Kesehatan Tubuh
Mengenal Prosedur Pleurodesis, Tujuan, dan Risikonya

Table of Contents
Pleurodesis adalah tindakan medis yang dilakukan dengan memasukkan obat khusus yang dapat membuat lapisan pleura (lapisan yang melindungi paru-paru) saling menyatu. Pada dasarnya, tindakan ini bertujuan untuk mencegah penumpukan cairan berulang di sekitar paru-paru, pneumotoraks, ataupun pneumotoraks yang persisten. Lantas, bagaimana prosedur pleurodesis dilakukan dan apa saja risiko efek sampingnya? Mari ketahui jawabannya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Pleurodesis?
Pleurodesis adalah prosedur medis untuk mengatasi penumpukan cairan pada rongga pleura. Rongga pleura sendiri merupakan rongga tipis yang berada di antara dinding dalam rongga dada serta paru-paru. Dalam kondisi normal, rongga pleura berisi cairan dalam jumlah sedikit, yaitu sekitar 10 ml, untuk melumasi paru-paru agar bisa bergerak dengan mulus.
Namun, jika terjadi penumpukan cairan di rongga pleura, hal tersebut bisa meningkatkan tekanan pada organ paru-paru sehingga membuat penderita kesulitan bernapas. Karena itu, kondisi tersebut perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter, salah satunya dengan prosedur pleurodesis.
Melalui prosedur ini, dokter akan memasukkan obat yang menimbulkan iritasi dan inflamasi atau peradangan pada jaringan di area rongga pleura. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pembentukan jaringan parut yang membuat kedua lapisan pleura saling menyatu. Alhasil, rongga pleura akan tertutup, sehingga dapat mencegah terjadinya penumpukan cairan atau udara berulang di sekitar paru-paru.
Kendati demikian, pada kasus yang tergolong parah, prosedur pleurodesis mungkin tidak sepenuhnya bisa mencegah penumpukan cairan atau udara di sekitar paru-paru sehingga akhirnya cairan atau udara tersebut perlu dikeluarkan melalui tindakan medis lainnya.
Tujuan Pleurodesis
Pleurodesis adalah tindakan medis yang kerap dilakukan untuk pasien yang terus-menerus mengalami gangguan sistem pernapasan akibat penumpukan cairan atau udara di rongga pleura, seperti pneumothorax dan efusi pleura. Kondisi-kondisi tersebut bisa menyebabkan sejumlah gangguan pernapasan, seperti batuk, sesak napas kronis, nyeri dada, hingga gagal napas.
Adapun beberapa kondisi medis yang bisa menyebabkan penumpukan cairan atau udara di rongga pleura dan perlu ditangani dengan prosedur pleurodesis adalah:
-
Penyakit hati dan ginjal.
-
Radang pankreas.
Prosedur Pleurodesis
Secara umum, pleurodesis bisa dilaksanakan sebagai prosedur tunggal ataupun bersamaan dengan tindakan medis lainnya untuk mengalirkan udara maupun cairan di sekitar paru-paru, seperti torakostomi atau torakoskopi. Untuk prosedur pleurodesis sendiri, dokter dapat melakukannya melalui langkah-langkah berikut ini:
-
Pasien akan diberikan obat pereda nyeri dan obat penenang untuk mengurangi rasa nyeri serta membuat pasien lebih rileks selama prosedur berlangsung.
-
Dokter akan menyuntikkan obat untuk pleurodesis ke dada melalui selang.
-
Pasien mungkin perlu mengubah posisi setiap 10 menit sekali. Tujuannya adalah untuk memastikan obat tersebut bisa mencapai setiap bagian rongga dada.
Sementara itu, jika pleurodesis dilaksanakan bersama dengan torakostomi atau torakoskopi, dokter dapat melakukannya di dalam ruang operasi. Berikut adalah langkah-langkahnya:
-
Pasien akan diberikan obat pereda nyeri dan obat penenang untuk mengurangi rasa nyeri serta membuat pasien merasa lebih rileks selama prosedur berlangsung.
-
Dokter dapat menggunakan anestesi lokal untuk menghilangkan rasa nyeri di area dada.
-
Kemudian, dokter mensterilkan area dada tersebut dan membuat sayatan kecil.
-
Melalui sayatan tersebut, dokter akan memasukkan kamera atau selang kecil (chest tube) untuk mengalirkan cairan atau udara berlebih pada rongga pleura ke dalam kantong penampung.
-
Setelah itu, dokter akan menyuntikkan obat-obatan khusus, seperti talc powder atau doksisiklin ke dalam rongga pleura melalui chest tube. Obat tersebut nantinya akan melapisi bagian luar paru-paru dengan permukaan yang lengket sehingga membuatnya menempel pada dinding dada.
-
Dokter akan menutup selang untuk pembuangan cairan atau udara selama kurang lebih 1 jam agar obat-obatan yang disuntikkan tetap berada di dalam paru-paru. Setelah itu, selang akan kembali dibuka untuk mengeluarkan sisa cairan dan udara di dalam paru-paru. Proses ini umumnya berlangsung selama 24–48 jam.
-
Lalu, dokter dapat melepas selang dan menutup sayatan pada area dada dengan jahitan.
-
Dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti rontgen dada guna memeriksa kondisi paru-paru setelah prosedur pleurodesis selesai dilaksanakan.
Di samping menyuntikkan obat-obatan, prosedur pleurodesis juga bisa dilakukan dengan menggosok membran paru-paru menggunakan benda yang memiliki permukaan kasar, sehingga bisa menyebabkan iritasi di rongga pleura. Prosedur tersebut dikenal dengan pleurodesis mekanik.
Perawatan Pascaprosedur Pleurodesis
Pascaprosedur pleurodesis, pasien perlu menjaga kebersihan luka bekas operasi sebaik mungkin. Dalam hal ini, pasien bisa mencucinya menggunakan sabun berbahan lembut dan keringkan dengan tisu bersih. Pastikan juga untuk mengganti perban yang menutupi luka bekas operasi setiap harinya.
Di samping itu, beberapa hal yang perlu dihindari oleh pasien setelah menjalani prosedur pleurodesis adalah sebagai berikut:
-
Hindari menggosok luka bekas operasi. Pasalnya, hal ini bisa menghambat proses penyembuhan luka.
-
Hindari mengaplikasikan salep, losion, atau bedak apa pun pada luka bekas operasi tanpa arahan dokter.
-
Hindari mandi, berenang, atau berendam dalam air panas sampai luka bekas sayatan sembuh total.
-
Jangan mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) setidaknya selama 7 hari pascaprosedur pleurodesis. Sebab, obat-obatan tersebut bisa mencegah perlekatan lapisan pleura.
-
Jangan mengangkat beban berat terlebih dahulu.
-
Hindari mengejan atau menahan napas secara berlebihan.
Risiko Efek Samping Pleurodesis
Secara umum, pleurodesis adalah prosedur yang aman dilakukan. Namun, sama seperti prosedur medis lainnya, pleurodesis mungkin dapat menimbulkan sejumlah risiko efek samping. Adapun beberapa risiko efek samping atau komplikasi yang bisa terjadi setelah prosedur pleurodesis adalah:
-
Infeksi.
-
Adanya kumpulan atau penumpukan nanah di rongga pleura (empiema).
-
Demam.
-
Nyeri dada.
-
Sesak napas karena adanya peradangan pada paru-paru.
Jika prosedur pleurodesis juga dilakukan bersama dengan torakostomi, beberapa risiko efek samping atau komplikasi yang mungkin terjadi, di antaranya:
-
Paru-paru kolaps.
-
Cedera pada dinding dada, pembuluh darah arteri, atau paru-paru.
-
Penggumpalan darah.
Pada dasarnya, pleurodesis dapat dilakukan untuk menangani gangguan pernapasan yang terjadi akibat penumpukan cairan atau udara di sekitar paru-paru. Jika Anda mengalami kondisi yang sekiranya perlu ditangani dengan pleurodesis, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) dari Siloam Hospitals untuk memperoleh diagnosis dan saran perawatan yang tepat.
Selain itu, gunakan juga aplikasi MySiloam yang memungkinkan Anda untuk memperoleh layanan kesehatan lebih cepat, mudah, dan praktis. Sebab, dengan aplikasi MySiloam, Anda dapat mencari informasi jadwal praktik, membuat janji temu dengan dokter, hingga memesan paket kesehatan secara online.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ivan Joalsen M.T, Sp.BTKV (K), SubsSp-Ve. McPhleb
Bedah Toraks Kardiovaskular
Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Putu Wisnu Arya Wardana, SpBTKV, FIATCVS
Bedah Toraks Kardiovaskular
Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV (K)
Bedah Toraks Kardiovaskular
Subspesialis Bedah Toraks
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini








