Kesehatan Mental
Mengenal Zoophobia, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Zoophobia adalah salah satu jenis fobia spesifik berupa rasa takut berlebih terhadap hewan. Sebagian penderita zoophobia biasanya merasa sangat cemas dan takut terhadap jenis hewan tertentu. Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini juga bisa membuat seseorang merasa takut terhadap beberapa jenis hewan. Mari simak ulasan lengkap mengenai zoophobia melalui artikel berikut ini.
Apa itu Zoophobia?
Seperti yang telah dijelaskan bahwa zoophobia adalah jenis fobia spesifik yang membuat seseorang merasa takut berlebihan terhadap hewan. Secara umum, beberapa orang yang menderita zoophobia akan sangat cemas dan takut terhadap satu jenis hewan tertentu. Karena itu, berdasarkan jenis hewannya, zoophobia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, di antaranya:
-
Ophidiophobia (fobia ular).
-
Arachnophobia (fobia laba-laba).
-
Chiroptophobia (fobia kelelawar).
-
Cynophobia (fobia anjing).
-
Musophobia (fobia tikus).
-
Entomophobia (fobia serangga).
-
Ailurophobia (fobia kucing).
-
Helminthophobia (fobia cacing).
-
Ornithophobia (fobia burung).
Namun, di samping itu, sebagian penderita zoophobia lainnya juga bisa merasakan takut secara berlebihan terhadap beberapa jenis hewan secara sekaligus.
Penyebab Zoophobia
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami fobia spesifik, termasuk zoophobia. Namun, terdapat sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fobia hewan ini. Beberapa faktor tersebut, di antaranya sebagai berikut:
-
Memiliki keluarga dengan riwayat fobia hewan atau gangguan kecemasan lainnya.
-
Pernah mengalami kejadian traumatis di masa lampau yang berkaitan dengan hewan, seperti diserang anjing atau dicakar kucing.
-
Mengikuti dan mempelajari perilaku orang terdekat, seperti orang tua atau saudara kandung yang takut terhadap hewan.
Gejala Zoophobia
Gejala utama zoophobia adalah rasa takut berlebihan terhadap hewan yang tidak sebanding dengan ancaman yang sebenarnya ditimbulkan oleh hewan tersebut. Karena itu, penderita zoophobia mungkin akan menghindari pergi ke kebun binatang atau mengunjungi rumah teman yang memiliki hewan peliharaan, bahkan cenderung menghindari melihat gambar atau video yang terdapat hewan.
Saat berhadapan dengan hewan, penderita zoophobia dapat mengalami panic attack yang bisa menimbulkan gejala fisik, seperti:
-
Nyeri atau rasa sesak di dada.
-
Jantung berdebar (palpitasi).
-
Pusing.
-
Mual dan muntah.
-
Berkeringat.
-
Tubuh gemetar.
Sementara itu, pada anak-anak yang mengalami zoophobia, beberapa gejala yang dapat muncul ketika berhadapan dengan hewan adalah sebagai berikut:
-
Menangis tidak terkendali.
-
Terdiam.
-
Terlalu bergantung dengan pengasuh atau orang tua.
Diagnosis Zoophobia
Dokter dapat menanyakan keluhan dan beberapa pertanyaan lain untuk mengevaluasi kondisi mental pasien secara keseluruhan guna menegakkan diagnosis zoophobia. Dalam beberapa kasus, keluhan berupa gejala fisik yang dialami oleh pasien juga bisa berhubungan dengan gangguan kecemasan atau masalah kesehatan mental lainnya.
Untuk menegakkan diagnosis zoophobia, dokter dapat menyesuaikan kondisi pasien dengan kriteria yang terdapat pada buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5), di antaranya sebagai berikut:
-
Sangat menghindari untuk berinteraksi atau hanya sekadar memikirkan hewan.
-
Rasa takut dan cemas berlebih tersebut telah berlangsung selama 6 bulan atau lebih.
-
Perasaan panik dan takut tersebut tidak sebanding dengan ancaman yang ditimbulkan oleh hewan.
-
Gejala yang dialami telah mengganggu aktivitas sehari-hari.
-
Rasa cemas dapat bertambah ketika pasien tahu bahwa ia mungkin akan melihat binatang.
Cara Mengatasi Zoophobia
Cara mengatasi fobia hewan pada dasarnya dapat dilakukan seperti perawatan fobia lainnya, yaitu melalui psikoterapi, terapi relaksasi, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Adapun penjelasan dari masing-masing metode pengobatan zoophobia adalah sebagai berikut:
-
Psikoterapi. Adapun beberapa jenis psikoterapi yang kerap digunakan untuk menangani zoophobia adalah:
-
Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy): Terapi yang dilakukan untuk mengubah pola pikir dan perilaku pasien ke arah yang lebih positif saat menghadapi kondisi yang memicu munculnya fobia.
-
Terapi paparan (exposure therapy): Melalui terapi ini, dokter dapat memaparkan hal-hal yang ditakuti oleh pasien secara bertahap. Tujuannya adalah untuk membantu mengurangi rasa takut dan cemas berlebihan.
-
Penggunaan obat-obatan. Dokter dapat meresepkan beberapa jenis obat, seperti antidepresan dan beta-blockers untuk membantu mengendalikan gejala zoophobia.
Pada dasarnya, zoophobia adalah masalah kesehatan mental yang perlu segera mendapatkan penanganan dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Jika Anda mengalami kondisi yang mengarah pada zoophobia, tak perlu ragu untuk melakukan konseling dengan Psikiatri dari Siloam Hospitals.
Agar lebih praktis, Anda juga bisa memanfaatkan layanan Telekonsultasi untuk berkonsultasi dengan dokter secara virtual. Melalui layanan ini, dokter pun dapat meresepkan obat-obatan tertentu sesuai dengan kondisi pasien. Namun, apabila mendapatkan resep obat antipsikotik dan antidepresan, pasien harus mengambilnya secara langsung (self pick up).
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini







