Plasenta Previa - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Ibu dan Anak

Plasenta Previa - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

03 November 2025 5 menit waktu baca
mengenal plasenta previa

Plasenta adalah organ yang terbentuk dalam rahim pada masa kehamilan. Plasenta berfungsi untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin serta untuk membuang limbah hasil metabolisme dari janin. Kondisi abnormal pada plasenta dapat terjadi selama masa kehamilan, salah satunya adalah plasenta previa.

 

Ibu hamil pun perlu memahami apa itu plasenta previa mengingat kondisi ini dapat memengaruhi kehamilan dan proses persalinan nantinya. Pada artikel ini akan dibahas secara mendalam mengenai kondisi tersebut mulai dari pengertian, penyebab, hingga gejala-gejalanya.

 

Apa itu Plasenta Previa?

 

Placenta praevia atau plasenta previa adalah kondisi di mana plasenta bayi menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir bayi (mulut rahim). Kondisi ini juga dapat menyebabkan perdarahan hebat baik sebelum maupun saat proses persalinan.

 

Terdapat beberapa jenis placenta praevia yang dapat terjadi, yaitu:

 

  • Parsial: Merupakan kondisi di mana plasenta menutupi sebagian jalan lahir. Pada kondisi ini, ibu hamil masih memungkinkan untuk menjalani persalinan normal karena masih terdapat ruang untuk bayi keluar.
  • Low-lying: Plasenta berada di tepi leher rahim, namun masih terdapat ruang untuk melahirkan secara normal.
  • Marginal: Posisi plasenta berada di ujung rahim yang dapat menyebabkan sedikit perdarahan. Perdarahan tersebut terjadi karena adanya gesekan antara plasenta dengan serviks.
  • Total: Seperti namanya, posisi plasenta menutupi seluruh jalan keluar bayi sehingga tidak ada ruang untuk melakukan persalinan normal.

 

Selama kehamilan, uterus dan plasenta akan mengalami perubahan entah itu pada posisi maupun bentuk yang berpotensi mengatasi masalah plasenta previa secara alami tanpa intervensi. Namun, jika kondisi ini tidak dapat membaik dengan sendirinya, persalinan melalui operasi sesar (C-section) mungkin diperlukan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi. 

 

Penyebab Plasenta Previa

 

Penyebab placenta praevia belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini pada ibu hamil. Beberapa faktor tersebut adalah:

 

  • Kelainan pada plasenta.
  • Memiliki riwayat endometriosis pada lapisan rahim.
  • Kelainan pada bentuk rahim ibu.
  • Memiliki riwayat sesar atau riwayat operasi pada rahim lainnya.
  • Mengandung di usia 35 tahun atau lebih.
  • Kehamilan kembar.
  • Posisi janin tidak normal, misalnya posisi sungsang atau melintang.
  • Terdapat riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
  • Terdapat riwayat keguguran.

 

Meskipun faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa, penting untuk diingat bahwa tidak semua ibu hamil dengan faktor risiko tersebut akan mengalaminya.

 

Gejala Plasenta Previa

 

Gejala plasenta previa dapat bervariasi. Beberapa ibu hamil dengan kondisi ini mungkin tidak mengalami gejala sama sekali, sedangkan ibu hamil yang lainnya dapat mengalami gejala yang lebih serius.

 

Berikut adalah beberapa gejala placenta praevia yang dapat muncul:

 

  • Perdarahan saat hamil: Perdarahan yang terjadi akibat plasenta previa umumnya tidak terasa sakit dan bisa terjadi sewaktu-waktu selama kehamilan. Perdarahan tersebut bisa bersifat ringan hingga parah, tergantung pada posisi plasenta.
  • Nyeri perut: Beberapa ibu hamil dapat mengalami nyeri perut atau kram yang disebabkan oleh kondisi ini. Nyeri tersebut dapat terjadi secara sporadis atau berkepanjangan.
  • Kontraksi dini: Plasenta previa juga dapat menyebabkan kontraksi dini yang tidak normal seperti lebih kuat dan lebih lama.

 

Diagnosis Plasenta Previa

 

Kondisi ini dapat didiagnosis melalui pemeriksaan USG pada trimester kedua. Meski begitu, pada masa ini, posisi plasenta memang masih dapat berpindah-pindah sehingga ibu hamil tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

 

Namun, hal ini perlu diwaspadai apabila ibu hamil mengalami perdarahan pada usia kehamilan minggu ke-20 atau trimester kedua. Dokter pun akan melakukan serangkaian pemeriksaan menggunakan metode berikut ini:

 

  • Ultrasonografi (USG): USG akan membantu dokter memvisualisasikan posisi plasenta secara akurat dan menentukan apakah plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.
  • USG transvaginal: Jika hasil USG konvensional masih kurang jelas, dokter akan melakukan USG transvaginal. Metode ini menggunakan probe yang dimasukkan ke dalam vagina untuk mendapatkan gambaran dari posisi plasenta dengan lebih jelas.

 

Komplikasi Plasenta Previa

 

Jika ibu hamil didiagnosis dengan placenta praevia, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin secara ketat untuk mengurangi risiko komplikasi seperti:

 

  • Perdarahan: Plasenta previa meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan pervaginam parah yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin (syok hemoragik). Perdarahan ini dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, persalinan, atau beberapa jam setelah persalinan.
  • Kelahiran prematur: Dalam kasus yang parah, operasi caesar darurat mungkin akan dilakukan sebelum bayi mencapai usia yang cukup untuk dilahirkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi.
  • Spektrum akreta plasenta: Placenta praevia sering kali berhubungan dengan kondisi yang dikenal sebagai spektrum akreta plasenta. Kondisi ini melibatkan penempelan plasenta yang tidak normal dan terlalu dalam ke dinding rahim sehingga dapat menembus dinding rahim bahkan hingga ke organ lainnya. Kondisi ini berisiko tinggi menyebabkan perdarahan selama kehamilan.

 

Tata Laksana Plasenta Previa

 

Tujuan tata laksana plasenta previa adalah untuk mencegah perdarahan. Dokter akan memberikan penanganan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu, usia kandungan, letak plasenta, hingga seberapa parah perdarahan yang dialami.

 

Sementara itu, ibu hamil yang mengalami gejala placenta praevia tanpa perdarahan akan disarankan untuk melakukan perawatan mandiri di rumah dengan memperhatikan beberapa pantangan seperti:

 

  • Mengurangi aktivitas fisik yang berat.
  • Memperbanyak waktu istirahat.
  • Tidak berhubungan seksual untuk sementara waktu.

 

Namun, apabila ibu hamil mengalami perdarahan yang mengkhawatirkan, disarankan untuk pergi ke rumah sakit agar mendapatkan pengobatan plasenta previa dari dokter spesialis kandungan. Jika perdarahan tergolong parah, dokter mungkin akan segera melakukan transfusi darah. 

 

Lalu, jika perdarahan tersebut masih belum dapat dikendalikan, dokter akan berusaha untuk mempertahankan kehamilan sampai janin mencapai usia aman untuk dilahirkan atau segera direncanakan bedah caesar darurat.

 

Demikian pembahasan mengenai plasenta previa mulai dari penyebab, gejala, cara dokter mendiagnosis, hingga pengobatan yang dilakukan pada kondisi tersebut. Mengetahui kondisi ini sedini mungkin dapat mencegah komplikasi yang lebih parah.

 

Jika Anda memiliki keluhan mengenai kandungan maupun kondisi kesehatan lainnya, jangan ragu untuk datang ke Siloam Hospitals terdekat. Gunakan fitur Cari Dokter untuk membuat janji temu dengan dokter spesialis sesuai dengan keluhan kesehatan Anda.


Atau, unduh aplikasi MySiloam yang dapat digunakan untuk melakukan booking, memesan paket kesehatan, hingga melakukan konsultasi online bersama dokter. Mari unduh aplikasinya dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Nest Artikel Banner

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail