kategori runner’s knee, yaitu sekelompok gejala nyeri di sekitar tempurung lutut yang kerap dialami oleh atlet lari atau seseorang yang sering melakukan aktivitas fisik yang melibatkan berlari dan melompat. Mari kenali patellofemoral pain syndrome selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Patellofemoral Pain Syndrome?

 

Seperti yang telah dijelaskan bahwa patellofemoral pain syndrome adalah nyeri yang muncul di sekitar tempurung lutut. Nyeri berasal dari sendi patellofemoral (lutut-paha), atau jaringan lunak (tendon) di sekitarnya, jaringan lemak di bawah tempurung lutut, dan jaringan sinovial sekitar lutut. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab nyeri lutut yang sering dialami oleh remaja dan orang dewasa berusia di bawah 60 tahun.

 

Pada dasarnya, patellofemoral pain syndrome dapat menimbulkan rasa nyeri yang bisa semakin memburuk saat penderitanya sedang berlari, berjalan, naik turun tangga, jongkok, atau duduk maupun berdiri dalam jangka waktu yang lama.

 

Penyebab Patellofemoral Pain Syndrome

 

Secara umum, patellofemoral pain syndrome dapat disebabkan oleh iritasi yang terjadi pada jaringan atau lapisan lutut. Iritasi pada jaringan atau lapisan lutut tersebut biasanya dapat dipicu oleh beberapa kondisi tertentu, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Aktivitas fisik yang banyak memberikan tekanan pada lutut dan dilakukan secara berulang.

  • Kelainan pada struktur tempurung lutut.

  • Trauma atau cedera yang menyebabkan fraktur maupun dislokasi pada tulang di sekitar lutut.

  • Kelemahan otot di sekitar lutut. Hal ini dapat menyebabkan lutut menjadi tidak seimbang saat melakukan aktivitas fisik.

  • Efek samping atau komplikasi dari operasi lutut.

 

Selain itu, sejumlah faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami patellofemoral pain syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Usia. Patellofemoral pain syndrome lebih berisiko dialami oleh remaja dan orang dewasa yang sering melakukan aktivitas fisik tertentu seperti jogging, squatting, serta naik turun tangga.

  • Berjenis kelamin perempuan.

  • Memiliki berat badan berlebih (obesitas).

  • Terdapat kelainan pada posisi antara pinggul dengan pergelangan kaki.

  • Bekerja sebagai atlet olahraga yang sering melakukan gerakan berlari dan melompat.

  • Perubahan tiba-tiba dalam aktivitas fisik, misalnya menambah frekuensi berolahraga dalam seminggu, atau menambah durasi maupun intensitas aktivitas (misalnya, menambahkan jarak dalam berlari menjadi jauh lebih panjang dari biasanya).

  • Mengaplikasikan teknik atau peralatan olahraga yang salah.

 

Gejala Patellofemoral Pain Syndrome

 

Gejala patellofemoral pain syndrome dapat berkembang secara bertahap. Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri tumpul pada salah satu atau kedua lutut. Sejumlah gejala yang kerap dialami oleh penderita patellofemoral pain syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Lutut terasa nyeri saat berlari, melompat, menaiki tangga, berjongkok, atau berdiri maupun duduk dalam waktu yang lama (gerakan menekuk kaki).

  • Rasa nyeri pada lutut bisa semakin memburuk ketika menambah durasi latihan fisik maupun berolahraga.

  • Terdengar suara seperti letupan atau sensasi “pop” dari lutut ketika naik tangga atau berdiri setelah duduk dalam jangka waktu yang lama.

 

Diagnosis Patellofemoral Pain Syndrome

 

Pertama-tama, dokter akan melakukan sesi tanya jawab atau anamnesis untuk mengetahui tentang keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi lutut pasien. Di samping itu, pasien juga dapat diarahkan untuk melakukan sejumlah tes pencitraan guna membantu menegakkan diagnosis patellofemoral pain syndrome. Beberapa tes pencitraan tersebut, di antaranya:

 

 

Pengobatan Patellofemoral Pain Syndrome

 

Sebagai pertolongan pertama patellofemoral pain syndrome, penderita dapat melakukan perawatan mandiri dengan metode RICE (rest, ice, compression, dan elevation). Penjelasan dari masing-masing metode RICE dalam perawatan patellofemoral pain syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Rest: Penderita perlu menghindari aktivitas fisik tertentu, seperti berlari, jongkok, serta duduk atau berdiri dalam jangka waktu yang lama guna mengurangi beban berlebih pada lutut. Hindari pula meletakkan benda-benda yang berat dan berukuran besar di atas lutut.

  • Ice: Letakkan kompres dingin pada bagian lutut yang terasa nyeri maksimal selama 20 menit setiap 3–4 jam/hari. Pastikan untuk membungkus es dengan plastik dan kain bersih agar tidak mengenai kulit secara langsung untuk mencegah terjadinya iritasi kulit.

  • Compression: Balut area lutut yang terasa nyeri menggunakan perban elastis untuk mencegah terjadinya pembengkakan. Namun, pastikan ikatan perban tersebut tidak terlalu kencang agar darah tetap bisa mengalir dengan baik.

  • Elevation: Posisikan kaki yang bermasalah sedikit lebih tinggi daripada tubuh saat duduk atau berbaring.

 

Di samping itu, patellofemoral pain syndrome juga dapat ditangani melalui tindakan medis untuk meredakan rasa nyeri dan membantu memperbaiki kemampuan pergerakan pasien. Beberapa tindakan medis dan terapi patellofemoral pain syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Pemberian obat-obatan, seperti obat golongan OAINS (contohnya: ibuprofen dan asam mefenamat) untuk membantu meredakan rasa nyeri.

  • Fisioterapi untuk membantu meningkatkan kekuatan otot paha, pinggul, dan tempurung lutut yang terdampak agar lutut tetap bisa stabil.

  • Prosedur operasi. Tindakan ini biasanya dilakukan apabila metode lainnya tidak efektif meredakan rasa nyeri. Beberapa prosedur operasi yang umum digunakan untuk menangani patellofemoral pain syndrome adalah:

    • Artroskopi: Tindakan yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan tabung kecil yang dilengkapi kamera di ujungnya ke dalam sendi lutut. Kamera pada tabung tersebut nantinya akan memandu dokter untuk mengangkat bagian tulang rawan yang rusak. Selain sebagai metode pengobatan, prosedur artroskopi juga dapat digunakan sebagai prosedur diagnostik.

    • Tibial tubercle transfer: Melalui prosedur ini, dokter dapat menyusun kembali sudut tempurung lutut pasien menggunakan sekrup atau mengurangi tekanan berlebih pada tulang rawan.

 

Komplikasi Patellofemoral Pain Syndrome

 

Jika tidak segera ditangani dengan tepat, patellofemoral pain syndrome bisa semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Hal tersebut bisa menyebabkan nyeri berkepanjangan yang dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lutut. Selain itu, sindrom nyeri patellofemoral juga berisiko menyebabkan chondromalacia patella, yaitu melemahnya tulang rawan yang berada di bawah tempurung lutut.

 

Pencegahan Patellofemoral Pain Syndrome

 

Secara umum, pencegahan patellofemoral pain syndrome bisa dilakukan dengan menyesuaikan durasi latihan fisik dan kegiatan sehari-hari agar tidak berlebihan. Di samping itu, beberapa upaya yang dapat diterapkan untuk meminimalkan risiko terjadinya patellofemoral pain syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Mengoptimalkan kekuatan otot di area paha dan pinggul untuk menjaga keseimbangan lutut.

  • Mempelajari dan menerapkan gerakan yang optimal serta benar saat berlari, melompat, maupun mendarat dari lompatan.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Menghindari mengubah gerakan secara tiba-tiba saat melakukan latihan fisik.

  • Menghindari tekanan berlebih pada lutut.

  • Meningkatkan durasi serta frekuensi gerakan saat melakukan latihan fisik secara bertahap.

  • Menggunakan sepatu yang tepat dan sesuai dengan latihan fisik yang dilakukan.

  • Melakukan pemanasan dan peregangan fisik, terutama di area paha depan serta paha belakang sebelum berolahraga.

 

Patellofemoral pain syndrome adalah kondisi yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, penting untuk segera menangani kondisi ini dengan tepat. Jika Anda mengalami kondisi yang mengarah pada patellofemoral pain syndrome, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Ortopedi (Tulang) dari Siloam Hospitals guna memperoleh diagnosis dan tindakan medis yang tepat.

 

Apabila terdiagnosis patellofemoral pain syndrome, Anda dapat memesan paket Fisioterapi dari layanan Siloam at Home untuk mengoptimalkan pemulihannya. Dengan memesan paket ini, Anda bisa menjalani terapi fisik bersama fisioterapis berpengalaman tanpa harus keluar rumah.

 

Siloam at Home

 

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail