Kenali GVHD, Gangguan Pascatransplantasi dengan Risiko Fatal!
Kesehatan Tubuh

Kenali GVHD, Gangguan Pascatransplantasi dengan Risiko Fatal!

26 Mei 2025 5 menit waktu baca
gvhd adalah

 

GVHD (graft-versus-host disease) adalah komplikasi yang dapat terjadi setelah transplantasi sel punca hematopoietik atau sel darah yang belum matang. Kondisi ini ditandai dengan sel darah putih, yang disebut sel T, dari donor atau cangkok menyerang sel dalam tubuh resipien (penerima). Untuk mengetahui cara mengobatinya, mari simak pembahasan di bawah ini.

 

Apa itu GVHD?

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, GVHD adalah komplikasi akibat sel darah putih atau sel T dalam sel punca yang didonorkan menyerang sel tubuh resipien atau penerima donor. Hal ini dikarenakan sel dari donor (graft) atau cangkok mendeteksi sel tubuh resipien (host) sebagai benda asing dan kemudian menyerangnya. GVHD biasanya terjadi dalam 100 hari pertama setelah transplantasi.

 

Transplantasi sel punca sendiri biasanya diperlukan apabila seseorang menderita gangguan pada sel darah, seperti kanker dan kegagalan sumsum tulang. Penderita leukimia, limfoma, atau anemia aplastik umumnya dapat menjalani transplantasi sel punca.

 

Namun, pada kondisi GVHD, sel punca menyerang sel-sel dalam tubuh resipien yang dianggap sebagai benda asing. Komplikasi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan di berbagai organ, termasuk kulit, paru-paru, saluran pencernaan, dan hati. Adapun kondisi GVHD diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu:

 

  • GVHD akut: Terjadi dalam waktu 100 hari setelah transplantasi sel punca dengan gejala GVHD akut.

  • GVHD akut onset lambat (late-onset acute GVHD): Terjadi lebih dari 100 hari setelah transplantasi sel punca dengan gejala GVHD akut.

  • GVHD kronis: Terjadi setelah 100 hari transplantasi sel punca dengan gejala GVHD kronis.

  • Overlap syndrome: Dapat terjadi kapan saja setelah transplantasi sel punca dengan ciri-ciri GVHD akut dan kronis.

 

Penyebab GVHD

 

Umumnya, sel darah putih dalam sistem imun melindungi tubuh seseorang dari infeksi dengan cara melawan ancaman, seperti bakteri dan virus. Sel-sel darah ini tidak menyerang sel-sel tubuh sendiri karena mereka mengenali human leukocyte antigen (HLA) yang berfungsi untuk identifikasi sel milik tubuh.

 

Pada GVHD, sel punca donor dari transplantasi tidak dapat mengenali sel tubuh resipien sebagai HLA sehingga menganggapnya sebagai ancaman. Tubuh akan membuat sel darah baru setelah menerima donor sel punca. Sel darah baru ini akan memiliki HLA seperti HLA donor. Apabila HLA terlalu berbeda dengan HLA resipien, sel darah yang didonorkan akan menyerang sel tubuh.

 

Maka dari itu, penting bagi tenaga medis yang bertanggung jawab menjalankan prosedur transplantasi untuk melakukan uji HLA calon donor. Tingkat kecocokan HLA donor dan HLA resipien dapat membantu mengurangi risiko GVHD. Perlu dicatat bahwa setiap orang memiliki HLA yang berbeda. HLA yang sama pada dua orang hanya dimiliki oleh kembar identik. Selain HLA, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko GVHD adalah sebagai berikut:

 

  • Sel punca donor diambil dari aliran darah, bukan dari sumsum tulang.

  • Pendonor atau resipien berusia lanjut.

  • Pendonor sel punca pernah hamil.

  • Jenis kelamin pendonor dan resipien tidak cocok.

 

GVHD muncul dari interaksi kompleks faktor imunologi selama transplantasi alogenik. Penyebab terjadinya GVHD melibatkan pengenalan jaringan penerima sebagai benda asing oleh sel imun donor, sehingga menyebabkan serangan yang dimediasi sel imun pada tubuh penerima. GVHD terjadi dalam situasi berikut:

 

  • Setelah transplantasi sumsum tulang alogenik (paling umum). Transplantasi alogenik adalah suatu prosedur ketika seorang pasien menerima sel-sel pembentuk darah yang sehat (sel induk) dari seorang donor untuk menggantikan sel-sel induk mereka sendiri yang telah dihancurkan oleh pengobatan radiasi atau kemoterapi dosis tinggi.

  • Setelah transplantasi organ padat yang kaya akan sel limfoid (misalnya hati).

  • Setelah transfusi darah yang tidak diradiasi.

 

Gejala GVHD

 

Pembagian gejala GVHD didasarkan pada kondisinya, yaitu akut dan kronis. Tingkat keparahan gejalanya dimulai dari ringan, sedang, hingga parah atau berpotensi fatal. Berikut adalah beberapa gejala GVHD akut yang menyerang kulit, saluran pencernaan, atau hati:

 

  • Ruam atau kemerahan pada kulit yang menyerupai sunburn.

  • Nyeri atau gatal pada kulit.

  • Mual.

  • Muntah.

  • Diare.

  • Kram perut.

  • Kulit dan/atau mata berubah warna menjadi kuning (penyakit kuning).

 

Sementara itu, GVHD kronis ditandai dengan beberapa gejala yang memengaruhi fungsi kulit, saluran pencernaan, hati, dan paru-paru, seperti:

 

  • Luka pada mulut.

  • Ruam dan/atau gatal pada kulit atau anggota tubuh lainnya.

  • Mulut kering.

  • Penyakit gusi.

  • Batuk kering yang terjadi secara terus-menerus.

  • Sesak napas (dispnea).

  • Mata kering atau terasa berpasir.

  • Gangguan penglihatan.

  • Rambut rontok di kepala dan tubuh.

  • Mual dan muntah.

  • Diare.

  • Warna kulit dan/atau mata berubah menjadi kuning (penyakit kuning).

  • Kelelahan.

  • Otot lemah, kram, atau terasa nyeri.

  • Kurangnya rentang gerak pada persendian.

  • Vagina kering, gatal, atau nyeri saat berhubungan intim.

  • Penis atau skrotum terasa gatal atau nyeri saat berhubungan intim.

 

Diagnosis GVHD

 

Prosedur diagnosis GVHD dimulai dengan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu. Dokter akan menanyakan riwayat medis dan gejala yang dialami pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan mengevaluasi hasil tes laboratorium serta pengujian lain, seperti:

 

 

Pengobatan GVHD

 

Setelah transplantasi, dokter biasanya memberikan obat pencegahan (profilaksis) untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Obat ini dapat menekan kemampuan sel donor menyerang jaringan tubuh. Apabila obat yang diresepkan tidak memberikan efek yang diharapkan, dokter akan merekomendasikan perawatan sesuai dengan tingkat keparahan GVHD.

 

Namun, konsumsi obat imunosupresif (obat penekan kerja sel imun) disertai dengan efek samping, yaitu sistem imun yang melemah. Apabila sistem imun melemah, tubuh akan lebih berisiko terkena infeksi bakteri, jamur, dan virus. Untuk itu, dokter mungkin meresepkan beberapa obat untuk membantu mencegah terjadinya infeksi.

 

Pengobatan untuk GVHD bergantung pada tingkat keparahan gejala dan organ yang terlibat. Sebagian besar pilihan pengobatan difokuskan pada imunosupresi sel T donor. Kortikosteroid menjadi pengobatan yang paling umum digunakan.

 

Pengobatan topikal dapat digunakan untuk mengatasi gejala kulit pada GVHD. Kortikosteroid topikal, pelembap, dan tindakan suportif lainnya dapat meredakan gejala dan mempercepat penyembuhan. Perawatan suportif untuk penanganan gejala dan komplikasi yang terkait dengan GVHD, seperti infeksi, kekurangan nutrisi, dan ketidakseimbangan elektrolit juga dapat dilakukan.

 

GVHD dapat terjadi pada siapa saja yang melalui prosedur transplantasi sel punca. Apabila Anda berencana untuk melakukan transplantasi, akan sangat penting untuk menemukan donor dengan HLA yang cocok dengan HLA Anda. Namun, jika merasakan gejala-gejala yang berkaitan dengan GVHD setelah transplantasi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik di Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Dokter akan menegakkan diagnosis dan memberikan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. Serangkaian tes dan pengobatan pun akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga pelaksanaan di satu lokasi dan lainnya bisa berbeda.

 

Jika Anda membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan kanker yang menyeluruh, kunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Pusat unggulan pengobatan kanker dari Siloam Hospitals Group ini menyediakan prosedur deteksi dini kanker, radioterapi, onkologi bedah, kemoterapi, dan metode pengobatan lainnya yang dapat membantu pengobatan kondisi Anda.

Sumber

National Library of Medicine. Graft-Versus-Host Disease. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Graft vs. Host Disease. Diakses pada 2024 | Cancer Research UK. What Is Graft Versus Host Disease (GVHD)?. Diakses pada 2024 | WebMD. What Is Graft Versus Host Disease?. Diakses pada 2024 | PennMedicine. Graft Versus Host Disease (GVH). Diakses pada 2024 |

message

ArticleDetail