Kesehatan Tubuh
Apa itu Disfonia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Hoarseness, dysphonia, atau disfonia adalah gangguan suara yang umum terjadi. Kondisi ini ditandai dengan suara serak, terdengar lebih lembut, atau bervolume lebih tinggi maupun lebih rendah daripada biasanya. Lantas, apa penyebab disfonia dan bagaimana cara mengatasinya? Untuk mengetahuinya, mari simak ulasan berikut ini sampai tuntas.
Apa itu Disfonia?
Seperti telah disebutkan sebelumnya, disfonia atau dysphonia adalah kondisi yang terjadi ketika suara terdengar kasar, serak, dan terengah-engah. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan gangguan pita suara yang berada di laring, yaitu saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan sistem pernapasan.
Disfonia adalah suatu kondisi yang cukup umum terjadi dan biasanya tidak disebabkan oleh masalah kesehatan yang berbahaya. Pada dasarnya, disfonia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
-
Disfonia akut: Jenis disfonia yang dapat sembuh dengan sendirinya. Dalam proses pemulihannya, penderita disarankan untuk mengistirahatkan pita suara dan menjalani pengobatan simtomatik.
-
Disfonia kronis: Jenis disfonia yang lebih kompleks dan menimbulkan gejala yang lebih berat. Disfonia kronis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti tumor atau kelainan bawaan.
Sebagai informasi, angka kejadian disfonia adalah sebesar 30% dan dapat terjadi pada pasien dari segala usia dan jenis kelamin. Prevalensi ini akan lebih tinggi pada pasien yang sering menggunakan suara dalam aktivitas sehari-hari, seperti penyanyi, guru, pelatih, dan operator telepon.
Penyebab Disfonia
Pada dasarnya, disfonia atau suara serak bisa terjadi ketika terdapat gangguan pada fungsi pita suara dan laring. Adapun beberapa kondisi yang dapat memengaruhi fungsi pita suara dan laring serta bisa memicu terjadinya disfonia adalah sebagai berikut.
-
Laringitis. Kondisi ini dapat dipicu oleh alergi, infeksi saluran pernapasan atas, atau sinusitis yang menyebabkan pembengkakan pita suara.
-
Berteriak atau berbicara dengan suara keras dalam jangka waktu lama.
-
Faktor usia. Pita suara dapat menipis dan melemah seiring dengan bertambahnya usia.
-
GERD.
-
Perdarahan pada pita suara.
-
Terdapat kista atau polip pada pita suara.
-
Kelumpuhan pita suara.
-
Papiloma saluran pernapasan berulang (PSPB), yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), khususnya tipe 6 dan 11.
-
Gangguan saraf atau neurologis, seperti stroke, penyakit Parkinson, dan lain-lain.
-
Kanker laring, kanker tenggorokan, atau kanker paru-paru.
Selain itu, berdasarkan penyebab yang mendasarinya, disfonia juga dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu disfonia spasmodik dan disfonia ketegangan otot. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Disfonia spasmodik (spasmodic dysphonia/SD): Kondisi langka yang memengaruhi otot-otot pita suara. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf pusat yang mengatur pergerakan pita suara sehingga dapat menyebabkan spasme pada otot tersebut dan mengganggu getaran pita suara.
-
Disfonia ketegangan otot (muscle tension dysphonia/MTD): Disfonia ketegangan otot terjadi ketika seseorang memberikan terlalu banyak tekanan pada pita suara yang dapat menyebabkan otot-otot pita suara menegang. Belum diketahui secara pasti apa penyebab MTD, namun kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh sistem produksi suara tubuh yang bereaksi terhadap iritasi, seperti akibat infeksi saluran pernapasan atas, perokok pasif, refluks laringofaring (LPR), atau penggunaan vokal yang berlebihan. Diperkirakan bahwa seseorang mencoba untuk mengompensasi perubahan vokal tersebut menggunakan tegangan otot yang berlebihan atau dengan penggunaan otot yang biasanya tidak aktif.
Gejala Disfonia
Gejala utama disfonia adalah suara terdengar serak dan kasar, lebih lembut, atau bervolume lebih tinggi maupun lebih rendah daripada biasanya. Selain itu, kondisi ini juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti batuk-batuk, tenggorokan terasa gatal, dan nyeri tenggorokan.
Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila disfonia juga disertai gejala berikut:
-
Suara serak yang sudah terjadi selama tiga minggu atau lebih.
-
Sakit untuk berbicara.
-
Sulit untuk bernapas atau menelan.
-
Batuk berdarah.
-
Terdapat benjolan di area leher.
-
Kehilangan suara.
Diagnosis Disfonia
Langkah awal yang dapat dilakukan dokter dalam mendiagnosis disfonia adalah anamnesis (wawancara medis) terkait dengan keluhan, kebiasaan atau pola hidup sehari-hari, dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya pembengkakan pada area kepala dan leher.
Lalu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dokter untuk mengonfirmasi diagnosis disfonia adalah:
-
Laryngoscopy, pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan alat berupa selang khusus yang dilengkapi dengan lampu dan kamera pada ujungnya ke dalam laring melalui mulut atau hidung untuk melihat kondisi laring.
-
Videostroboscopy, yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk memvisualisasikan getaran pita suara.
-
Botulinum toxin trial, yaitu penyuntikan botulinum toxin ke otot laring.
-
MRI.
Pengobatan Disfonia
Pada kasus yang tergolong ringan, disfonia dapat sembuh dan membaik dengan sendirinya. Pasien biasanya dianjurkan untuk mengistirahatkan pita suara dan menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin. Namun, jika menimbulkan gejala yang lebih berat yang telah mengganggu aktivitas sehari-hari, pengobatan disfonia dapat dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya, seperti:
-
Pemberian obat antibiotik jika disfonia akibat infeksi saluran pernapasan atas, laringitis, atau sinusitis.
-
Pemberian obat golongan kortikosteroid jika disfonia yang disebabkan oleh laringitis.
-
Pemberian antasida, penghambat pompa proton, dan perubahan gaya hidup untuk menangani disfonia akibat GERD atau gastroesophageal reflux disease, kondisi ketika asam lambung naik dari perut menuju kerongkongan (refluks asam).
-
Terapi suara (voice therapy) atau tindakan pembedahan jika disfonia disebabkan oleh polip, kista, atau papiloma pada pita suara.
Pencegahan Disfonia
Apabila berkaitan dengan kondisi medis tertentu, disfonia cenderung sulit untuk dicegah. Namun, sejumlah upaya dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya disfonia, salah satunya adalah dengan minum air putih yang cukup. Berikut adalah uraian selengkapnya.
-
Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.
-
Minum air putih yang cukup.
-
Menggunakan humidifier untuk menjaga kelembapan udara di lingkungan sekitar.
-
Istirahat yang cukup.
-
Membatasi konsumsi makanan pedas, minuman beralkohol, dan makanan atau minuman berkafein.
-
Berusaha untuk tidak berteriak atau berbicara terlalu keras dalam jangka waktu lama.
Meski cenderung tidak berbahaya, disfonia adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika Anda mengalami gejala-gejala disfonia seperti ulasan di atas, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dari dokter spesialis THT berpengalaman.
Selain itu, Anda juga dapat memperoleh perawatan medis secara berkelanjutan di rumah dengan memesan paket Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat dari layanan Siloam at Home.
Pemesanan paket tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi MySiloam. Atau, manfaatkan juga aplikasi MySiloam untuk mengakses layanan kesehatan lainnya dengan lebih cepat. Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini







