Ibu dan Anak
Makrosomia - Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya

Table of Contents
Makrosomia adalah kondisi di mana bayi lahir dengan ukuran besar. Kondisi ini dapat menyebabkan proses persalinan tidak lancar, sehingga membahayakan ibu dan janin. Di samping itu, makrosomia juga bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes pada bayi baru lahir.
Pada umumnya, kondisi makrosomia dapat diketahui berdasarkan pemeriksaan USG, atau ketika bayi sudah lahir dan ditimbang. Lantas, apa yang menjadi penyebab bayi lahir besar? Mari simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Apa itu Makrosomia?
Makrosomia adalah kondisi ketika bayi yang baru lahir memiliki berat badan lebih besar dari ukuran bayi pada umumnya, yaitu mencapai 4 kg atau lebih. Kondisi ini disebut juga dengan berat badan lahir besar (BBLB).
Makrosomia dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan maupun persalinan, sehingga membahayakan bagi ibu dan janin. Bahkan setelah kelahiran, bayi dengan berat badan lahir besar juga lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Penyebab Makrosomia
Beberapa penyebab makrosomia adalah gangguan kesehatan selama masa kehamilan, keturunan, atau gangguan pertumbuhan janin. Namun, ada beberapa kasus makrosomia yang tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya.
Selain itu, sejumlah kondisi kesehatan ibu yang dapat meningkatkan risiko terjadinya makrosomia adalah sebagai berikut:
- Obesitas.
- Diabetes gestasional.
- Kenaikan berat badan yang terlalu drastis saat hamil.
- Hipertensi saat hamil.
- Hamil di atas usia 35 tahun.
- Memiliki riwayat melahirkan anak dengan makrosomia.
- Belum melahirkan setelah lewat dua minggu dari HPL (hari perkiraan lahir).
Gejala Makrosomia
Gejala makrosomia pada bayi sulit untuk dideteksi ketika masih di dalam kandungan. Namun, ada dua tanda yang biasanya dijadikan dokter sebagai acuan untuk melihat perkembangan berat badan janin, yaitu volume cairan ketuban dan tinggi fundus.
1. Cairan Ketuban Berlebihan
Cairan ketuban yang berlebihan disebut juga dengan polihidramnion. Cairan ini menggambarkan jumlah urine yang keluar dari janin. Ukuran janin yang besar akan mengeluarkan semakin banyak urine dalam kandungan.
2. Tinggi Fundus Melebihi Normal
Tinggi fundus adalah jarak antara puncak rahim dan tulang pubis. Biasanya, tinggi fundus tidak jauh berbeda dengan usia kehamilan (dalam hitungan minggu). Jika tingginya melebihi normal, maka bayi diduga mengalami makrosomia.
Cara Menangani Makrosomia
Meski sulit mendeteksi kondisi makrosomia secara langsung selama masa kehamilan, namun dokter tetap bisa memprediksi berat badan bayi melalui pemeriksaan USG. Apabila terdapat risiko makrosomia, biasanya dokter akan menganjurkan ibu menjalani operasi caesar. Meski begitu, tak menutup kemungkinan ibu tetap bisa menjalani persalinan normal.
Setelah proses persalinan, dokter akan melakukan pemeriksaan pada bayi untuk mengetahui apakah ada cedera saat persalinan, mengukur kadar gula darah, dan jumlah sel darah merah. Bayi penderita makrosomia akan dipantau dan ditempatkan di NICU (neonatal intensive care unit).
Bayi diperbolehkan pulang ketika kondisinya dinyatakan stabil. Orang tua disarankan untuk melakukan kontrol pada bayinya secara rutin agar kondisinya tetap terpantau.
Komplikasi Makrosomia
Makrosomia adalah kondisi yang dapat menyebabkan komplikasi, baik pada ibu maupun bayi. Berikut merupakan beberapa komplikasi makrosomia.
Komplikasi pada Ibu
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu akibat makrosomia adalah:
1. Proses Persalinan Lebih Sulit
Bayi dengan ukuran besar biasanya akan sulit dilahirkan secara normal. Bayi berisiko tersangkut di jalan lahir dan menyebabkan cedera pada ibu. Itulah mengapa biasanya dokter menyarankan persalinan melalui prosedur caesar.
2. Perdarahan Pasca Persalinan
Robekan atau kerusakan pada jaringan vagina mengakibatkan otot-otot rahim sulit berkontraksi dan kembali menutup, sehingga ibu berisiko mengalami perdarahan hebat.
3. Robeknya Jaringan Vagina
Melahirkan bayi dengan makrosomia dapat menimbulkan robekan pada vagina, serta otot yang berada di antara anus dan vagina (perineum).
4. Ruptur Rahim
Risiko komplikasi ruptur rahim akan lebih tinggi pada ibu yang pernah menjalani prosedur caesar atau operasi yang melibatkan rahim sebelumnya. Meski jarang terjadi, kondisi ini dapat menyebabkan robekan rahim pada bagian jahitan dari prosedur operasi sebelumnya.
Komplikasi pada Bayi
Sementara itu, beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada bayi akibat makrosomia di antaranya:
1. Sindrom Metabolik
Salah satu komplikasi yang terjadi pada bayi akibat makrosomia adalah timbulnya sindrom metabolik, yaitu sekumpulan gejala tekanan darah tinggi, lemak berlebih di perut, kadar kolesterol tinggi, dan gula darah tinggi yang muncul bersamaan.
2. Obesitas
Makrosomia adalah kondisi yang dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak-anak. Bayi dengan makrosomia juga berisiko mengalami obesitas di kemudian hari dan mengganggu kesehatan penderitanya.
3. Kadar Gula Darah Rendah
Bayi dengan makrosomia cenderung memiliki kadar gula darah yang rendah sehingga perlu melakukan perawatan di rumah sakit sampai kadarnya kembali normal atau stabil.
4. Distosia Bahu
Distosia bahu adalah kondisi yang bisa terjadi ketika bayi tersangkut di jalan lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi mengalami patah tulang selangka, lengan, dan cedera saraf. Bahkan, pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menyebabkan asfiksia neonatorum (bayi kekurangan oksigen), kerusakan otak, hingga kematian.
Cara Mencegah Makrosomia
Makrosomia adalah kondisi yang sulit dicegah. Namun, risikonya dapat dikurangi dengan menjaga kehamilan tetap sehat, menjaga berat badan ideal, dan melakukan beberapa cara lain, seperti:
- Mengontrol kadar gula darah, terutama ibu hamil yang menderita diabetes.
- Berolahraga secara rutin, seperti melakukan senam ibu hamil.
- Mempertahankan peningkatan berat badan yang normal selama hamil.
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.
- Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin agar kondisi janin tetap terpantau.
Anda pun dapat menggunakan paket Medical Check Up Siloam Pregnant Female Package untuk melakukan pemeriksaan mendasar pada ibu hamil. Namun, apabila Anda memiliki keluhan seputar kehamilan, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapat diagnosis dan penanganan secara tepat.
Gunakan juga fitur Telekonsultasi untuk memungkinkan Anda berkonsultasi langsung secara virtual dengan dokter terkait. Fitur tersebut dapat ditemukan dalam aplikasi MySiloam yang bisa memudahkan Anda dalam pemesanan paket kesehatan dari mana saja dan kapan saja. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini








