Sindrom Levator Ani: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Levator Ani: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

05 Juni 2025 4 menit waktu baca
sindrom levator ani

Levator ani atau otot dasar panggul adalah kumpulan otot yang terletak di antara tulang ekor dan tulang kemaluan di dalam panggul. Lantas, apa yang dimaksud dengan sindrom levator ani? Sindrom levator ani adalah jenis gangguan dasar panggul akibat otot-otot yang terlalu kaku atau tegang.

 

Jika diibaratkan seperti mangkuk, dasar panggul adalah dasar dari mangkuk yang menopang organ-organ di dalamnya, seperti rahim, rektum, dan kandung kemih. Ketika fungsi dasar panggul terganggu, penderita mungkin dapat merasakan sakit di dekat anus. Untuk memahami dampak dari sindrom levator ani pada tubuh dengan lebih baik, simak pembahasan berikut.

 

Apa itu Sindrom Levator Ani?

 

Levator ani syndrome atau sindrom levator ani adalah gangguan pada panggul bagian bawah akibat kontraksi spasmodik (kekakuan tiba-tiba dan sulit dikontrol) yang mengakibatkan rasa ketidaknyamanan di area panggul bawah. Biasanya, penderitanya merasakan sakit di daerah dubur, tulang sakrum, tulang ekor, hingga menjalar ke paha. Rasa sakit ini sering kali semakin parah saat posisi duduk, namun berkurang ketika berbaring atau berdiri.

 

Kebanyakan dari penderita sindrom levator ani adalah perempuan. Penderita biasanya merasakan nyeri tumpul yang terjadi secara terus-menerus pada area rektum (ujung dari usus besar, sebelum anus). Kondisi tersebut diakibatkan oleh otot levator ani yang tegang. Dalam dunia medis, sindrom levator ani dikenal dengan beberapa nama, yaitu nyeri anorektal kronis, sindrom piriformis, dan sindrom puborectalis.

 

Perlu diketahui bahwa gangguan pada panggul bagian bawah akibat otot-otot yang terlalu tegang dapat berujung pada masalah kesehatan pada organ lainnya. Salah satu gejala utama sindrom levator ani tersebut dapat memicu terjadinya nyeri panggul, disfungsi ereksi, dan rasa sakit saat berhubungan seksual.

 

Penyebab Sindrom Levator Ani

 

Masih belum dapat dipastikan penyebab sindrom levator ani. Namun, kondisi ini sering kali berhubungan dengan kondisi berikut:

 

  • Sering menahan buang air kecil atau buang air besar.

  • Otot vagina mengecil (atrofi) atau rasa nyeri pada vulva (vulvodynia).

  • Menderita nyeri panggul kronis karena kondisi lain, seperti endometriosis, sindrom iritasi usus besar, dan sistitis interstisial.

  • Memaksakan untuk melanjutkan hubungan seksual sekalipun terasa sakit.

  • Cedera pada dasar panggul akibat trauma, operasi, atau pelecehan seksual.

 

Gejala Sindrom Levator Ani

 

Sindrom levator ani termasuk gangguan yang berkelanjutan dan dapat berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Adapun gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita sindrom levator ani adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri yang datang dan pergi pada bagian dubur yang tidak ada kaitannya dengan gangguan buang air besar. Nyeri biasanya berlangsung selama <20 menit, dan umumnya lebih parah saat posisi duduk.

  • Sakit punggung bagian bawah (low back pain) yang menyebar ke selangkangan dan paha pada wanita.

  • Gangguan pada saluran kemih dan usus yang ditandai dengan konstipasi, kembung, sering buang air kecil, inkontinensia urine.

  • Rasa sakit sebelum, saat, dan setelah melakukan hubungan seksual (dispareunia) pada wanita.

  • Pada pria, rasa sakit berasal dari panggul bagian bawah hingga menyebar ke prostat, testis, ujung penis, serta uretra.

  • Ejakulasi dini dan menyakitkan serta disfungsi ereksi pada pria.

 

Diagnosis Sindrom Levator Ani

 

Untuk mendiagnosis sindrom levator ani, dokter pertama-tama akan melakukan wawancara medis (anamnesis). Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang akan dilakukan jika dibutuhkan. Diagnosis sindrom levator ani merupakan diagnosis ‘eksklusi’, di mana dokter harus memastikan adanya penyebab lain yang menyebabkan nyeri di area panggul. Apabila tidak ada, dokter baru dapat mendiagnosis sindrom ini.

 

Dokter dapat mendiagnosis sindrom levator ani menggunakan kriteria diagnosis Rome III, yaitu pada pasien yang mengalami gejala sebagai berikut:

 

  1. Nyeri rektum kronis (terus-menerus) atau berulang. 

  2. Episode nyeri berlangsung 20 menit atau lebih.

  3. Penyebab lain nyeri rektum seperti iskemia, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), kriptitis, abses intramuskular, fisura, wasir, dan prostatitis telah disingkirkan.

  4. Kriteria di atas muncul setidaknya pada tiga bulan terakhir, dengan gejala dimulai setidaknya enam bulan sebelum terdiagnosis.

  5. Rasa nyeri tekan pada otot puborectalis.

 

Dari 5 kriteria di atas, 4 kriteria pertama adalah kriteria diagnostik untuk proctalgia kronis. Sebagai informasi, proctalgia adalah nyeri pada area anus, rektum, atau sekitarnya secara tiba-tiba dan hilang dengan cepat. Sedangkan poin kelima mengacu pada faktor pembeda.

 

Pengobatan Sindrom Levator Ani

 

Dokter dapat memberikan rekomendasi obat untuk meredakan rasa sakit pada dasar panggul penderita sindrom levator ani. Sitz bath (merendam bokong dengan air hangat) biasanya direkomendasikan untuk meredakan rasa nyeri akibat otot dasar panggul yang tegang. Selain itu, dokter juga akan memberikan beberapa rekomendasi pengobatan sindrom levator ani berikut:

 

  • Terapi fisik, termasuk pijat dan biofeedback dengan terapis terlatih.

  • Obat pereda nyeri yang diresepkan dokter.

  • Obat untuk melemaskan otot yang diresepkan dokter.

  • Injeksi di titik pemicu dengan kortikosteroid atau toksin botulinum.

  • Akupunktur.

  • Stimulasi saraf.

  • Melakukan gerakan tertentu, seperti deep squat.

 

Sindrom levator ani ditandai dengan beberapa gejala yang cukup umum. Namun, tidak berarti semua kondisi yang disebutkan di atas mengindikasikan gangguan pada levator ani. Maka dari itu, Anda bisa mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi agar mendapatkan diagnosis yang akurat dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan.

 

Sebagai catatan, prosedur diagnosis dan pengobatan sindrom levator ani disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang tersedia di masing-masing rumah sakit. Dokter juga akan memastikan metode pengobatan yang sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Untuk menjadwalkan konsultasi dengan dokter, Anda bisa membuat janji temu dengan aplikasi MySiloam. Dengan MySiloam, Anda pun juga bisa mengecek hasil pemeriksaan secara online dan memesan paket kesehatan. Mari unduh MySiloam untuk memastikan kemudahan perjalanan kesehatan Anda dan keluarga.

Sumber

Healthline. Levator Ani Syndrome. Diakses pada 2024 | Gowda, Supreeth N.; Bordoni, Bruno. Anatomy, Abdomen and Pelvis: Levator Ani Muscle. Diakses pada 2024 | Seckin MD. Levator Ani Syndrome. Diakses pada 2024 | Luen NG, Ching. Levator ani syndrome - A case study and literature review. Diakses pada 2024 | MSD MAnual. Levator Syndrome. Diakses pada 2024 |

message

ArticleDetail