Imunosupresan: Jenis, Penggunaan, dan Efek Sampingnya
Kesehatan Tubuh

Imunosupresan: Jenis, Penggunaan, dan Efek Sampingnya

30 Mei 2025 4 menit waktu baca
munosupresan adalah.

 

Imunosupresan adalah obat yang digunakan untuk menekan respons sel-sel kekebalan tubuh. Obat imunosupresan dapat digunakan untuk berbagai kondisi, misalnya untuk mengatasi penyakit autoimun dan mencegah penolakan transplantasi organ atau sel punca. Hal ini bermanfaat agar sistem imun tubuh tidak menyerang organ baru atau sel-sel punca karena dianggap sebagai zat asing. 

 

Kendati demikian, penggunaan imunosupresan yang tidak tepat justru dapat membahayakan sehingga memerlukan pengawasan dari dokter. Lantas, apa saja jenis imunosupresan dan bagaimana penggunaan yang dianjurkan? Simak di bawah ini.

 

Apa itu Imunosupresan?

 

Imunosupresan adalah obat yang berfungsi untuk menekan respons sel-sel imun, dengan tujuan agar sistem imun tubuh bekerja sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk membasmi infeksi dari bakteri, virus, dan sel kanker, tanpa menyerang sel-sel sehat yang keliru dianggap sebagai ancaman. Tenaga medis memberikan imunosupresan ketika sistem imun tubuh terdeteksi menyerang sel-sel dan jaringan sehat.

 

Saat sistem imun tubuh tidak bekerja sebagaimana mestinya, imunosupresan pun diberikan untuk membantu memperlambat atau menghentikan respons abnormal tersebut. Akan tetapi, pemberian imunosupresan juga dapat melemahkan sistem imun sehingga berisiko membuat tubuh rentan terkena infeksi bakteri, jamur, dan virus.

 

Tenaga medis umumnya memberikan imunosupresan untuk mengobati pasien yang mengidap penyakit autoimun. Di samping itu, imunosupresan juga dapat digunakan untuk menekan respons sistem imun agar tidak menyerang organ atau sel punca yang ditransplantasi.

 

Jenis Imunosupresan

 

Terdapat beberapa jenis imunosupresan, namun yang paling umum digunakan adalah corticosteroid, seperti prednisone. Dokter akan menentukan jenis imunosupresan yang sesuai berdasarkan kondisi tertentu dan gejala-gejala yang dialami pasien. Berikut adalah beberapa jenis imunosupresan yang umumnya digunakan:

 

  • Biologics: Berfungsi untuk mengurangi respons sistem imun terhadap berbagai kelainan dalam tubuh. Beberapa contoh jenis imunosupresan biologics dalah adalimumab, etanercept, infliximab, ustekinumab, tocilizumab, dsb.

  • Calcineurin inhibitors: Bekerja untuk memblokir enzim stimulan sel-T atau sel darah putih yang melawan infeksi. Tacrolimus adalah salah satu contoh jenis imunosupresan calcineurin inhibitors.

  • Inosine Monophosphate Dehydrogenase (IMDH) inhibitors: Menghambat laju pertumbuhan sel. Contoh imunosupresan jenis ini adalah azathioprine, leflunomide, dan mycophenolate.

  • Mechanistic Target of Rapamycin (mTOR) inhibitors: Mencegah pertumbuhan dan perkembangbiakan sel. Everolimus adalah salah satu contoh mTOR inhibitors.

  • Janus Kinase (JAK) inhibitors: Membatasi aktivitas enzim Janus kinase sehingga mengurangi risiko peradangan. Contoh imunosupresan jenis Janus kinase inhibitors adalah baricitinib, ruxolitinib, abrocitinib, dsb.

 

Penggunaan Imunosupresan

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, imunosupresan adalah obat yang berfungsi menghambat respons sistem imun tubuh pada kondisi tertentu. Imunosupresan dapat diberikan sebagai obat untuk menangani penyakit autoimun dan membantu melancarkan aktivitas transplantasi. Berikut penjelasannya:

 

A. Pengobatan Penyakit Autoimun

 

Imunosupresan dapat digunakan untuk mengatasi penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pada kondisi autoimun, sistem imun yang seharusnya hanya melawan infeksi justru menyerang sel dan jaringan sehat tubuh. 

 

Imunosupresan bekerja dengan menekan intensitas reaksi sistem imun, sehingga mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel dan jaringan sehat yang seharusnya dilindungi. Adapun beberapa jenis penyakit autoimun yang mungkin membutuhkan imunosupresan adalah:

 

B. Transplantasi Organ atau Sel Punca (Stem Cell)

 

Prosedur transplantasi organ membutuhkan imunosupresan untuk menekan respons sistem imun. Hal ini bertujuan untuk mengurangi reaksi penolakan tubuh terhadap organ baru yang ditransplantasikan. Penolakan organ baru bisa terjadi jika sistem imun mengenalinya sebagai zat asing bagi tubuh.

 

Pada transplantasi organ, imunosupresan diberikan untuk mengelola respons imun terhadap organ baru. Dengan begitu, organ baru bisa berfungsi sebagaimana mestinya tanpa gangguan akibat reaksi sistem imun tubuh yang mengenalinya sebagai benda asing atau ancaman dari luar.

 

Sementara itu, pada transplantasi sel punca yang biasanya diperuntukkan bagi penderita kanker darah, kelainan darah, atau masalah sumsum tulang, sel punca (stem cells) baru bertugas menggantikan sel yang tidak sehat, sehingga tubuh dapat membangun kembali sistem imun yang baru. Namun, pada beberapa kasus, sistem imun baru bisa menganggap tubuh sebagai benda asing dan menyerang sel serta jaringan sehat. Kondisi ini disebut dengan Graft versus Host (GvHD).

 

Efek Samping Imunosupresan

 

Imunosupresan bukanlah pengobatan yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Pemberian atau konsumsi imunosupresan harus dilakukan sesuai dengan resep dokter. Dengan dosis terukur, sistem imun dapat diatur agar berfungsi sesuai dengan perannya dan efek sampingnya tidak terlalu membahayakan kesehatan pasien.

 

Selain itu, penggunaan imunosupresan tetap memiliki efek samping yang perlu diantisipasi. Selain risiko infeksi yang tinggi karena melemahnya sistem imun, beberapa efek samping lain yang perlu diantisipasi dari penggunaan imunosupresan adalah sebagai berikut:

 

  • Jerawat.

  • Sakit kepala.

  • Kelelahan.

  • Rambut rontok.

  • Luka pada mulut.

  • Sakit perut, mual, dan muntah.

  • Gejala infeksi, seperti demam, mengggil, kesulitan atau nyeri berkemih, dan nyeri pada punggung bawah.

  • Berat badan bertambah.

  • Gemetar (tremor).

  • Hipertensi.

  • Osteoporosis.

  • Diabetes.

 

Itulah penjelasan seputar imunosupresan dan perannya dalam membantu mengatasi penyakit autoimun dan membantu melancarkan prosedur transplantasi. Sebagai catatan, imunosupresan hanya bisa digunakan di bawah pengawasan dokter. Penderita penyakit kronis, ibu hamil, wanita menyusui, atau orang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu pun perlu berkonsultasi dengan dokter terkait konsumsi imunosupresan secara aman.

 

Apabila ingin mengetahui lebih banyak tentang kondisi imun tubuh, sebaiknya konsultasikan kondisi Anda ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan diagnosis medis dan penanganan yang tepat.

 

Perlu dicatat bahwa dokter dan tenaga medis akan melakukan tahapan pemeriksaan dan menetapkan metode pengobatan yang bervariasi sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di setiap rumah sakit. Dokter pun akan menyesuaikan langkah-langkah pemeriksaan dan penanganan sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Agar dapat menjadwalkan konsultasi dengan mudah, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Sebelum membuat janji temu, Anda bisa mengecek jadwal praktik dokter terkait untuk kebutuhan konsultasi. Selain itu, MySiloam juga menyediakan fitur yang membantu Anda memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan medis Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Immunosuppressants. Diakses pada 2024 | Healthline. About Immunosuppressant Drugs. Diakses pada 2024 | PubMed Central. Immunosuppressive Drugs. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail