Kesehatan Tubuh
Mengenal Perbedaan Malaria dan DBD (Demam Berdarah Dengue)

Table of Contents
Malaria dan DBD (demam berdarah dengue) adalah dua jenis penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Tak heran bila beberapa orang masih belum memahami apa perbedaan dari kedua kondisi ini. Agar lebih memahaminya, mari simak ulasan mengenai perbedaan malaria dan DBD di bawah ini sampai tuntas.
Perbedaan Malaria dan DBD
Malaria dan DBD (demam berdarah dengue) adalah penyakit yang sama-sama ditularkan oleh nyamuk ke manusia, bukan dari manusia ke manusia. Perbedaan DBD dan malaria bisa dilihat dari berbagai aspek, antara lain penyebab, gejala, masa inkubasi, serta pengobatannya. Berikut uraian selengkapnya.
1. Penyebab
Perbedaan malaria dan DBD yang pertama adalah penyebabnya. Malaria disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles betina. Penularan malaria terjadi saat nyamuk Anopheles betina yang sebelumnya telah terinfeksi Plasmodium menggigit manusia.
Plasmodium tersebut kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah, lalu berkembang di dalam hati dan menyerang sel darah merah. Malaria tidak menular lewat kontak manusia dan manusia. Kendati demikian, penyakit ini dapat menyebar melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama, dan penularan dari ibu kepada bayi saat melahirkan.
Sementara itu, DBD (demam berdarah dengue) adalah kondisi yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini menularkan virus dengue ke manusia dengan cara menggigit dan mengisap darah korbannya.
Jadi, berdasarkan penyebabnya, disimpulkan bahwa malaria terjadi akibat infeksi parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles, sedangkan DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.
2. Gejala
Perbedaan malaria dan demam berdarah berikutnya adalah dari gejalanya. Gejala malaria biasanya muncul 10 hari sampai 4 minggu setelah gigitan nyamuk. Namun, pada beberapa kasus, gejala mungkin timbul dalam waktu 7 hari setelah terinfeksi. Secara umum, sejumlah gejala malaria adalah sebagai berikut:
-
Trias malaria, yaitu demam tinggi, menggigil, dan berkeringat.
-
Mual dan muntah.
-
Nyeri pada kepala, perut, dan otot.
-
Kelelahan.
-
Berkeringat.
-
Menurunnya nafsu makan.
-
Sulit bernapas.
-
Peningkatan detak jantung.
Sementara itu, gejala DBD umumnya diawali dengan demam tinggi yang bertahan selama 2–7 hari, lalu akan turun secara drastis. Selain itu, tanda dan gejala lain dari DBD adalah:
-
Nyeri kepala.
-
Ruam kulit.
-
Nyeri di belakang mata, tulang, dan otot.
-
Mual dan muntah
-
Mimisan.
-
BAB berwarna gelap.
Setelah mengalami gejala tersebut, penderita DBD akan memasuki fase kritis selama 2–3 hari. Pada fase ini, banyak yang mengira bahwa penderita sudah pulih karena gejala-gejalanya mereda. Padahal, fase inilah yang perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan dengue shock syndrome yang bisa berakibat kematian.
3. Masa Inkubasi
Perbedaan malaria dan DBD lainnya adalah lamanya masa inkubasi. Parasit penyebab malaria memiliki masa inkubasi lebih lama (7–30 hari) dibandingkan virus penyebab DBD (4–10 hari). Hal ini terjadi karena Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkembang dan menginfeksi saraf di dalam tubuh.
Itulah sebabnya, DBD sering kali terjadi secara mendadak, sedangkan malaria memerlukan waktu lebih lama hingga menimbulkan gejala.
4. Pengobatan
Pada malaria, pengobatan dilakukan dengan memberikan obat antimalaria yang akan disesuaikan dengan jenis parasit yang menginfeksi pasien. Seiring waktu, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk memantau keberhasilan pengobatan, yaitu tes hitung parasit minimal setiap 24 jam sekali. Targetnya, tidak ditemukan parasit penyebab malaria dalam 3 kali pemeriksaan berturut-turut.
Sementara itu, pengobatan untuk DBD biasanya bertujuan untuk meredakan gejala, memulihkan kondisi, dan memperbaiki sistem imun pasien. Pengobatan DBD adalah dengan cara melakukan rehidrasi, baik melalui oral atau cairan infus.
Selain itu, dokter juga akan meresepkan obat-obatan sesuai gejala yang dialami pasien, seperti antipiretik untuk menurunkan demam, antimuntah untuk menghentikan mual muntah dan agar pasien tetap dapat makan dan minum dengan cukup.
Dokter juga akan mengedukasi pasien beserta keluarga mengenai bahaya dari DBD agar pasien bersedia menerima perawatan lebih lanjut atau rawat inap, terutama jika kondisi pasien tidak memungkinkan dirawat di rumah.
Itulah penjelasan mengenai perbedaan malaria dan DBD yang perlu dipahami. Apabila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada dua kondisi tersebut, segera lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Vaksin Dengue 1x (Dewasa)
Vaksinasi
Rp800.000
Kunjungan Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Homecare
Rp640.000
TERPOPULER
Dengue Antigen NS1 / Demam Berdarah
Darah, Infeksi
1 Service/Item
Rp424.800
TERPOPULER
Dengue IgG/IgM / Anti Dengue IgG-M (Demam Berdarah)
Darah, Infeksi
1 Service/Item
Rp443.700
TERPOPULER
Dengue Duo (Antigen and Antibody) / Demam Berdarah
1 Service/Item
Rp518.400







