Mengenal Sindrom Ruminasi, Penyebab, Gejala, & Penanganannya
Kesehatan Mental

Mengenal Sindrom Ruminasi, Penyebab, Gejala, & Penanganannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
sindrom ruminasi

Sindrom ruminasi (rumination syndrome) adalah gangguan makan langka di mana seseorang berulang kali memuntahkan makanan yang belum dicerna secara tidak sengaja. Kondisi ini terjadi begitu saja tanpa usaha apa pun dari penderitanya. 

 

Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya sindrom ruminasi atau rumination syndrome? Bisakah kondisi ini disembuhkan? Pahami selengkapnya dengan menyimak artikel di bawah ini hingga tuntas.

 

Apa itu Sindrom Ruminasi?

 

Sindrom ruminasi atau rumination syndrome adalah kondisi kronis yang langka. Sindrom ini terjadi ketika seseorang memuntahkan makanan secara tidak sengaja, padahal makanan tersebut baru saja ditelan. Penderita sindrom ruminasi tidak mencoba untuk memuntahkan makanan mereka dengan sengaja. Hal tersebut terjadi tanpa melakukan usaha apa pun.

 

Proses memuntahkan makanan yang terjadi secara tanpa sengaja tersebut dikenal juga dengan istilah regurgitasi, yang biasanya terjadi dalam 15 menit pertama setelah selesai makan. Kondisi ini bisa dialami oleh orang dewasa maupun anak-anak. Saat mengalami regurgitasi, orang dewasa akan memuntahkan makanan tersebut sepenuhnya. Berbeda dengan anak-anak, mereka cenderung mengunyah dan menelan kembali makanan yang keluar kembali dari perut.

 

Karena makanan yang dimuntahkan belum sempat dicerna di dalam perut, makanan tersebut dapat terasa seperti makanan biasa dan tidak terasa asam seperti halnya muntahan. Sering kali, sindrom ini terjadi saat makan atau sesaat setelah makan.

 

Penyebab Sindrom Ruminasi

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab sindrom ruminasi. Namun, diduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh peningkatan tekanan perut. Sindrom ini sering kali disalahartikan sebagai anoreksia, bulimia, atau penyakit refluks asam lambung (GERD). Bedanya, pada anoreksia atau bulimia, penderita kedua kondisi tersebut memuntahkan makanan secara sengaja untuk menghindari peningkatan berat badan. 

 

Beberapa orang mengalami sindrom ruminasi yang terkait dengan gangguan pada evakuasi atau pengosongan rektum. Masalah evakuasi rektum terjadi akibat otot-otot dasar panggul yang tidak dapat bekerja dengan benar, sehingga bisa menyebabkan sembelit yang berkelanjutan.

 

Sindrom ruminasi juga diketahui lebih sering terjadi pada orang yang mengalami:

 

  • Gangguan kecemasan.

  • Depresi

  • Gangguan obsesif-kompulsif.

  • Gangguan penyesuaian.

  • Gangguan stres pascatrauma (post traumatic stress disorder).

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). 

  • Developmental delay atau gangguan perkembangan.

  • Kondisi nyeri pada otot dan tulang di seluruh tubuh (fibromialgia).



Gejala Sindrom Ruminasi

 

Ruminasi sebenarnya berbeda dengan muntah. Pada ruminasi, makanan yang keluar belum dicerna sehingga rasanya sama seperti saat pertama kali dimakan. Gejalanya mungkin akan mirip dengan masalah pencernaan lain dan umumnya bersifat kronik (terjadi dalam jangka panjang). Secara umum, beberapa gejala sindrom ruminasi adalah sebagai berikut.

 

  • Regurgitasi yang terjadi dalam beberapa menit setelah makan, umumnya sekitar 10 menit dan dapat bertahan sekitar 1–2 jam setelah makan. Regurgitasi bisa terjadi tanpa tersedak dan individu dapat menahan regurgitasi di dalam rongga mulut.

  • Beberapa pasien dapat memperkirakan timbulnya regurgitasi karena mengalami nyeri atau tekanan pada perut.

  • Perasaan kenyang.

  • Penurunan berat badan tanpa adanya usaha apa pun.

  • Dehidrasi.

 

Diagnosis Sindrom Ruminasi

 

Untuk mendiagnosis sindrom ruminasi, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terhadap pasien mengenai gejala dan riwayat kesehatannya. Diagnosis sindrom ruminasi akan ditentukan berdasarkan kriteria sindrom ruminasi sesuai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5) dan sesuai kriteria ROME IV pada pasien dewasa serta anak. 

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pengamatan perilaku pasien. Upaya tersebut sering kali dirasa cukup untuk mendiagnosis rumination syndrome. Untuk memperkuat diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik pasien secara lengkap.

 

Namun, pada beberapa kasus, dokter mungkin memerlukan tes tambahan, seperti manometri esofagus resolusi tinggi atau pengukuran impedansi untuk mengonfirmasi diagnosis. Tes ini dapat membantu dokter memastikan apakah ada peningkatan tekanan dalam perut. Selain itu, dokter terkadang juga membutuhkan jenis tes lain untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang mendasari munculnya gejala. Tes tersebut, di antaranya:

 

  • Endoskopi. Endoskopi bagian atas dilakukan untuk pemeriksaan di area kerongkongan, lambung, dan bagian atas usus halus. Endoskopi juga bisa dilakukan guna mengambil sampel jaringan untuk biopsi bila diperlukan.

  • High-resolution esophageal manometry (HRIM) with impedance testing. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur tekanan dan pergerakan cairan di esofagus dan sfingter esofagus bagian bawah. Tindakan ini dapat mengonfirmasi sindrom ruminasi pada anak-anak dan orang dewasa.

  • Electromyography (EMG) pada otot perut dan dada. Pemeriksaan ini akan menunjukkan peningkatan aktivitas yang khas selama episode ruminasi.

  • Pengosongan lambung. Prosedur ini dapat mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk dikosongkan dari lambung. Versi lain dari tes ini juga dapat mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk berjalan melalui usus kecil dan usus besar.

 

Cara Mengatasi Sindrom Ruminasi

 

Pengobatan untuk sindrom ruminasi dilakukan setelah dokter menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya. Selain itu, pengobatan yang digunakan juga disesuaikan dengan usia dan kemampuan kognitif penderita. Adapun sejumlah perawatan yang kerap ditujukan pada penderita rumination syndrome adalah sebagai berikut:

 

A. Terapi Perilaku

 

Salah satu langkah perawatan yang bisa dilakukan adalah terapi perilaku pembalikan kebiasaan (habit-reversal). Terapi perilaku dapat membantu orang tanpa gangguan perkembangan namun mengidap sindrom ruminasi.

 

Pada terapi ini, pasien akan dilatih untuk mengenali kapan ruminasi terjadi. Ketika ruminasi dimulai, pasien akan menggunakan otot perut guna menarik dan membuang napas (teknik pernapasan diafragma) untuk mencegah kontraksi perut dan regurgitasi.

 

Terapi perilaku ini juga mencakup biofeedback. Pada biofeedback, pasien akan menjalani pencitraan untuk mempelajari keterampilan pernapasan diafragma. Prosedur ini biasanya ditujukan pada anak-anak dan orang dewasa.

 

B. Obat-obatan

 

Pada beberapa kasus, dokter dapat merekomendasikan obat untuk membantu merilekskan perut setelah makan. Selain itu, bila esofagus mengalami kerusakan akibat seringnya ruminasi, dokter akan memberikan obat penghambat pompa proton, seperti esomeprazole dan omeprazole untuk melindungi lapisan esofagus.

 

Komplikasi Sindrom Ruminasi

 

Jika tidak segera ditangani, sindrom ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti penurunan berat badan yang tidak sehat, malnutrisi, gangguan elektrolit, kerusakan pada gigi, dan bau mulut. Kondisi ini juga bisa membuat penderitanya merasa malu, bahkan enggan untuk bersosialisasi. Lebih lanjut, rumination syndrome juga dapat merusak saluran antara mulut dan perut (esofagus).

 

Untuk menghindari komplikasi tersebut, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat bila Anda atau orang terdekat mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada rumination syndrome.

 

Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat yang bisa didapatkan pasien tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat (1)

 

message

ArticleDetail