Penis Bengkok - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Penis Bengkok - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

02 Juni 2025 5 menit waktu baca
penis bengkok

Penis bengkok adalah kondisi ketika penis terlihat melengkung atau bengkok. Sebetulnya, kondisi ini tergolong umum terjadi saat penis sedang ereksi. Namun, pada beberapa kasus, penis yang terlalu bengkok bisa menjadi tanda dari kondisi medis tertentu, seperti penyakit Peyronie. Mari simak pembahasan lengkap mengenai penis bengkok melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Penis Bengkok?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, penis bengkok adalah kondisi saat penis melengkung atau bengkok. Sebagian pria mungkin merasa khawatir saat melihat bentuk penisnya membengkok. Sebetulnya, apakah penis bengkok normal? Perlu diketahui bahwa penis yang sedikit membengkok, terutama saat sedang ereksi, merupakan hal yang normal dan umum terjadi.

 

Namun, pada beberapa kasus, bentuk penis yang sangat melengkung atau bengkok bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan tertentu. Terlebih, apabila kondisi ini juga disertai dengan rasa nyeri dan kesulitan untuk berhubungan intim.

 

Penyebab Penis Bengkok

 

Secara umum, penis bengkok saat ereksi dapat terjadi karena adanya darah yang mengalir ke ruang yang menyerupai spons di dalam penis, sehingga membuatnya terlihat membesar dan menjadi kaku, namun ruang-ruang tersebut tidak membesar atau melebar secara merata.

 

Di sisi lain, penis yang sangat membengkok juga bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu yang terjadi sejak lahir maupun berkembang di kemudian hari. Adapun beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan penis bengkok adalah sebagai berikut:

 

  • Perkembangan penis yang abnormal pada janin (chordee). Kondisi ini biasanya juga disertai dengan hipospadia (kondisi ketika lubang kencing berada pada posisi yang tidak seharusnya), namun tidak menutup kemungkinan hanya terjadi sebagai penyakit tunggal tanpa penyerta.

  • Penyakit Peyronie, yaitu kondisi ketika penis membengkok akibat adanya jaringan parut di lapisan bawah kulit penis.

  • Penyakit autoimun. Beberapa penyakit autoimun, seperti lupus, Behcet’s syndrome, dan Sjogren’s syndrome diduga berkaitan dengan penyakit Peyronie yang membuat penis terlihat bengkok.

  • Fraktur penis, yaitu cedera pada penis karena pembengkokan pada penis secara mendadak atau dengan paksa selama ereksi. Kondisi ini sebagian besar terjadi pada saat seseorang sedang berhubungan seksual.

  • Gangguan jaringan ikat, seperti Dupuytren’s contracture, plantar fasciitis, dan scleroderma.

 

Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penis bengkok adalah sebagai berikut:

 

  • Pernah menjalani tindakan operasi atau radioterapi untuk menangani kanker prostat.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat penis bengkok.

  • Lanjut usia.

  • Melakukan hubungan seksual dengan posisi yang berisiko menyebabkan cedera pada penis, seperti doggy style.

  • Cedera saat melakukan kegiatan tertentu, seperti bersepeda atau berkuda.

  • Menderita disfungsi ereksi karena penyakit diabetes.

  • Menderita penyakit autoimun atau gangguan jaringan ikat.

 

Gejala Penis Bengkok

 

Pada dasarnya, ciri-ciri penis bengkok cenderung beragam, tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Misalnya, apabila disebabkan oleh fraktur penis, maka dapat menimbulkan gejala berupa adanya suara retakan, kehilangan ereksi secara tiba-tiba, nyeri hebat dan bengkak pada penis, memar atau perubahan warna pada penis, hingga keluarnya darah dari bagian ujung penis.

 

Di sisi lain, pada penyakit Peyronie, pembengkokan penis bisa terjadi secara tiba-tiba maupun bertahap. Kondisi ini juga dapat menimbulkan beberapa gejala tambahan, seperti:

 

  • Adanya benjolan di bagian bawah kulit pada salah satu atau beberapa sisi penis.

  • Penis membengkok secara signifikan meski sedang tidak ereksi.

  • Nyeri saat ereksi.

  • Disfungsi ereksi.

  • Kesulitan untuk melakukan penetrasi saat berhubungan seksual.

 

Sementara pada bayi yang lahir dengan kondisi chordee dan hipospadia, beberapa gejala yang muncul adalah sebagai berikut:

 

  • Penis melengkung atau bengkok ke bawah.

  • Kulup (kulit yang melindungi bagian ujung penis) hanya menutupi bagian atas kepala penis.

  • Lubang kecil tempat keluarnya urine atau air mani saat ejakulasi berada di posisi yang tidak seharusnya, seperti di bagian bawah kepala atau batang penis.

  • Aliran dan percikan urine yang tidak normal saat buang air kecil.

 

Diagnosis Penis Bengkok

 

Dalam mendiagnosis penyebab penis bengkok, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang keluhan serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:

 

  • Goniometer, untuk mengukur derajat kelengkungan penis saat ereksi.

  • USG, untuk melihat keberadaan jaringan parut di penis.

  • USG doppler, untuk melihat kondisi pembuluh darah dan aliran darah di penis menggunakan gelombang suara berkekuatan tinggi.

 

Cara Mengatasi Penis Bengkok

 

Apabila tak menimbulkan rasa tidak nyaman dan kesulitan untuk melakukan hubungan seksual, penis bengkok biasanya tidak memerlukan penanganan tertentu. Namun, jika menyebabkan nyeri, disfungsi seksual, atau gangguan berkemih, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani pengobatan.

 

Pengobatan untuk kondisi ini biasanya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Secara umum, beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani penis membengkok adalah sebagai berikut:

 

  • Tindakan operasi: Penis yang bengkok karena kelainan bawaan biasanya dapat ditangani dengan tindakan operasi. Selain itu, prosedur ini juga dapat dilakukan untuk mengangkat jaringan parut serta memperbaiki bentuk penis yang melengkung. Bila penderita penyakit Peyronie mengalami impotensi, dokter pun bisa memasang implan saat tindakan operasi penis guna membantu penis ereksi.

  • Penile traction therapy: Terapi yang dilakukan dengan cara meregangkan penis secara perlahan menggunakan alat khusus. Terapi ini umumnya dilakukan untuk menangani penyakit Peyronie.

  • Pemberian obat-obatan: Beberapa jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk membantu mengelola gejala serta menangani penis melengkung adalah:

    • Asam mefenamat atau parasetamol, untuk membantu meredakan rasa nyeri.

    • Interferon injeksi (suntik), untuk mengurangi jaringan parut di area penis.

    • Verapamil oral, untuk menghambat produksi kolagen. Di mana, kolagen merupakan komponen utama dalam pembentukan jaringan parut.

 

Komplikasi Penis Bengkok

 

Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, penis yang sangat membengkok berisiko menyebabkan sejumlah komplikasi yang dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Adapun beberapa risiko komplikasi tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Nyeri saat berhubungan seksual.

  • Kesulitan untuk melakukan penetrasi saat berhubungan seksual.

  • Masalah ejakulasi.

  • Gangguan mental, seperti stres, cemas, hingga depresi.

  • Kesulitan belajar berkemih jika terjadi pada anak-anak.

 

Pencegahan Penis Bengkok

 

Jika disebabkan oleh kelainan bawaan, penis bengkok cenderung sulit untuk dicegah. Namun, ibu dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini pada janin dengan menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin selama masa kehamilan. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

 

  • Mengonsumsi suplemen asam folat sesuai dengan anjuran dokter.

  • Menghindari rokok dan konsumsi minuman beralkohol.

  • Melakukan pemeriksaan antenatal ke dokter secara rutin.

 

Sementara itu, sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penis membengkok akibat cedera adalah sebagai berikut:

 

  • Menggunakan pelumas untuk mengurangi gesekan saat berhubungan seksual.

  • Menghindari posisi seks yang bisa meningkatkan risiko terjadinya cedera pada penis.

  • Menggunakan alat pelindung saat berolahraga.

  • Berhenti merokok.

  • Mengobati penyakit yang berisiko menyebabkan kelainan bentuk penis.


Penis bengkok memang tidak selalu menandakan kondisi medis tertentu. Namun, jika hal tersebut disertai dengan gejala lain yang memengaruhi kualitas hidup Anda, seperti disfungsi ereksi, langsung saja kunjungi Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Aplikasi My Siloam (1)

message

ArticleDetail