Ruptur Uteri, Kondisi Rahim Robek saat Persalinan Normal
Ibu dan Anak

Ruptur Uteri, Kondisi Rahim Robek saat Persalinan Normal

11 September 2025 5 menit waktu baca
ruptur uteri adalah

 

Ruptur uteri adalah kondisi ketika dinding rahim mengalami robekan akibat cedera yang terjadi selama proses persalinan normal. Perlu diketahui bahwa rahim merupakan organ elastis yang bisa mengembang seiring pertumbuhan janin dan akan menyusut setelah melahirkan. Namun, apabila terjadi tekanan hebat selama persalinan, rahim dapat robek dan menyebabkan perdarahan.

 

Wanita dengan riwayat operasi di area rahim memiliki risiko lebih tinggi mengalami ruptur uteri. Kondisi ini dapat membahayakan ibu maupun janin sehingga perlu segera ditangani. Meski termasuk kondisi yang jarang terjadi, ada baiknya bagi ibu hamil untuk mengenal penyebab, gejala, penanganan, serta pencegahan ruptur uteri melalui artikel berikut ini.

 

Apa Itu Ruptur Uteri?

 

Ruptur uteri adalah kondisi ketika timbul robekan pada dinding rahim ibu hamil. Kondisi ini bisa terjadi karena pergerakan bayi pada jalan lahir saat persalinan normal memberikan tekanan terlalu kuat, atau bisa terjadi karena dipicu oleh bekas luka caesar atau riwayat operasi pada rahim sebelumnya.

 

Menurut Center for Disease Control and Prevention, ruptur uteri lebih umum terjadi pada ibu hamil yang melahirkan normal dengan riwayat operasi caesar atau pernah menjalani operasi rahim lainnya, misalnya perbaikan rahim bermasalah atau pengangkatan fibroid.

 

Penyebab Ruptur Uteri

 

Umumnya, penyebab ruptur uteri adalah pergerakan bayi yang memberikan tekanan kuat pada rahim selama persalinan normal. Tekanan tersebut dapat memengaruhi area luka bekas caesar dan menimbulkan robekan. Ruptur uteri pun biasanya terjadi di sepanjang bekas luka operasi sebelumnya.

 

Ketika ibu hamil mengalami ruptur uteri, alih-alih keluar dari rahim, janin dapat berpindah ke rongga perut ibu. Itulah mengapa dokter sering kali menyarankan ibu hamil untuk menghindari vaginal birth after caesar (VBAC) atau persalinan normal setelah caesar.

 

Faktor Risiko Ruptur Uteri

 

Kemungkinan terjadinya ruptur uteri pada ibu dengan riwayat rahim yang sehat cukup kecil. Namun, risiko ruptur uteri akan meningkat apabila ibu pernah menjalani operasi rahim sebelumnya. Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan ruptur uteri adalah sebagai berikut:

 

  • Memiliki riwayat melahirkan sebanyak lima kali atau lebih.

  • Plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim.

  • Trauma rahim.

  • Rahim terlalu besar karena kehamilan kembar atau kelebihan cairan ketuban.

  • Mengalami kontraksi terlalu sering dan kuat, baik karena obat-obatan, lepasnya plasenta dari rahim (solusio plasenta), atau kontraksi yang terjadi secara tiba-tiba.

  • Proses persalinan yang memerlukan waktu lama karena ukuran bayi terlalu besar dibandingkan panggul ibu.

 

Gejala Ruptur Uteri

 

Gejala ruptur uteri biasanya baru bisa terdeteksi selama proses persalinan. Gejala tersebut dapat terjadi pada ibu maupun janin dan bisa memburuk dengan cepat. Ruptur uteri pada janin berpengaruh pada penurunan denyut jantung, melambatnya gerakan janin, hingga fetal distress atau terhentinya gerakan janin.

 

Sementara itu, beberapa gejala ruptur uteri pada ibu di antaranya sebagai berikut:

 

  • Perdarahan hebat dari vagina.

  • Kontraksi melambat atau bahkan berhenti.

  • Kekuatan otot rahim menghilang.

  • Nyeri perut hebat secara tiba-tiba.

  • Nyeri hebat pada area bekas luka operasi rahim.

  • Tekanan darah menurun drastis.

  • Denyut jantung meningkat.

  • Penonjolan di perut bawah dekat tulang kemaluan.

  • Persalinan normal tidak berhasil diselesaikan karena hilangnya kontraksi rahim.

 

Diagnosis Ruptur Uteri

 

Diagnosis ruptur uteri tidak cukup hanya melalui pemeriksaan fisik. Apabila dokter mencurigai adanya kondisi ruptur uteri pada ibu selama persalinan, dokter akan melakukan tindakan USG darurat. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan memperhatikan sejumlah kondisi berikut ini:

 

  • Bentuk dinding rahim tampak abnormal.

  • Sebagian janin berada di luar dinding rahim.

  • Munculnya darah di dalam rongga perut.

  • Volume cairan ketuban sangat sedikit.

  • Gumpalan darah di dekat area luka operasi rahim.

 

Penanganan Ruptur Uteri

 

Ruptur uteri adalah kondisi darurat yang perlu ditangani dengan cepat. Jika janin tidak dikeluarkan dalam waktu 10–40 menit, kondisi tersebut dapat menyebabkan janin kekurangan oksigen bahkan kematian. Untuk mengatasinya, dokter akan mengutamakan keluarnya bayi melalui prosedur operasi caesar.

 

Untuk menangani perdarahan, dokter dapat melakukan beberapa tindakan yang sesuai dengan tingkat keparahan ruptur pasien. Apabila robekan tidak besar, perdarahan uterus bisa dikendalikan, dan tidak ada tanda koagulopati, maka rahim bisa dipertahankan dengan tindakan repair ruptur.

 

Akan tetapi, apabila robekan rahim sudah mengenai broad ligament, serviks, atau paracolpos dan terjadi perdarahan yang tidak dapat dikontrol, dokter akan melakukan tindakan pengangkatan rahim. Keputusan ini harus dipertimbangkan secara matang oleh pasien karena setelah pengangkatan rahim, pasien tidak dapat hamil lagi.

 

Ibu hamil yang mengalami perdarahan hebat akibat ruptur uteri akan membutuhkan transfusi darah untuk menggantikan darah yang hilang. Dokter biasanya juga memberikan antibiotik intravena untuk mencegah infeksi, menyarankan pasien mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat dengan cukup.

 

Komplikasi Ruptur Uteri

 

Apabila tidak segera ditangani, ruptur uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan membuat ibu mengalami syok hipovolemik yang bisa berujung pada kematian ibu maupun janin. Ketika ibu dan janin berhasil diselamatkan, keduanya berisiko mengalami kekurangan oksigen, kejang, atau kerusakan otak. Selain itu, ibu yang menjalani prosedur pengangkatan rahim (histerektomi) akibat ruptur uteri pun tidak bisa hamil kembali.

 

Pencegahan Ruptur Uteri

 

Upaya penting untuk mencegah ruptur uteri adalah melakukan pemeriksaan antenatal secara rutin, terutama jika ibu memiliki riwayat operasi caesar ataupun memiliki beberapa faktor risiko yang telah dipaparkan sebelumnya. Kemudian, metode persalinan yang tepat sesuai kondisi kesehatan ibu hamil perlu didiskusikan dengan dokter terkait.

 

Penting untuk diketahui bahwa artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Berbagai gejala yang disebutkan pun tidak secara spesifik mewakili kondisi ruptur uteri dan mungkin mengindikasikan kondisi medis lainnya.

 

Apabila membutuhkan informasi terkait upaya pencegahan ruptur uteri, terlebih jika Anda memiliki riwayat operasi rahim, penting untuk segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh saran pencegahan serta penanganan yang tepat dan cepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang akan dijalani terkait kondisi ini akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia sehingga mungkin berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 1

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail