Apa itu Burnout? Ini Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Apa itu Burnout? Ini Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya

13 Oktober 2025 5 menit waktu baca
mengenal ciri-ciri burnout dan cara mengatasi

Burnout adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada penurunan motivasi dan kinerja seseorang. Bahkan, kondisi ini juga bisa membuat seseorang cenderung berperilaku negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

 

Mari simak informasi lengkap mengenai ciri-ciri burnout serta cara mengatasinya melalui pembahasan berikut ini.

 

Apa itu Burnout?

 

Burnout adalah suatu keadaan ketika seseorang merasa terlalu lelah, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Saat mengalami burnout, seseorang cenderung kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang sebelumnya dianggap penting baginya.

 

Burnout adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, kondisi ini kerap dialami oleh seseorang yang sering kali memaksakan diri untuk terus bekerja, memiliki beban kerja yang berat, bekerja di lingkungan yang toxic, kurangnya apresiasi atas pekerjaan dari atasan, atau melakukan kegiatan sehari-hari yang cenderung monoton.

 

Ciri-Ciri Burnout

 

Ciri-ciri utama yang kerap terjadi saat seseorang mengalami burnout adalah selalu merasa lelah dan stres saat melakukan aktivitas sehari-hari. Adapun sejumlah ciri-ciri umum dari burnout adalah sebagai berikut.

 

1. Kehilangan Semangat dan Minat untuk Melakukan Aktivitas

 

Pertama, ciri-ciri burnout adalah kehilangan semangat dan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Memaksakan diri untuk melakukan suatu kegiatan dalam jangka waktu lama dapat menguras banyak energi sehingga bisa memicu kelelahan.

 

2. Membenci Pekerjaan yang Digeluti

 

Burnout adalah rasa lelah berkepanjangan yang bisa menyebabkan munculnya stres dan frustrasi saat bekerja. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa sulit untuk berkonsentrasi, merasa tidak kompeten, tertekan, dan terbebani hingga akhirnya menimbulkan rasa benci terhadap pekerjaan yang digeluti. Hal tersebut juga turut menyebabkan performa kerja seseorang menjadi menurun dan kurang memuaskan.

 

3. Merasa Tidak Berharga

 

Ciri-ciri burnout berikutnya adalah timbulnya perasaan bahwa dirinya tidak berharga dan berguna. Hal ini kerap terjadi karena adanya penurunan kinerja dan produktivitas yang menyebabkan pencapaian pun ikut menurun.

 

4. Mudah Marah

 

Orang yang sedang mengalami burnout cenderung mudah marah dan tersinggung, terutama jika semuanya tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana dan ekspektasi. Selain itu, kondisi ini juga kerap terjadi karena adanya pekerjaan yang terus bertambah dan menumpuk, sehingga pekerjaan tidak selesai dan berujung pada penurunan performa kerja. Hal ini pun dapatmembuat seseorang menjadi lebih sensitif.

 

5. Cenderung Tertutup dari Lingkungan Sosial

 

Perasaan stres dan frustrasi yang dialami oleh penderita burnout dapat membuatnya bersikap sinis terhadap orang-orang di lingkungan sekitar pekerjaannya. Selain itu, mereka juga kerap menganggap aktivitas sehari-harinya merupakan beban hidup sehingga membuatnya merasa enggan untuk bersosialisasi, baik dengan rekan kerja, teman, maupun anggota keluarga.

 

6. Mudah Sakit

 

Apabila terjadi dalam jangka waktu panjang, burnout berisiko menurunkan sistem imun tubuh. Kondisi ini membuat seseorang rentan untuk terkena berbagai penyakit, seperti flu, sakit perut, badan pegal-pegal, dan lain sebagainya.

 

Selain itu, burnout berkepanjangan juga bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan tidur, seperti insomnia. Bahkan, kondisi ini pun berisiko memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan mental, seperti gangguan cemas hingga depresi.

 

7. Sakit Kepala

 

Tension headache adalah salah satu ciri-ciri fisik dari burnout yang umum terjadi. Kondisi ini ditandai dengan sakit kepala tegang yang rasa nyerinya bisa menyebar ke sekitar dahi, bagian belakang kepala, leher, hingga bahu.

 

Cara Mengatasi Burnout

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas, burnout adalah kondisi yang berisiko memengaruhi kesehatan mental seseorang. Karena itu, penting untuk segera mengatasi burnout dengan tepat guna menghindari risiko gangguan kesehatan mental. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi burnout adalah sebagai berikut.

 

A. Menjaga Keseimbangan Hidup

 

Cara mengatasi burnout yang pertama adalah dengan menjaga keseimbangan hidup, antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi (work-life balance) sebaik mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan membagi waktu untuk bersantai, bekerja, dan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya.

 

Misalnya, jika burnout disebabkan oleh pekerjaan, disarankan untuk beristirahat dengan mengambil cuti sesekali dan pergi berlibur untuk menjernihkan pikiran. Ini perlu dilakukan untukmengusir rasa lelah dan mengembalikan semangat serta motivasi kerja.

 

B. Mengevaluasi Setiap Kegiatan yang Dilakukan

 

Cara mengatasi burnout berikutnya yaitu dengan mengevaluasi setiap kegiatan yang dilakukan secara rutin. Selain itu, ada baiknya untuk bersikap realistis dan tidak menetapkan ekspektasi yang terlalu berlebihan guna meminimalkan rasa cemas dan stres berlebih. Jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi terhadap diri sendiri saat memperoleh suatu pencapaian.

 

C. Berbagi Cerita dengan Orang Terdekat

 

Cobalah untuk menceritakan apa yang Anda rasakan kepada kerabat atau orang-orang terdekat yang bisa dipercaya guna mendapatkan dukungan dalam memberikan semangat dan motivasi kepada diri sendiri. Selain itu, bercerita dengan orang yang tepat juga bisa membantu melepaskan emosi negatif serta meredakan stres yang kerap memicu munculnya burnout.

 

D. Menerapkan Gaya Hidup Sehat

 

Penting pula untuk menerapkan gaya hidup sehat sebaik mungkin guna membantu mengatasi burnout dari aktivitas sehari-hari. Sebab, menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu menjaga kesehatan tubuh sehingga membuat pikiran menjadi lebih fokus dan jernih.

 

Adapun sejumlah pola hidup sehat yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi burnout adalah:

 

  • Tidur yang cukup, minimal 7–9 jam setiap malam.

  • Rutin berolahraga. Olahraga dapat membantu mengoptimalkan produksi hormon endorfin yang bisa memicu perasaan bahagia sehingga membantu meredakan stres dan burnout.

  • Melakukan kegiatan yang menenangkan untuk membantu mengatasi stres, seperti berendam air hangat, mendengarkan musik, bermain dengan hewan peliharaan, dan lain-lain.

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.

  • Rutin melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi, yoga, atau tai chi untuk membantu mengelola stres.

 

E. Menghubungi Psikolog atau Psikiater

 

Jika membutuhkan bantuan dari tenaga medis profesional untuk mengatasi burnout, cobalah untuk menghubungi psikolog atau psikiater guna mendapatkan penanganan yang tepat. Apabila diperlukan, psikolog atau psikiater dapat memberikan terapi psikologis (psikoterapi), seperti cognitive behavioral therapy (CBT) untuk membantu memodifikasi perilaku, pola pikir, dan emosi yang tidak sehat.

 

Burnout perlu segera diatasi agar tidak mengganggu kualitas hidup secara berlebihan. Jika merasa terlalu lelah secara mental dan membutuhkan bantuan profesional, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi yang tersedia di Siloam Hospitals. Layanan ini dapat memudahkan pasien untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater dari mana pun dan kapan pun.

 

Apabila mendapatkan rekomendasi dari psikolog atau psikiater, Anda dapat melakukan skrining kesehatan mental Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) yang tersedia di Siloam Hospitals. Skrining ini dilakukan untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk kecenderungan psikologis, emosi, dan perilaku. 

 

Untuk memudahkan Anda dalam mengakses layanan kesehatan, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang menyediakan fitur check in mandiri dan antre secara online sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda. Unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan fisik serta mental Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail