5 Penyebab Radang Sendi di Usia Muda yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan Tubuh

5 Penyebab Radang Sendi di Usia Muda yang Perlu Diwaspadai

01 April 2026 8 menit waktu baca
radang sendi di usia muda

Radang sendi atau arthritis adalah kondisi peradangan pada sendi yang dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, keterbatasan gerak, dan kekakuan sendi. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa muda. 

 

Berbagai faktor dapat berperan sebagai penyebab radang sendi di usia muda, seperti gangguan sistem imun, faktor genetik, cedera sendi, hingga kondisi kesehatan tertentu. Dengan memahami berbagai penyebabnya, gejala radang sendi pun bisa dikenali lebih awal. Mari simak informasi selengkapnya dalam artikel berikut.

 

Apakah Radang Sendi Bisa Terjadi di Usia Muda?

 

Meski sering dianggap sebagai penyakit pada usia lanjut, arthritis sebenarnya juga dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa muda. Pada anak-anak, salah satu jenis radang sendi yang umum adalah juvenile idiopathic arthritis (JIA). Kondisi ini sering muncul pada anak di bawah usia 16 tahun dan dapat berlangsung dalam jangka waktu lama.

 

Namun, pada remaja dan dewasa muda, radang sendi tidak selalu disebabkan oleh JIA. Kondisi lain seperti rheumatoid arthritis (RA), spondyloarthritis, lupus, infeksi sendi, atau cedera sendi berulang juga dapat menimbulkan keluhan radang sendi.

 

Analisis data National Survey of Children’s Health tahun 2017–2021 yang dilakukan oleh CDC menunjukkan bahwa sekitar 220.000 anak dan remaja di Amerika Serikat berusia di bawah 18 tahun telah didiagnosis mengalami arthritis. Angka ini setara dengan sekitar 305 kasus per 100.000 anak dan remaja. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat dan mencegah komplikasi jangka panjang.

 

Jenis Radang Sendi yang Terjadi pada Usia Muda

 

Beberapa jenis radang sendi diketahui lebih sering muncul pada kelompok usia muda. Berikut beberapa di antaranya:

 

1. Rheumatoid Arthritis

 

Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi, terutama lapisan sinovium, yaitu jaringan pelapis rongga sendi, sehingga menimbulkan nyeri, pembengkakan, dan kekakuan. Seiring waktu, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan perubahan bentuk sendi dan menurunkan kemampuan bergerak sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

2. Juvenile Idiopathic Arthritis

 

Juvenile idiopathic arthritis (JIA) termasuk penyakit autoimun yang menyebabkan radang sendi kronis pada anak-anak di bawah usia 16 tahun. Kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama dan tidak memiliki penyebab yang spesifik.

 

Peradangan pada JIA dapat terjadi di berbagai persendian di tubuh, tetapi paling sering mengenai sendi di lutut, pergelangan, dan jari tangan. Pada beberapa kasus, JIA juga dapat memengaruhi organ lain di luar sendi, sehingga memerlukan pemantauan lebih lanjut.

 

3. Gout Arthritis

 

Gout arthritis adalah radang sendi yang terjadi akibat penumpukan kristal asam urat di dalam sendi. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk serangan nyeri sendi mendadak, disertai pembengkakan, kemerahan, dan rasa hangat pada area sendi.

 

Keluhan ini paling sering terjadi pada sendi jempol kaki, tetapi sendi lain terutama di bagian kaki juga dapat terdampak. Meski jarang, gout arthritis juga dapat muncul pada usia yang lebih muda, terutama pada orang yang memiliki kondisi obesitas, riwayat keluarga gout, atau gangguan metabolisme asam urat.

 

Penyebab Radang Sendi pada Usia Muda

 

Radang sendi yang banyak dialami orang berusia muda biasanya tidak terjadi karena satu faktor saja, melainkan multifaktorial. Berikut beberapa faktor penyebab radang sendi yang muncul di usia muda:

 

1. Faktor Genetik/Keturunan

 

Faktor genetik dapat memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami radang sendi di usia muda. Jika ada anggota keluarga yang memiliki penyakit sendi tertentu, risiko untuk mengalami kondisi serupa bisa menjadi lebih tinggi. Meski demikian, faktor keturunan saja tidak selalu menjadi penentu utama. Gaya hidup dan lingkungan juga berperan dalam memicu munculnya penyakit tersebut.

 

2. Gangguan Sistem Imun

 

Pada beberapa jenis radang sendi, sistem kekebalan tubuh justru dapat menyerang jaringan sendi. Reaksi ini menyebabkan peradangan yang menimbulkan nyeri, bengkak, dan kekakuan. Gangguan seperti ini sering ditemukan pada penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, yang dapat muncul sejak usia muda.

 

3. Cedera pada Sendi

 

Riwayat cedera dapat meningkatkan risiko gangguan pada sendi di kemudian hari. Cedera akibat olahraga, robekan ligamen, patah tulang, atau benturan berulang dapat memengaruhi struktur sendi. Meski keluhan awal sudah membaik, kerusakan kecil pada tulang rawan bisa tetap terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan sendi lebih cepat dari yang seharusnya.

 

4. Berat Badan Berlebih (Obesitas)

 

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan beban pada sendi, terutama pada lutut dan pinggul yang berperan menopang berat tubuh. Tekanan yang berlangsung terus-menerus saat berdiri, berjalan, atau beraktivitas dapat mempercepat kerusakan sendi serta memperberat keluhan. 

 

5. Gangguan Metabolisme atau Kadar Asam Urat Tinggi

 

Kadar asam urat yang tinggi dapat menyebabkan terbentuknya kristal di dalam sendi dan memicu gout arthritis pada usia muda. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi asam urat berlebih atau tidak mampu membuangnya dengan optimal sehingga kadar asam urat menumpuk dalam darah dan akhirnya mengendap di sendi.

 

Gejala Radang Sendi di Usia Muda

 

Gejala radang sendi di usia muda dapat berbeda pada setiap orang. Namun, beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

 

  • Nyeri pada satu atau beberapa sendi memberat saat digunakan atau setelah aktivitas.

  • Pembengkakan sendi.

  • Sendi terasa kaku setelah periode tidak bergerak, misalnya saat bangun tidur atau setelah duduk lama.

  • Kemerahan atau rasa hangat di sekitar sendi.

  • Gerakan sendi terbatas.

 

Pada beberapa jenis radang sendi yang berkaitan dengan gangguan sistem imun, dapat muncul gejala tambahan seperti:

 

  • Demam ringan atau demam berulang tanpa penyebab yang jelas.

  • Muncul ruam pada kulit.

  • Keluhan pada mata, seperti mata merah, nyeri, penglihatan kabur atau mata kering.

 

Dampak Jika Radang Sendi Tidak Diobati

 

Radang sendi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan peradangan kronis. Kondisi ini dapat merusak tulang serta jaringan sendi secara progresif. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan deformitas sendi, penurunan fungsi gerak, hingga keterbatasan aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kasus, peradangan juga dapat memengaruhi organ lain di luar sendi. 

 

Cara Mencegah Radang Sendi di Usia Muda

 

Tidak semua jenis radang sendi dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sehat dapat membantu menurunkan risiko sekaligus menjaga kesehatan sendi sejak dini. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam aktivitas sehari-hari:

 

  • Menjaga pola makan yang sehat dan kaya serat

Pola makan yang bergizi seimbang, kaya serat, dan sesuai dengan usia penting untuk mendukung kesehatan sendi, menjaga berat badan ideal, dan mengurangi risiko peradangan dalam tubuh.

  • Menjaga berat badan tetap ideal

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada sendi dan memicu proses peradangan. Karena itu, menjaga berat badan tetap ideal secara tidak langsung dapat mengurangi risiko gangguan sendi.

  • Rutin melakukan aktivitas fisik

Anak-anak dan remaja dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur, sekitar 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang hingga cukup berat. Aktivitas ini dapat membantu memperkuat otot dan tulang, menjaga kebugaran tubuh, dan mendukung kesehatan sendi.

  • Melakukan pemeriksaan dan penanganan sejak dini

Jika muncul gejala radang sendi, pemeriksaan lebih awal sangat penting dilakukan. Diagnosis dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah kerusakan sendi permanen dan menjaga kualitas hidup tetap baik.

 

Cara Mengobati Radang Sendi di Usia Muda

 

Penanganan radang sendi pada usia muda bertujuan untuk meredakan nyeri, mengurangi peradangan, menjaga fungsi sendi, serta mencegah kerusakan yang lebih lanjut. Umumnya, pengobatan melibatkan kombinasi obat-obatan, terapi fisik, atau bahkan tindakan operasi. Berikut penjelasannya.

 

  • Penggunaan obat-obatan

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sering digunakan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan. Obat golongan Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs) juga bisa digunakan pada kondisi tertentu.

  • Fisioterapi

Terapi fisik dapat membantu meningkatkan kekuatan otot di sekitar sendi serta menjaga kelenturan dan rentang gerak sendi.

  • Terapi okupasi

Terapi ini membantu penderita mempelajari cara melakukan aktivitas sehari-hari yang lebih aman bagi sendi. Terapis juga dapat memberikan saran mengenai penggunaan alat bantu tertentu untuk mengurangi tekanan pada sendi.

  • Tindakan operasi

Pada kondisi yang sudah cukup berat dan tidak membaik dengan terapi lain, prosedur operasi dapat menjadi pilihan. Salah satu tindakan yang mungkin dilakukan adalah operasi penggantian sendi untuk membantu mengembalikan fungsi gerak.

 

Kapan Harus ke Dokter Jika Mengalami Radang Sendi?

 

Keluhan nyeri atau kaku sendi pada anak dan remaja tidak selalu menandakan radang sendi. Namun, kondisi ini perlu diperhatikan jika berlangsung cukup lama atau disertai gejala lain. Sebaiknya, segera periksakan ke dokter jika nyeri, pembengkakan, atau kekakuan pada sendi berlangsung lebih dari dua minggu, terutama jika disertai demam, ruam kulit, atau gangguan pada mata. 

 

Dokter akan melakukan pemeriksaan awal dan bila diperlukan dapat merujuk ke dokter spesialis reumatologi untuk pemeriksaan lanjutan, seperti tes darah, rontgen, CT scan, atau lainnya. Diagnosis sejak dini dapat membantu menentukan penanganan yang tepat dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut. 

 

Demikian pembahasan mengenai penyebab radang sendi pada usia muda, termasuk dari jenis radang sendi hingga gejala dan pilihan pengobatannya. Perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun saran medis langsung dari dokter.

 

Apabila Anda atau anak mengalami keluhan, seperti nyeri sendi yang tidak kunjung membaik, pembengkakan pada sendi, atau kekakuan yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Orthopaedi (Tulang) dan Traumatologi di Siloam Hospitals terdekat. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

 

Perlu diketahui bahwa proses pemeriksaan dan penanganan radang sendi dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas yang tersedia, jenis radang sendi yang dialami, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Meski demikian, tenaga medis akan berupaya memberikan perawatan yang aman dan tepat untuk membantu mengurangi keluhan serta menjaga fungsi sendi.

 

Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Radiologi

Sumber

Journal of Clinical Medicine. Lifestyle Factors and Their Influence on Rheumatoid Arthritis: A Narrative Review. Diakses pada 2026 | ScienceDirect. Rheumatoid Arthritis: Early Diagnosis and Treatment. Diakses pada 2026 | Medical Science. Rheumatoid Arthritis Prevalence and Risk Factors in Korean Adults: A Focus on Age and Sex Differences. Diakses pada 2026 | CDC. Arthritis Among Children and Adolescents Aged <18 Years — United States, 2017–2021. Diakses pada 2026 | Nusantara Hasana Journal. Edukasi Pengenalan Jenis Radang Sendi Berdasarkan Gejala Dan Pencegahannya. Diakses pada 2026 | Cornell University. Rheumatoid Arthritis: Automated Scoring of Radiographic Joint Damage. Diakses pada 2026 | National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. Gout. Diakses pada 2026 | SAVIKALPA. What Causes Arthritis in Young Adults?. Diakses pada 2026 | Healthline. How Young Can You Get Arthritis?. Diakses pada 2026 | America University of the Caribbean School of Medicine. Understanding Arthritis and Its Prevalence Among Young Adults. Diakses pada 2026 | Arthritis Foundation. Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA). Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Juvenile Idiopathic Arthritis. Diakses pada 2026 | NIAMS. Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA). Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail