Kesehatan Mental
Ciri-Ciri Playing Victim dan Cara Menghadapinya

Table of Contents
Playing victim adalah kondisi ketika seseorang meyakini bahwa dia adalah korban dari segala situasi yang ada. Kondisi ini membuat seseorang terus mengambil kesimpulan bahwa dirinya telah dirugikan dari orang lain yang dianggap sebagai pelaku. Untuk mengenal apa itu playing victim selengkapnya, simak artikel di bawah ini.
Apa Itu Playing Victim?
Playing victim adalah sikap atau pola pikir ketika seseorang selalu merasa dirinya sebagai korban dalam berbagai situasi, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Orang yang bersikap seperti ini cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka alami dan merasa tidak punya kendali atas hidupnya.
Seseorang yang bersikap playing victim sering menganggap bahwa orang lain memperlakukan mereka tidak adil, walaupun hal itu belum tentu benar. Sikap ini bisa membuat mereka sulit menerima masukan atau bertanggung jawab atas tindakannya. Selain merugikan diri sendiri, playing victim juga bisa menjadi bentuk kekerasan emosional (emotional abuse) terhadap orang lain.
Dengan terus-menerus bertindak seolah-olah menjadi korban, seseorang dapat memanipulasi perasaan orang di sekitarnya, membuat mereka merasa bersalah, atau merasa harus selalu menolong. Hal ini dapat merusak hubungan sosial dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat, terutama jika terjadi secara berulang.
Apakah Playing Victim Termasuk Gejala dari Suatu Kondisi Medis atau Salah Satu Jenis Kepribadian?
Pada dasarnya, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah playing victim tergolong sebagai gejala dari suatu kondisi medis atau salah satu jenis kepribadian. Namun, penelitian dalam jurnal Personality and Individual Differences (2020) menunjukkan bahwa perilaku playing victim mungkin merupakan ciri kepribadian yang disebut tendency for interpersonal victimhood (TIV).
Dalam kondisi ini, playing victim bisa mencakup berbagai jenis hubungan dan empat pola tertentu, yaitu:
-
Keinginan untuk diakui sebagai korban.
-
Perasaan superioritas moral, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya memiliki standar moral yang lebih tinggi dibandingkan orang lain.
-
Empati yang terbatas terhadap orang lain.
-
Sering merenung.
Di samping itu, perasaan atau keinginan untuk diakui sebagai korban juga bisa menjadi gejala dari masalah mental lainnya, seperti:
-
Major depressive disorder (MDD).
-
Post-traumatic stress disorder (PTSD).
-
Complex post-traumatic stress disorder (CPTSD).
Ciri-Ciri Playing Victim
Orang dengan perilaku playing victim memiliki kecenderungan untuk meyakini bahwa semua orang merupakan penyebab dari penderitaan yang mereka alami, dan apa pun yang mereka lakukan tidak akan pernah membuat perbedaan. Hal ini membuat mereka merasa rentan memiliki emosi negatif.
Penelitian berjudul Playing The Victim Behavior: An Experimental Study (2022) menjelaskan bahwa perilaku playing victim sering dilakukan untuk mendapatkan kompensasi atau keuntungan tambahan. Dalam penelitian tersebut, disebutkan pula bahwa playing victim lebih sering dilakukan daripada kebohongan secara langsung, seperti memalsukan penghasilan untuk mendapatkan keuntungan.
Adapun ciri-ciri umum playing victim adalah sebagai berikut:
-
Cenderung menyalahkan orang lain saat berhadapan dengan suatu masalah.
-
Menganggap orang lain tidak bisa dipercaya.
-
Meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
-
Menolak atau menghindari tanggung jawab terhadap suatu masalah.
-
Cenderung bersifat defensif.
-
Membesar-besarkan kesalahan orang lain sambil meremehkan tindakan dan kesalahannya sendiri.
-
Negative self-talk dan self-sabotage. Seperti berbicara, “semua hal buruk terjadi pada saya”, “saya tidak bisa berbuat apa-apa, jadi untuk apa mencoba?”, dan sejenisnya.
-
Mudah frustrasi, marah, dan depresi.
-
Memiliki rasa kepercayaan diri (self-esteem) yang rendah.
Penyebab Playing Victim
Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seseorang dapat memiliki perilaku playing victim yang berkembang dengan sendirinya. Sifat ini lebih sering terjadi karena ada pemicu tertentu, seperti trauma di masa lalu, pengkhianatan, ketergantungan, hingga manipulasi dari orang lain. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:
-
Trauma di masa lalu: Perilaku playing victim dapat muncul sebagai coping mechanism dari seseorang yang pernah mengalami trauma atau pelecehan emosi di masa lalunya.
-
Pengkhianatan: Pengkhianatan yang diterima oleh seseorang secara berulang dapat membuat dirinya merasa seperti korban dan sulit untuk memercayai orang lain.
-
Ketergantungan (codependency): Pola pikir playing victim bisa berkembang seiring dengan ketergantungan terhadap orang lain atau codependency. Hal ini mungkin membuat mereka cenderung mengorbankan tujuan pribadi hanya untuk mendukung orang lain. Akibatnya, mereka bisa merasa frustrasi dan kesal karena tidak pernah mendapatkan apa yang dibutuhkan.
-
Manipulasi: Beberapa orang dengan perilaku playing victim memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, melampiaskan amarah dan membuat orang lain merasa bersalah, atau memanipulasi orang lain untuk mendapatkan simpati dan perhatian. Perilaku tersebut juga sering dikaitkan dengan NPD.
Cara Menghadapi Orang dengan Perilaku Playing Victim
Pada dasarnya, sangat penting untuk menjaga batasan (boundaries) yang sehat saat berinteraksi dengan orang yang berperilaku playing victim, terutama berusaha untuk tidak ‘memperbaiki’ perilaku mereka tersebut. Fokuslah pada apa yang ingin dikomunikasikan dengan mereka. Mintalah dengan tegas untuk merenungkan peran mereka dalam suatu masalah.
Terkadang, orang dengan perilaku playing victim dapat menggunakan perasaan bersalah sebagai cara untuk membenarkan status korban mereka. Dalam hal ini, sangat penting untuk tidak memperparah rasa bersalah tersebut. Jika ingin memberikan dukungan, pastikan Anda juga memberdayakan mereka dengan membantu membangun kepercayaan diri dan berbagai dukungan lainnya.
Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan di atas hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat menggantikan saran medis profesional, terutama apabila Anda sedang mengalami masalah kesehatan mental yang lebih kompleks. Untuk penanganan yang lebih tepat, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Siloam Hospitals terdekat.
Dokter akan menyesuaikan prosedur pemeriksaan dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Dalam hal ini, prosedur diagnosis dan penanganan juga akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia, sehingga mungkin saja tahapannya berbeda-beda di setiap rumah sakit.
Anda juga bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fiturnya yang dapat memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Munich Personal RePEc Archive. Playing The Victim Behavior: An Experimental Study. Diakses pada 2025 | Current Psychology. Victimology from Clinical Psychology Perspective: Psychological Assessment of Victims and Professionals Working with Victims. Diakses pada 2025 | Medical News Today. Victim Mentality: How To Identify and Cope With It. Diakses pada 2025 | Psych Central. What Are The Signs of a Victim Mentality?. Diakses pada 2025 | Healthline. How to Identify and Deal with A Victim Mentality. Diakses pada 2025 | Personality and Individual Differences. The Tendency for Interpersonal Victimhood: The Personality Construct and Its Consequences. Diakses pada 2025 | Medical News Today. What Are The Signs of Emotional Abuse?. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Sentosa
Tersedia :
Tersedia hari ini






