Perlu Waspada, Ini Penyebab Wabah Campak Kembali Menyebar
Kesehatan Tubuh

Perlu Waspada, Ini Penyebab Wabah Campak Kembali Menyebar

13 November 2025 4 menit waktu baca
Penyebab wabah campak kembali terjadi

Table of Contents

Baru-baru ini, wabah campak di Indonesia kembali menjadi perbincangan karena peningkatan kasusnya selama 2022 hingga ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa). Campak, yang juga dikenal dengan nama measles atau rubeola, adalah penyakit akibat infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam merah di kulit.

 

Campak merupakan penyakit menular yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Sebelum adanya vaksin, penyakit ini telah mewabah di seluruh dunia. Seiring berkembangnya layanan kesehatan dan tersedianya vaksin, kasus campak mulai menurun, namun masih tetap perlu diwaspadai hingga saat ini.

 

Lantas, apa yang membuat wabah campak kembali menyebar? Mari simak penjelasan selengkapnya dalam ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Campak?

 

Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Morbillivirus, salah satu virus dari famili Paramyxovirus. Infeksi virus ini dapat menular melalui droplet atau percikan air liur dari orang yang terinfeksi, misalnya saat bersin atau batuk.

 

Selain itu, virus penyebab campak juga dapat bertahan di suhu udara atau menempel pada benda selama kurang lebih dua jam. Sehingga, seseorang juga berisiko tertular campak bila menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus.

 

Beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko terkena campak yaitu belum melakukan vaksinasi MMR, melakukan perjalanan ke daerah yang terkena wabah campak, dan kekurangan vitamin A.

 

Campak lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Meski begitu, tak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga bisa mengalaminya, terutama bagi mereka yang belum pernah terkena campak sebelumnya. Inilah mengapa vaksinasi campak penting dilakukan sejak dini.

 

Gejala campak akan muncul sekitar 7-14 hari setelah tubuh terinfeksi virus. Di mana, gejala utamanya adalah munculnya ruam merah pada kulit disertai beberapa hal berikut ini:

 

  • Batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Nyeri otot.
  • Demam tinggi.
  • Tubuh lemas dan nafsu makan menurun.
  • Muncul bercak putih keabu-abuan di membran mukosa, seperti mulut dan tenggorokan.
  • Mata merah (konjungtivitis).

 

Sejarah Wabah Campak

 

Wabah campak memiliki sejarah yang cukup panjang. Campak ditemukan pertama kali pada tahun 1757 oleh seorang dokter Skotlandia. Ia juga mengatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh patogen yang dapat menular melalui darah pasien yang terinfeksi.

 

Campak menjadi penyakit yang mewabah ketika eksplorasi global meningkat di abad ke-16. Sebelum adanya vaksin, penyakit ini telah mewabah di seluruh penjuru dunia. Bahkan, kini masih menjadi epidemi di beberapa negara.

 

Campak masih menjadi penyakit yang perlu diwaspadai sampai saat ini. Menurut WHO, angka kematian akibat campak secara global masih cukup tinggi hingga lebih dari dua juta kematian setiap tahunnya.

 

Wabah Campak di Indonesia

 

Di Indonesia, kasus campak juga masih tinggi. Dilansir dari CDC, selama Juni-November 2022, Indonesia berada di peringkat ke-7 dalam negara teratas dengan wabah campak global.

 

Bahkan lonjakan kasus campak di Indonesia selama 2022 naik sebesar 32 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 12 provinsi yang menetapkan campak sebagai KLB.

 

Penyebab Wabah Campak Kembali Terjadi

 

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan wabah campak dapat terjadi kembali, di antaranya akibat menurunnya vaksinasi campak selama pandemi COVID-19 serta meningkatnya kaum anti-vaksin. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Menurunnya Vaksinasi Akibat Pandemi

 

Pandemi COVID-19 memiliki peran besar dalam kembalinya wabah kasus campak. Pasalnya, pandemi yang terjadi selama hampir tiga tahun terakhir ini menyebabkan vaksinasi campak menurun dan tidak merata. Masalah pada program vaksinasi ini mengakibatkan pencegahan campak menjadi tidak optimal.

 

Selain itu, kesulitan ekonomi efek dari pandemi juga cukup nyata terjadi dan membuat beberapa anak mengalami kekurangan gizi. Hal ini menyebabkan sistem imun anak tidak bisa bekerja secara optimal untuk melawan penyakit tersebut.

 

2. Meningkatnya Kaum Anti-Vaksin

 

Penyebab kembalinya wabah campak berikutnya juga disebabkan oleh fenomena anti-vaksin. Anti-vaksin sendiri merupakan suatu pemikiran yang menganggap bahwa vaksin tidak memberikan manfaat pada kesehatan bahkan menaruh kecurigaan yang negatif. Fenomena ini membuat WHO memasukkannya sebagai satu dari sepuluh ancaman kesehatan di dunia pada tahun 2019.

 

Pemikiran tersebut membuat beberapa orang tua enggan memberikan vaksinasi kepada anaknya. Padahal, campak hanya bisa dicegah melalui vaksinasi. Akibatnya, campak bisa dengan mudah menular kepada anak yang belum mendapatkan vaksin.

 

Vaksinasi campak terbukti berhasil mencegah terjadinya infeksi dan kematian akibat campak setiap tahunnya. Melalui vaksinasi tersebut, angka penyebaran dan kasus campak di seluruh dunia dapat menurun.

 

Cegah Campak Melalui Vaksinasi

 

Campak yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi, seperti diare berat, pneumonia, hingga meningitis pada bayi. Apabila sudah sangat parah, campak bahkan dapat menyebabkan kematian.

 

Beruntungnya, penyakit ini dapat dicegah melalui pemberian vaksin. Vaksinasi merupakan upaya paling efektif agar si kecil terhindar dari campak. Jenis vaksin yang diberikan untuk mencegah campak adalah vaksin MMR.

 

Vaksin MMR dapat membantu tubuh melindungi diri dari beberapa jenis penyakit, seperti gondongan, rubella, dan campak. Vaksin MMR pada anak diberikan sebanyak dua dosis secara bertahap, yaitu:

 

  • Dosis pertama: Saat usia anak 12-15 bulan.
  • Dosis kedua: Saat usia anak 4-6 tahun.

 

Imunisasi campak tersebut dapat dilakukan dengan memesan paket Medical Check Up - Vaksinasi dari Siloam Hospitals. Layanan ini memungkinkan anak mendapatkan vaksinasi MMR dari rumah tanpa harus berkunjung ke rumah sakit.


Pemesanan paket Medical Check Up dapat dilakukan dengan menghubungi call center kami di 1-500-181 atau melalui fitur dalam aplikasi MySiloam. Unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda beserta buah hati #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 3

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail