Kenali Hubungan Antara GERD dan Anxiety serta Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Kenali Hubungan Antara GERD dan Anxiety serta Gejalanya

06 Agustus 2025 4 menit waktu baca
gerd anxiety adalah

 

GERD (gastroesophageal reflux disease) dan anxiety atau rasa cemas merupakan dua kondisi yang berkaitan. Kedua kondisi tersebut sejatinya memiliki gejala berbeda, namun dapat berhubungan antara satu dan lainnya. Mari ketahui hubungan antara GERD dan anxiety lebih lanjut melalui pembahasan di bawah ini.

 

Adakah Hubungan Antara GERD dan Anxiety?

 

GERD mengacu pada gejala atau komplikasi yang dipicu oleh refluks asam lambung ke kerongkongan, sedangkan anxiety adalah respons natural tubuh terhadap stres. GERD anxiety adalah kondisi yang terjadi ketika anxiety menyebabkan refluks asam lambung atau sebaliknya.

 

Menurut hasil penelitian menggunakan metode Mendelian randomization (MR) yang dimuat di artikel pada Frontiers in Psychiatry (2023), ditemukan bahwa GERD yang diprediksi secara genetik dapat meningkatkan risiko anxiety disorder dan stres. Kendati demikian, hasil penelitian ini tidak mengindikasikan bahwa kecemasan atau depresi berdampak pada GERD. 

 

Penelitian pada jurnal The Cureus Journal of Medicine Science (2022) ditunjukkan bahwa GERD dapat meningkatkan risiko kecemasan ataupun depresi. Sebaliknya, kecemasan ataupun depresi dapat memperburuk gejala GERD. Peningkatan risiko terjadinya GERD sebesar 3,2 kali lipat ditemukan pada subjek dengan kecemasan tanpa depresi, 1,7 kali lipat pada subjek dengan depresi tanpa kecemasan, dan 2,8 kali lipat pada subjek yang mengalami kecemasan dan depresi.

 

Temuan atas kaitan GERD dan anxiety tersebut menduga adanya gangguan nyeri dan gangguan gastrointestinal yang berkaitan dengan zat kimia otak kolesistokinin (CCK), yang meningkatkan produksi asam lambung, memperlambat sistem pencernaan, dan menyebabkan peningkatan ketegangan otot yang dapat menekan lambung.

 

Meskipun sering kali digunakan bergantian, istilah stres dan kecemasan tidak merujuk pada hal yang sama. Stres merupakan reaksi fisik atas pemicu (trigger) langsung, sedangkan anxiety atau kecemasan adalah rasa khawatir atau gelisah. Anxiety bisa muncul sebagai reaksi terhadap stres, namun bisa juga terjadi tanpa stres sebagai pemicunya.

 

Secara umum, beberapa anggapan ilmiah memberikan kejelasan terkait peningkatan risiko anxiety disorder dan depresi yang disebabkan oleh GERD, di antaranya:

 

  • Peningkatan peradangan pada tubuh.

  • Gangguan tidur, seperti sleep deprivation dan insomnia kronis.

 

Baik GERD maupun anxiety dapat menyebabkan nyeri dada yang dapat disalahartikan sebagai serangan jantung. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan sejumlah gejala yang bisa berkembang menjadi siklus. GERD dapat menyebabkan stres dan kecemasan, serta sebaliknya.

 

Gejala GERD dan Anxiety

 

Meskipun saling berkaitan, GERD dan anxiety merupakan dua kondisi yang berbeda. Maka dari itu, gejalanya pun tidak sama. Berikut gejala yang biasanya muncul pada kondisi GERD:

 

  • Nyeri ulu hati (heartburn).

  • Nyeri di dada atau perut.

  • Mual atau sakit perut.

  • Muntah.

  • Nyeri saat menelan.

  • Bau mulut.

 

Anxiety memiliki gejala yang berbeda-beda bagi setiap penderitanya. Berikut adalah beberapa gejala anxiety secara umum:

 

  • Gugup atau gelisah.

  • Otot berkedut.

  • Detak jantung yang cepat.

  • Tegang baik secara fisik maupun mental.

  • Napas menjadi cepat (hiperventilasi).

  • Sulit fokus.

  • Rasa takut yang ekstrem.

  • Masalah pencernaan lain, seperti diare atau sembelit.

 

Di sisi lain, GERD dan anxiety memiliki beberapa gejala yang sama sehingga terkadang sulit membedakan antara keduanya. Berikut beberapa di antaranya:

 

  • Nyeri ulu hati.

  • Nyeri pada perut.

  • Mual.

  • Sensasi globus atau benjolan di tenggorokan yang bisa menyebabkan suara terdengar serak dan batuk kronis.

  • Insomnia.

 

Cara Mengatasi GERD Anxiety

 

Pengobatan GERD anxiety umumnya dilakukan secara fisik dan mental. Namun, terdapat pengobatan tertentu yang justru dapat memperburuk GERD atau gejala-gejalanya. Maka dari itu, penderita kondisi ini perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Umumnya, pengobatan GERD meliputi pemberian beberapa obat, seperti H2 blocker, proton pump inhibitors (PPIs), dan antasida. Sementara itu, penanganan anxiety secara umum meliputi psikoterapi dan pemberian obat-obatan, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs). Perubahan gaya hidup berikut juga dapat membantu mengatasi GERD anxiety:

 

  • Mengatur kuantitas makanan.

  • Menghindari makanan yang dapat memicu gejala GERD dan anxiety

  • Menghindari makan dalam kurun waktu dua sampai tiga jam sebelum tidur.

  • Menurunkan berat badan pada penderita obesitas serta menjaga berat badan ideal.

  • Berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol.

  • Meningkatkan asupan serat dan mengurangi lemak.

  • Mengatur posisi tidur seperti meninggikan kepala dan memosisikan tubuh miring ke kiri.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Pada beberapa kasus GERD anxiety, gejala-gejalanya dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup atau obat OTC (over-the-counter). Kendati demikian, seseorang yang mengalami anxiety atau refluks asam lambung kronis perlu berkonsultasi dengan dokter. Refluks asam lambung berkepanjangan dapat menyebabkan komplikasi, seperti luka jaringan di kerongkongan dan esofagus Barrett. Di sisi lain, anxiety disorder dapat menimbulkan komplikasi fisik dan mental.

 

GERD bisa diakibatkan oleh anxiety, namun terdapat beberapa faktor lain yang dapat memicu kondisi ini. Sebagai catatan, beberapa faktor kesehatan, seperti kehamilan, obesitas, kebiasaan merokok, dan hernia hiatus dapat menyebabkan refluks asam lambung.

 

Jika Anda merasakan cemas berkepanjangan yang diikuti dengan gejala-gejala GERD, seperti mual dan nyeri dada, segera konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Dokter akan memeriksa dan memberikan rekomendasi pengobatan GERD dan anxiety sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Proses pemeriksaan hingga penanganan juga akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi sehingga mungkin tahapannya akan berbeda-beda.

 

Apabila disarankan untuk melakukan pengecekan sistem pencernaan secara menyeluruh, Anda bisa memesan Skrining Sistem Pencernaan melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga disertai dengan fitur membuat janji temu dengan dokter, mengecek hasil tes kesehatan secara online, dan lainnya. Mari unduh MySiloam sekarang untuk memanfaatkan berbagai fiturnya yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Healthline. Is There a Connection Between GERD and Anxiety?. Diakses pada 2025 | MedicalNewsToday. Acid reflux and anxiety: What to know. Diakses pada 2025 | Korean Journal of Family Medicine. Gastro Oesophageal Reflux Disease Shadowing Anxiety Disorder Causing Prolonged Exposure to Proton Pump Inhibitor. Diakses pada 2025 | Frontiers. The causal role of gastroesophageal reflux disease in anxiety disorders and depression: A bidirectional Mendelian randomization study. Diakses pada 2025 | Cureus. Correlation of Anxiety and Depression to the Development of Gastroesophageal Disease in the Younger Population. Diakses pada 2025 | Sage Journals. Lifestyle Management of Gastroesophageal Reflux Disease: Evidence-Based Approaches to Improve Patient Care. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-leman-spkj-mkes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Leman, SpKJ, MKes

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jimmy-sebastian-ollich-spkj

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jimmy Sebastian Ollich, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-pricella-maria-ismail-spkj

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Pricella Maria Ismail, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Sentosa

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail