Saat Indra Penciuman Mulai Hilang (Hyposmia), Apa yang Harus Dilakukan?
Kesehatan Tubuh

Saat Indra Penciuman Mulai Hilang (Hyposmia), Apa yang Harus Dilakukan?

02 Juni 2025 4 menit waktu baca
hyposmia adalah

 

Hyposmia adalah kondisi yang mengacu pada penurunan kemampuan indra penciuman. Kondisi ini dapat membuat penderitanya kesulitan dalam mendeteksi serta mengidentifikasi bau atau aroma. Ketika indera penciuman menurun, kemampuan untuk mengecap makanan juga dapat berubah. Mari simak informasi selengkapnya mengenai hyposmia di bawah ini.

 

Apa itu Hyposmia?

 

Seperti yang sudah disinggung, hyposmia adalah kondisi ketika kemampuan untuk mencium atau mendeteksi bau melalui hidung menurun. Akibatnya, penderita hyposmia tidak bisa mengidentifikasi bau. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanya penyakit serius.

 

Hyposmia berbeda dengan anosmia yang merujuk pada hilangnya indra penciuman secara total dan parosmia yang merujuk pada indra penciuman yang tidak normal. Sebagai informasi, hyposmia adalah salah satu gejala umum dari penyakit COVID-19. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini bisa menjadi gejala yang pertama kali disadari oleh penderitanya. 

 

Sebagai salah satu indra yang paling mendasar, penciuman memainkan peran besar dalam kehidupan kita. Beberapa kegunaannya antara lain untuk menemukan dan menikmati sensasi baru, membantu mengingat pengalaman masa lalu, dan mendeteksi bau yang berpotensi berbahaya, seperti gas yang bocor atau makanan basi.

 

Penyebab Hyposmia

 

Hyposmia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, namun yang paling umum adalah peradangan dalam hidung. Masalah neurologis (saraf) yang memengaruhi otak juga diketahui dapat menyebabkan gangguan indra penciuman. Adapun beberapa kondisi kesehatan yang bisa menyebabkan hyposmia adalah sebagai berikut:

 

 

Selain kondisi kesehatan tertentu, hyposmia juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan berikut ini:

 

  • Merokok.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, antihistamin, dan antidepresan.

  • Paparan bahan kimia, seperti timbal, dalam jangka panjang.

  • Penggunaan kokain.

  • Terapi radiasi kepala dan leher.

 

Sementara itu, beberapa kondisi neurologis yang juga dapat menyebabkan hyposmia adalah:

 

 

Gejala Hyposmia

 

Gejala hyposmia bisa muncul secara bertahap atau tiba-tiba, dimulai dengan menurunnya kemampuan indra penciuman hingga ketidakmampuan untuk mencium apa pun. Secara umum, gejala hyposmia adalah sebagai berikut:

 

  • Berkurangnya indra penciuman secara keseluruhan.

  • Kesulitan mendeteksi bau tertentu.

  • Kesulitan membedakan bau tertentu.

  • Perubahan pada indra pengecap (disgeusia).

 

Diagnosis Hyposmia

 

Dalam proses diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter akan memeriksa bagian dalam hidung menggunakan peralatan khusus untuk memeriksa apakah ada polip atau pertumbuhan lainnya yang mengganggu kemampuan penciuman. Selain pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan tes diagnostik lainnya, seperti:

 

  • Tes indra penciuman.

  • Endoskopi hidung, yaitu prosedur medis untuk memeriksa saluran hidung dan sinus yang dilakukan dengan menggunakan endoskopi. Endoskopi adalah sebuah tabung tipis, fleksibel, atau kaku, yang dilengkapi dengan kamera kecil dan lampu.

  • Tes pencitraan, seperti CT scan dan MRI.

 

Komplikasi Hyposmia

 

Hyposmia dapat memberikan dampak negatif yang signifikan pada kualitas hidup. Utamanya, kondisi ini membuat penderitanya tidak dapat mendeteksi bau yang menunjukkan bahwa ia dalam bahaya, seperti:

 

  • Kebocoran gas.

  • Api atau asap.

  • Makanan basi.

  • Bahan kimia beracun.

 

Pengobatan Hyposmia

 

Pengobatan hyposmia dapat meliputi perubahan gaya hidup, obat-obatan, dan pembedahan. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

1. Perubahan Gaya Hidup

 

Penderita hyposmia yang disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti merokok, dapat mengatasi kondisi ini dengan menghindari atau menghentikan faktor pemicunya. Misalnya, dengan menghentikan kebiasaan merokok, penderita mungkin saja akan mendapatkan kemampuan penciumannya kembali atau mencegah penurunan kemampuan penciuman lebih lanjut.

 

2. Pengobatan

 

Dokter juga dapat meresepkan obat untuk mengobati penyebab yang mendasari gejala hyposmia. Misalnya, jika hyposmia disebabkan oleh alergi, dokter mungkin merekomendasikan antihistamin atau kortikosteroid. Dokter juga dapat meresepkan antibiotik untuk mengatasi hyposmia akibat sinusitis.

 

3. Operasi

 

Pada kasus yang parah, pasien mungkin memerlukan pembedahan untuk mengobati hyposmia. Namun, jenis pembedahan yang diperlukan tergantung pada penyebabnya. Misalnya, pada penderita yang memiliki septum hidung yang bengkok, dokter dapat melakukan septoplasty. Jika pasien mengidap polip hidung, dokter dapat mempertimbangkan untuk melakukan prosedur pembedahan untuk mengangkatnya.

 

Perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis yang akurat secara medis. Oleh sebab itu, apabila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada hyposmia, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala Leher di Siloam Hospitals terdekat.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Medical News Today. Hyposmia: Why do people lose their sense of smell?. Diakses pada 2024 | WebMD. What Is Hyposmia?. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Hyposmia. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-agustinus-sony-yudianto-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ropi-affandi-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-emanuel-q-sptht-kl

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL

Otorinolaringologi (THTBKL)

Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail