Kesehatan Tubuh
Usia yang Direkomendasikan untuk Skrining Kanker Serviks

Table of Contents
Kanker serviks merupakan salah satu penyakit berbahaya pada wanita yang perlu diwaspadai sejak dini. Bahkan, kanker ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi wanita di Indonesia, selain kanker payudara. Itulah sebabnya, penting untuk melakukan skrining kanker serviks sejak dini. Lantas, berapa usia yang direkomendasikan untuk skrining kanker serviks? Simak informasi selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Pentingnya Skrining Kanker Serviks
Dilansir dari World Health Organization (WHO), kanker serviks adalah kanker paling umum keempat pada wanita di seluruh dunia. Pada tahun 2022, terdapat sekitar 660.000 kasus baru dan sekitar 350.000 kematian akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri, Kemenkes menyebutkan bahwa kanker serviks menjadi kanker kedua yang paling ditakuti dan banyak terjadi selain kanker payudara.
Melakukan skrining kanker serviks menawarkan peluang terbaik untuk mendeteksi penyakit ini sejak dini sehingga peluang keberhasilan pengobatan pun akan meningkat. Selain itu, skrining juga bisa membantu mencegah kanker serviks dengan menemukan perubahan sel serviks yang abnormal (lesi prakanker) sehingga bisa diobati lebih awal sebelum berubah menjadi kanker.
Usia yang Direkomendasikan untuk Skrining Kanker Serviks
Dalam pedoman American Cancer Society (ACS), usia yang direkomendasikan untuk menjalani tes HPV (Human papillomavirus) sebagai salah satu cara skrining kanker serviks adalah 25 tahun–65 tahun. Sebagai informasi, sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV.
Wanita berusia 25–65 tahun dianjurkan menjalani tes HPV untuk skrining kanker serviks setiap 5 tahun sekali. Jika tes ini tidak dilakukan, skrining dapat dilakukan dengan tes pendamping yang menggabungkan tes HPV dengan pap smear setiap 5 tahun atau pap smear saja setiap 3 tahun.
Pedoman ini juga menyebutkan bahwa orang yang berusia lebih dari 65 tahun bisa berhenti menjalani skrining tes HPV asalkan telah melakukan skrining secara rutin selama 10 tahun dengan hasil normal. Selain itu, wanita yang sudah menjalani pengangkatan serviks (histerektomi) tidak perlu menjalani skrining tes HPV, asal operasi dilakukan karena alasan yang tidak terkait dengan kanker serviks atau prakanker serius.
Namun, wanita yang memiliki riwayat prakanker serius, pasien disarankan untuk terus menjalani pemeriksaan tes HPV setidaknya selama 25 tahun setelah kondisi tersebut ditemukan, bahkan jika pasien sudah berusia di atas 65 tahun. Selain itu, wanita yang memiliki sistem imun lemah, juga disarankan lebih sering melakukan pemeriksaan tes HPV sesuai anjuran dokter.
Jenis-Jenis Skrining Kanker Serviks
Rutin melakukan skrining kanker serviks sesuai anjuran sangat penting untuk mendeteksi dini dan mencegah perkembangan penyakit. Berikut beberapa cara yang biasanya dilakukan untuk skrining kanker serviks:
-
Tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat): Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat konsentrasi 3–5% pada area leher rahim. Jika ada sel-sel abnormal, akan timbul bercak putih pada area leher rahim.
-
Tes human papillomavirus (HPV): Tes ini dilakukan dengan mendeteksi unsur DNA terhadap virus HPV pada sel serviks.
-
Tes Pap (pap smear): Tes ini dilakukan dengan pengambilan sedikit sel serviks menggunakan sikat (brush) khusus, yang nantinya akan dibawa di laboratorium. Sel-sel tersebut akan diperiksa guna menemukan ada atau tidaknya perubahan pada sel leher rahim (lesi prakanker).
-
Gabungan tes HPV dan Pap smear: Kedua jenis pemeriksaan ini bisa dilakukan bersama-sama untuk memeriksa HPV berisiko tinggi dan perubahan sel serviks.
Pengambilan sampel sel serviks untuk tes HPV dan pap smear dilakukan oleh dokter selama pemeriksaan vagina dengan memasukan alat spekulum atau “cocor bebek”. Setelah itu, sel serviks akan diambil sedikit menggunakan sikat lembut atau spatula, lalu sampel tersebut akan dikirim ke laboratorium dianalisis.
Pilihan lain untuk tes HPV adalah pasien menggunakan alat untuk mengambil sampel vaginanya sendiri, sambil diawasi oleh penyedia layanan kesehatan. Ini disebut pengambilan sampel mandiri dan tidak memerlukan pemeriksaan vagina. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani tes HPV:
-
Hindari hubungan seksual selama dua hari sebelum tes.
-
Hindari douching (cuci vagina) atau menggunakan obat-obatan vagina atau busa, krim, atau jeli pembunuh sperma.
-
Hindari melakukan tes selama periode menstruasi.
-
Sebelum pemeriksaan HPV DNA, buang air kecil untuk mengosongkan kandung kemih.
Faktor Risiko Kanker Serviks
Dilansir dari Klinik Kementerian Kesehatan, 90% penyebab kanker serviks adalah human papillomavirus (HPV). Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita terinfeksi HPV adalah sebagai berikut:
-
Berhubungan seksual di usia muda, di bawah 18 tahun.
-
Sering berganti pasangan seksual.
-
Melakukan hubungan seksual dengan pria yang sering bergonta-ganti pasangan seksual.
-
Aktif merokok atau menjadi perokok pasif.
-
Memiliki riwayat infeksi berulang pada jalan kelamin, biasanya disebabkan oleh kurangnya kebersihan alat kelamin.
-
Adanya riwayat hasil abnormal pada tes pap smear sebelumnya.
Itulah penjelasan mengenai usia yang direkomendasikan untuk skrining kanker serviks dan beberapa hal yang penting untuk Anda pahami. Namun, perlu diketahui juga bahwa pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan ketika pasien membutuhkannya. Dokter tentu akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien guna memastikan apakah pasien memenuhi syarat untuk menjalani tindakan ini.
Apabila Anda ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai pemeriksaan ini atau mengalami keluhan yang mengarah pada beberapa kondisi medis yang disebutkan di atas, Anda bisa mengunjungi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan di setiap rumah sakit mungkin berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.
Siloam Hospitals juga menyediakan Paket Skrining Kanker yang bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, lalu tinggal datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.
Sumber
World Health Organization (WHO). Cervical Cancer. Diakses pada 2024 | National Cancer Institute. Cervical Cancer Screening. Diakses pada 2024 | American Cancer Society. ACS Updates Cervical Cancer Screening Guidelines to Start Screening at Age 25. Diakses pada 2024 | American Cancer Society. The American Cancer Society Guidelines for the Prevention and Early Detection of Cervical Cancer. Diakses pada 2024 | Kemenkes. Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker Serviks. Diakses pada 2024 | Klinik Kementerian Kesehatan. Mengenal Faktor Risiko Kanker Serviks. Diakses pada 2024 | American Cancer Society. HPV Testing. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






