Kolestasis - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Kesehatan Tubuh

Kolestasis - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

17 November 2025 4 menit waktu baca
kolestasis adalah

Table of Contents

Kolestasis adalah gangguan pada aliran empedu yang disebabkan oleh penyumbatan di saluran empedu atau ketika tubuh kekurangan cairan empedu. Gejala utama dari kolestasis adalah kulit dan mata menguning serta gatal-gatal pada kulit meski tidak timbul ruam.

 

Kolestasis berpeluang besar menyebabkan gangguan sistem pencernaan, salah satunya diare. Simak artikel di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyebab, gejala, dan cara mengobati kolestasis.

 

Apa itu Kolestasis?

 

Cholestasis atau kolestasis adalah masalah pada organ hati yang disebabkan oleh adanya hambatan atau sumbatan pada aliran empedu. Empedu merupakan cairan yang diproduksi hati kemudian dialirkan serta disimpan di kantong empedu.

 

Cairan empedu mengandung bilirubin, yaitu zat berwarna kuning kecoklatan hasil pemecahan sel darah merah. Pada keadaan normal, bilirubin dan cairan empedu mengalir menuju saluran pencernaan lalu dikeluarkan melalui urine atau kotoran.

 

Namun pada penderita kolestasis, aliran empedu terhambat sehingga bilirubin akan menumpuk di dalam aliran darah. Akibatnya, timbul gejala penyakit kuning.

 

Kolestasis pada Ibu Hamil

 

Kolestasis pada ibu hamil umumnya terjadi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisi ini menimbulkan rasa gatal di tangan dan kaki yang akan semakin parah saat malam hari. Gejala tersebut biasanya akan menghilang dalam beberapa hari setelah kelahiran.

 

Selain rasa gatal, terdapat gejala umum lainnya seperti kulit dan bagian putih mata menguning, mual, hingga kehilangan nafsu makan. Penyebab kolestasis pada ibu hamil belum diketahui secara pasti. Namun, ada kemungkinan pengaruh dari riwayat keluarga atau genetik.

 

Meski begitu, kolestasis pada ibu hamil perlu mendapatkan penanganan dengan tepat karena berisiko menyebabkan komplikasi yang dapat mengakibatkan bayi lahir prematur bahkan keguguran.

 

Penyebab Kolestasis

 

Berdasarkan penyebabnya, terdapat dua jenis kolestasis yaitu kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

Kolestasis Intrahepatik

 

Kolestasis intrahepatik disebabkan oleh adanya gangguan atau penyakit hati, seperti:

 

  • Hepatitis akut.
  • Sirosis hati.
  • Penyakit hati yang disebabkan oleh alkohol.
  • Kanker hati.
  • Kelainan genetik, seperti sindrom Rotor dan sindrom Dubin-Johnson.
  • Kehamilan. Hormon kehamilan dapat menyebabkan gangguan pada aliran empedu.
  • Pascaoperasi, terutama operasi besar pada organ dalam perut atau jantung.

 

Kolestasis Ekstrahepatik

 

Sementara itu, kolestasis ekstrahepatik terjadi karena adanya beberapa gangguan dari luar hati, yaitu:

 

  • Penyempitan saluran empedu.
  • Peradangan pankreas (pankreatitis).
  • Batu empedu.
  • Kanker pankreas.
  • Kanker saluran empedu.
  • Kista pada saluran empedu.
  • Peradangan saluran empedu (kolangitis).

 

Faktor Risiko

 

Kolestasis dapat terjadi pada siapa saja, tetapi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kolestasis adalah sebagai berikut:

 

  • Bayi baru lahir.
  • Usia kehamilan muda.
  • Bayi lahir dengan BBLR (berat badan lahir rendah).
  • Waktu nutrisi parenteral yang lama.
  • Sering mengalami sepsis, yaitu peradangan ekstrem akibat infeksi.
  • Genetik.
  • Memiliki riwayat penyakit atau kerusakan hati.

 

Gejala Kolestasis

 

Secara umum, gejala yang dialami oleh penderita kolestasis adalah sebagai berikut:

 

  • Gatal berat.
  • Mual dan muntah.
  • Kelelahan.
  • Kehilangan selera makan.
  • Feses berwarna pucat atau terang.
  • Kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice).
  • Urine lebih gelap.
  • Nyeri perut bagian atas.

 

Komplikasi Kolestasis

 

Apabila kolestasis tidak ditangani secara tepat, maka akan berisiko menyebabkan beberapa komplikasi seperti:

 

  • Penyerapan lemak yang buruk.
  • Diare.
  • Kegagalan organ.
  • Tulang lemah (osteomalacia).

 

Diagnosis Kolestasis

 

Beberapa pemeriksaan yang umumnya dilakukan oleh dokter untuk menegakkan diagnosis terhadap pasien kolestasis adalah:

 

1. Tes Darah

 

Fungsi tes darah pada kondisi kolestasis adalah untuk mengukur tinggi rendahnya kadar enzim alkaline phosphatase dan gamma-glutamyl transpeptidase. Selain itu, tes darah juga berfungsi untuk mengukur tingkat bilirubin serta menunjukkan tingkat keparahan kolestasis yang diderita pasien.

 

2. Tes Pencitraan

 

Tes pencitraan yang digunakan untuk mendiagnosis kolestasis adalah sebagai berikut:

 

  • CT Scan perut: Mendeteksi penyebab hambatan pada aliran empedu.
  • MRCP: Memantau kondisi saluran pankreas dan empedu dengan membuat cairan dalam saluran terlihat lebih terang.
  • USG perut: Mengetahui penyebab sumbatan aliran empedu.
  • ERCP: Melihat kondisi pankreas dan saluran empedu menggunakan endoskop (kamera kecil).

 

3. Biopsi Hati

 

Biopsi hati dilakukan dengan mengambil sedikit sampel jaringan dari hati kemudian dilanjutkan ke laboratorium untuk mendapatkan diagnosis secara tepat.

 

Pengobatan Kolestasis

 

Pengobatan kolestasis akan disesuaikan dengan penyebabnya. Misalnya, apabila penyumbatan disebabkan oleh penyempitan saluran maka dokter akan melakukan prosedur operasi (sfingterotomi endoskopik) untuk melebarkan  area yang tersumbat.

 

Beberapa pengobatan lain yang biasanya dilakukan pada pasien kolestasis adalah sebagai berikut:

 

  • Memberikan vitamin K untuk mengatasi pembekuan darah.
  • Operasi pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi).
  • Memasang stent di saluran empedu untuk membuka saluran yang terhambat.
  • Memberikan obat cholestyramine untuk meredakan gatal-gatal pada kulit.

 

Cara Mencegah Kolestasis

 

Hingga saat ini belum ada cara pencegahan kolestasis yang pasti. Akan tetapi telah diketahui bahwa fungsi hati, pankreas, dan organ sekitarnya berperan cukup penting dalam peningkatan risiko terjadinya kolestasis. Pola hidup sehat menjadi alternatif utama dalam menurunkan risiko kolestasis.

 

Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya kolestasis adalah sebagai berikut:

 

  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
  • Mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum dan setelah makan serta saat setelah menggunakan toilet.
  • Tidak gonta-ganti pasangan.
  • Menghindari penyalahgunaan NAPZA, terutama dengan jarum suntik.
  • Menerapkan gaya hidup sehat.

 

Selain melakukan upaya pencegahan di atas, kolestasis adalah penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi hepatitis. Vaksinasi hepatitis ini bisa Anda dapatkan melalui paket Medical Check Up - Antibodi Hepatitis C Rapid dari Siloam Hospitals. Segera lakukan pemesanan paket melalui aplikasi MySiloam atau dengan menghubungi call center kami di 1-500-181.

 

Selain melakukan pemesanan dan pembelian paket medical check up, aplikasi MySiloam juga menyediakan fitur layanan telekonsultasi yang memungkinkan Anda berdiskusi dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang juga!

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 5

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail