Androphobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Androphobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
androphobia adalah

 

Androphobia adalah jenis fobia yang ditandai dengan rasa takut berlebih terhadap laki-laki atau disebut juga fobia laki-laki (fear of men). Kondisi ini sering kali dipicu oleh pengalaman traumatis di masa lalu, misalnya pernah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki.

 

Pada dasarnya, rasa canggung saat berinteraksi dengan laki-laki yang baru dikenal merupakan suatu hal yang wajar. Namun, pada penderita androphobia, ia tidak hanya merasa canggung tetapi juga mengalami ketakutan berlebih. Mari pahami lebih lanjut tentang androphobia melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Androphobia?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, androphobia adalah jenis fobia spesifik yang membuat penderitanya merasa cemas atau takut berlebih terhadap laki-laki. Tidak hanya merasa malu atau canggung, namun penderita androphobia juga cenderung menghindari bertemu dengan laki-laki.

 

Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya, misalnya penderita akan kesulitan bekerja di tempat yang banyak laki-lakinya. Itulah sebabnya, androphobia perlu mendapatkan penanganan dari psikolog atau psikiater sesegera mungkin.

 

Androphobia bisa dialami oleh siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih sering ditemukan mengalami androphobia jika dibandingkan dengan laki-laki. 

Penyebab Androphobia

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab jenis fobia ini. Namun, salah satu faktor yang diduga kuat dapat menyebabkan terjadinya androphobia adalah pengalaman traumatis, seperti kekerasan seksual (pemerkosaan) atau ditelantarkan (neglect) oleh laki-laki. 

 

Adapun beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami androphobia adalah:

 

  • Pernah mengalami bullying (kekerasan), baik secara verbal, fisik, maupun emosional, yang dilakukan oleh laki-laki.

  • Terdapat keluarga atau orang terdekat yang juga menderita androphobia.

  • Menderita gangguan mental lain, seperti PTSD, OCD, atau bipolar.

  • Memiliki kepribadian sensitif, inhibited (kepercayaan diri rendah untuk mengungkapkan keinginan dan untuk bertingkah normal), atau tempramental.

  • Gangguan pada bagian otak yang berfungsi untuk merespons rasa takut.

  • Memiliki pengalaman menyakitkan dengan laki-laki di masa lalu, misalnya pernah berhubungan dengan laki-laki yang manipulatif dan melakukan kekerasan.

  • Pernah mendengar pengalaman orang, teman, atau saudara lain tentang pengalaman buruk mereka terhadap laki-laki. 

  • Pada anak, fobia terjadi biasanya sebelum usia 10 tahun.

 

Ciri-Ciri Androphobia

 

Pada kebanyakan kasus, orang dengan androphobia memiliki rasa takut berlebih saat bertemu atau melihat laki-laki. Bahkan, penderita mungkin akan menangis, berteriak, melarikan diri, dan bersembunyi ketika berhadapan dengan seorang pria, terlebih jika pria tersebut mendekat. 

 

Sebenarnya, orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya irasional, namun mereka merasa tidak mampu untuk mengontrolnya. Seiring bertambahnya usia, kondisi ini bisa semakin memburuk bila tidak mendapatkan penanganan.

 

Selain timbulnya rasa takut berlebih saat berhadapan dengan laki-laki, penderita androphobia biasanya juga menunjukkan sejumlah gejala fisik lainnya:

 

  • Jantung berdebar (palpitasi).

  • Mual.

  • Sesak napas.

  • Hiperhidrosis (keringat berlebih).

  • Gemetar.

  • Sakit kepala.

  • Mulut kering.

  • Gagap atau bicara tidak lancar.

  • Sakit perut.

  • Ketegangan otot.

 

Gejala-gejala di atas dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari, karena orang dengan androphobia akan secara aktif menghindari segala situasi yang mengharuskannya  berhadapan dengan laki-laki. 

 

Selain pada orang dewasa, fobia ini juga dapat terjadi pada anak-anak dan dapat dideteksi apabila anak mengalami gejala seperti tantrum, menangis, dan menolak ditinggalkan oleh orang tua perempuan jika didekati oleh laki-laki.

Diagnosis Androphobia

 

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis androphobia sehingga menggunakan metode diagnosis yang hampir sama dengan fobia spesifik lainnya. Beberapa faktor yang dipertimbangkan oleh dokter saat melakukan diagnosis pada pasien androphobia adalah sebagai berikut:

 

  • Ketakutan yang intens saat berhadapan dengan laki-laki yang terjadi setidaknya selama 6 tahun.

  • Gejala hampir selalu muncul sesegera mungkin saat berada di dekat laki-laki atau sekadar membayangkan berhadapan dengan laki-laki.

  • Kecemasan dan ketakutan yang dirasakan membuat pasien menghindari situasi atau tempat di mana ada laki-laki.

  • Ketakutan pasien terhadap laki-laki memengaruhi kemampuannya dalam bekerja, bersosialisasi, dan menikmati hidup.

  • Kecemasan dan ketakutan yang dirasakan tidak sebanding dengan bahaya yang sebenarnya.

 

Cara Mengatasi Androphobia

 

Pada dasarnya, cara mengatasi androphobia sama dengan jenis fobia lainnya, yaitu melalui psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Jenis psikoterapi yang sering direkomendasikan untuk penderita androphobia adalah terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi pemaparan (exposure therapy). Berikut uraian selengkapnya.

 

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT): CBT bertujuan untuk mengubah persepsi dan respons fisik penderita androphobia terhadap situasi yang membuat fobianya muncul. Terapi ini juga dapat membantu pasien berdamai secara emosional dengan trauma atau peristiwa menyakitkan yang dialami di masa lalu. Terapi ini bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan penderita untuk menguasai pikiran dan perasaan terhadap fobia.

  • Terapi paparan (exposure theory): Pasien akan dilatih untuk mengatasi rasa takutnya melalui paparan terus-menerus secara bertahap terhadap gambar atau situasi yang membuat fobianya kambuh sehingga bisa mengurangi gejala kecemasannya.  Awalnya terapi akan dimulai dengan menunjukkan foto laki-laki kepada pasien, memperdengarkan suara laki-laki, memperlihatkan video seorang laki-laki, dan pada akhirnya mengajak penderita untuk bertemu dengan laki-laki secara langsung. 

  • Pemberian obat-obatan: Dokter akan meresepkan obat anticemas yang bisa membantu meminimalkan gejala yang muncul saat pasien berhadapan dengan laki-laki.

 

Komplikasi Androphobia

 

Orang dengan androphobia cenderung mengalami kesulitan dalam fungsi sosialnya. Bahkan, penderita mungkin bisa mengalami panic attack dan depresi. Panic attack yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko terjadinya panic disorder (gangguan panik). Itulah sebabnya, terapi untuk androphobia adalah terapi yang juga sering diberikan pada pasien dengan panic disorder.

 

Berbagai komplikasi di atas dapat memengaruhi kualitas hidup penderita androphobia. Jadi, untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya penderita androphobia segera mendapatkan penanganan hingga ketakutannya mereda dan hilang.

 

Bila Anda, pasangan, atau kerabat menunjukkan sejumlah gejala yang mengarah pada jenis fobia ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals agar mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

 

Jika ingin berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dari rumah, Anda dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, jika mendapatkan resep jenis obat antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib melakukan self pick up.

 

telechat (1)

 

message

ArticleDetail