Mengenal Glomerulonefritis, Peradangan pada Struktur Ginjal
Kesehatan Tubuh

Mengenal Glomerulonefritis, Peradangan pada Struktur Ginjal

01 September 2025 4 menit waktu baca
glomerulonefritis adalah

 

Glomerulonefritis adalah kondisi medis ketika glomerulus (struktur kecil pada ginjal yang berfungsi menyaring darah dan mengeluarkan limbah) mengalami peradangan. Jika tidak segera ditangani, glomerulonefritis yang berkepanjangan dapat mengakibatkan gagal ginjal.

 

Oleh karena itu, gejala glomerulonefritis perlu dideteksi lebih awal guna menghindari berbagai komplikasi berbahaya lainnya. Mari ketahui penyebab, gejala, diagnosis, hingga cara mengatasi glomerulonefritis melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Glomerulonefritis?

 

Glomerulonefritis adalah kondisi ketika glomerulus mengalami peradangan. Glomerulus merupakan struktur ginjal yang bertugas menyaring limbah dan racun dari darah, serta membuang cairan berlebihan dari tubuh. Apabila glomerulus rusak, maka ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya dengan optimal dan berisiko menyebabkan gagal ginjal. Glomerulonefritis sendiri bisa bersifat akut (mendadak) dan kronis (dalam waktu yang lama).

 

Penyebab Glomerulonefritis

 

Sebagian besar penyakit glomerulonefritis dipicu oleh kondisi medis sebelumnya. Penyakit ini juga dapat diturunkan dari keluarga. Meski begitu, pada beberapa kasus, penyebab glomerulonefritis tidak diketahui secara pasti. Sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya glomerulonefritis adalah sebagai berikut:

 

1. Infeksi Virus

 

Salah satu penyebab glomerulonefritis adalah infeksi virus, seperti virus hepatitis B, hepatitis C, dan HIV (human immunodeficiency virus). Infeksi virus dapat memicu respons sistem imun tubuh yang berlebihan sehingga menyebabkan peradangan pada ginjal.

 

2. Infeksi Radang Tenggorokan

 

Pada beberapa kasus, glomerulonefritis terjadi satu atau dua minggu setelah seseorang mengalami radang tenggorokan yang disebut dengan glomerulonefritis akut pascainfeksi streptokokus (GNAPS). Kondisi ini lebih sering dialami oleh anak-anak, namun bisa dipulihkan dengan cepat.

 

3. Penyakit Autoimun

 

Penyakit autoimun, seperti lupus, juga dapat menyebabkan terjadinya glomerulonefritis. Glomerulonefritis akibat penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh atau sistem imun menyerang jaringan tubuh yang sehat, seperti glomerulus.

 

4. Penyebab Lainnya

 

Beberapa kondisi lain yang juga dapat menyebabkan glomerulonefritis adalah:

 

  • Penyakit ginjal diabetik (nefropati diabetik).

  • Penyakit vaskulitis yang menyerang pembuluh darah ginjal.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Poliarteritis nodosa, yaitu peradangan arteri sistemik.

 

Gejala Glomerulonefritis

 

Gejala glomerulonefritis berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

A. Glomerulonefritis Akut

 

Beberapa gejala glomerulonefritis akut adalah sebagai berikut:

 

  • Terdapat darah dalam urine (hematuria).

  • Pembengkakan pada wajah.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Lebih jarang buang air kecil.

  • Sesak dan batuk akibat cairan di dalam paru-paru.

 

B. Glomerulonefritis Kronis

 

Sementara itu, sejumlah gejala yang menandakan glomerulonefritis kronis di antaranya:

 

  • Tekanan darah tinggi.

  • Urine berbusa karena mengandung banyak protein (proteinuria).

  • Darah dalam urine (hematuria).

  • Mimisan.

  • Edema yang terlihat jelas di wajah, kaki, tangan, dan perut.

  • Sering buang air kecil, terlebih saat malam hari.

 

Gejala glomerulonefritis

 

Diagnosis Glomerulonefritis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat apakah terdapat pembengkakan pada wajah atau kaki (tungkai) dan memeriksa tekanan darah pasien.

 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis dan mengetahui penyebab glomerulonefritis, seperti:

 

  • Tes darah: Untuk melihat apakah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan protein albumin. Tes darah juga berguna untuk mengukur kadar zat sisa, seperti kreatinin dan ureum.

  • Tes urine: Untuk mengetahui ada atau tidaknya sel darah merah, leukosit, dan protein di dalam urine.

  • Tes imunologi: Untuk mendeteksi penyakit autoimun.

  • Tes pencitraan dengan rontgen, USG, atau CT scan: Untuk melihat kondisi ginjal dengan lebih jelas.

  • Biopsi ginjal: Untuk mendeteksi adanya jaringan abnormal dan memastikan terjadinya glomerulonefritis.

 

Pengobatan Glomerulonefritis

 

Pengobatan glomerulonefritis disesuaikan dengan penyebab, jenis, dan tingkat keparahan gejalanya. Salah satu perawatan yang paling penting pada penderita glomerulonefritis adalah mengontrol tekanan darah. Namun, penyakit glomerulonefritis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski begitu, gejalanya bisa diringankan melalui beberapa pilihan pengobatan berikut ini:

 

  • Pemberian obat antibiotik untuk mengatasi infeksi.

  • Pemberian obat pengontrol tekanan darah.

  • Pemberian obat kortikosteroid dan imunosupresif guna menurunkan respons sistem kekebalan tubuh yang menyerang ginjal.

  • Melakukan plasmapheresis, yaitu menghilangkan cairan dari plasma menggunakan intravena atau donor plasma.

  • Mengeluarkan cairan berlebihan dari tubuh dengan diuretik (pil air).

  • Menjalani diet rendah garam dan protein.

  • Menjalani dialisis (cuci darah) dan transplantasi ginjal jika sudah berlanjut ke gagal ginjal.

 

Pencegahan Glomerulonefritis

 

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah glomerulonefritis adalah sebagai berikut:

 

  • Menjalani rangkaian pengobatan yang disarankan dokter ketika mengalami infeksi bakteri, seperti radang tenggorokan.

  • Menerapkan hubungan seksual yang aman.

  • Menghindari penggunaan suntik yang sama dengan orang lain.

  • Mengontrol tekanan darah secara rutin untuk mencegah kerusakan ginjal akibat darah tinggi.

  • Mengontrol kadar gula darah secara rutin untuk mencegah atau mendeteksi lebih dini terjadinya nefropati diabetik.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Tidak menutup kemungkinan apabila gejala-gejala yang disebutkan merujuk pada kondisi medis lainnya.

 

Oleh karena itu, apabila Anda menyadari adanya darah pada urine, urine berbuih, atau perubahan frekuensi buang air kecil, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal dan Hipertensi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

 

Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kesehatan Ginjal yang bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, kemudian datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail