Skorbut (Scurvy) - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Pola Hidup Sehat

Skorbut (Scurvy) - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
skorbut adalah (scurvy)

Skorbut atau scurvy adalah sekumpulan gejala yang muncul akibat defisiensi atau kekurangan vitamin C dalam jangka panjang. Kondisi ini cenderung jarang terjadi, karena vitamin C dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai jenis makanan, seperti sayuran dan buah-buahan.

 

Untuk mengenal penyebab, gejala, pengobatan, hingga pencegahan skorbut secara lebih lengkap, mari simak pembahasan berikut ini sampai tuntas.

 

Apa itu Skorbut?

 

Skorbut adalah penyakit langka yang terjadi karena kurangnya asupan vitamin C dalam tubuh. Perlu dipahami terlebih dahulu, vitamin C merupakan jenis vitamin yang berperan penting dalam proses pembentukan kolagen, yaitu protein yang berfungsi untuk memberikan kestabilan pada jaringan tubuh manusia, mengoptimalkan pertumbuhan dan penyembuhan luka di kulit, serta berperan dalam menjaga kekuatan tulang dan dinding pembuluh darah.

 

Selain itu, vitamin C juga berfungsi untuk membantu proses penyerapan zat besi dan berperan sebagai antioksidan guna mencegah kerusakan sel-sel tubuh akibat radikal bebas. Oleh karena alasan tersebut, kekurangan vitamin C dapat menghambat proses pembentukan jaringan serta memicu kerusakan sel-sel di dalam tubuh.

 

Penyebab Skorbut

 

Penyebab utama dari skorbut adalah defisiensi vitamin C dalam jangka panjang, setidaknya selama 3 bulan berturut-turut. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh rendahnya asupan makanan atau minuman yang mengandung vitamin C dalam menu sehari-hari.

 

Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami skorbut adalah sebagai berikut.

 

  • Mempunyai pola makan yang sangat minim asupan vitamin C.

  • Lansia, terutama yang sering mengonsumsi minuman tertentu, seperti teh.

  • Individu yang memiliki masalah ekonomi sehingga tidak mampu membeli buah dan sayuran untuk menu makan sehari-hari.

  • Sedang hamil atau menyusui. Sebab, kebutuhan vitamin C ibu hamil dan menyusui akan lebih besar dibandingkan individu seusianya yang tidak hamil atau menyusui sehingga rentan mengalami defisiensi vitamin C.

  • Menderita gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia.

  • Kebiasaan merokok.

  • Kecanduan minuman beralkohol.

  • Menderita penyakit tertentu yang mengganggu proses penyerapan nutrisi, seperti diare kronis, penyakit Crohn, inflammatory bowel disease, atau kolitis ulseratif.

  • Menderita penyakit diabetes melitus tipe 1 sehingga membuat kebutuhan vitamin C tubuh meningkat.

  • Orang yang mengalami kelebihan kadar zat besi di dalam tubuh.

  • Menderita alergi makanan tertentu.

  • Menderita kanker dan sedang menjalani perawatan kemoterapi.

  • Menderita penyakit tertentu yang menyebabkan demam tinggi.

  • Hipertiroidisme.

  • Baru menjalani tindakan operasi.

  • Mengalami luka bakar.

 

Gejala Skorbut

 

Pada tahap awal, defisiensi vitamin C biasanya tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Namun, gejala skorbut baru akan terlihat pada 8–12 minggu setelah seseorang mengalami kekurangan asupan vitamin C. Adapun sejumlah gejala umum dari skorbut meliputi:

 

  • Perubahan suasana hati (mood), seperti mudah marah.

  • Tubuh terasa lemah.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Nyeri sendi.

  • Proses penyembuhan luka cenderung lambat.

  • Pembengkakan dan perdarahan pada gusi.

  • Gigi mudah lepas.

  • Munculnya bercak-bercak kemerahan pada kulit dan lapisan mulut karena terdapat perdarahan pada pembuluh darah di bawah kulit.

  • Kulit menebal.

  • Corkscrew hair, yaitu tumbuhnya rambut yang berbentuk seperti terpilin-pilin.

  • Rambut mudah patah.

  • Terdapat perdarahan pada titik tumbuh rambut pada tubuh bagian bawah (perifollicular hemorrhages).

  • Kuku menjadi tipis, lunak, dan cekung di bagian tengah menyerupai bentuk sendok (koilonikia).

  • Rentan mengalami patah tulang.

  • Bagian putih mata tampak menguning (scleral icterus).

  • Pandangan kabur.

  • Sensitif terhadap cahaya.

  • Bengkak pada seluruh bagian tubuh.

  • Penyakit kuning.

  • Kejang.

 

Sementara pada bayi dan anak-anak, gejala skorbut dapat berupa rewel, demam, nyeri saat bergerak, kehilangan nafsu makan, tidak bisa mencapai berat badan seharusnya, anemia, dan diare.

 

Komplikasi Skorbut

 

Jika mengalami gejala-gejala skorbut, sebaiknya segera kunjungi rumah sakit terdekat guna memperoleh penanganan yang tepat. Sebab, apabila terjadi dalam jangka waktu lama dan tidak segera ditangani dengan tepat, skorbut berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

 

  • Penyakit kuning yang parah.

  • Anemia.

  • Perdarahan organ dalam.

  • Kejang.

  • Mati rasa di kaki serta tangan.

  • Koma.

 

Diagnosis Skorbut

 

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh dokter dalam menegakkan diagnosis skorbut adalah melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Lalu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi gejala-gejala skorbut secara keseluruhan.

 

Setelah itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis skorbut adalah:

 

  • Pemeriksaan dermoskopi kulit untuk mendeteksi kelainan pertumbuhan rambut dan perdarahan pada titik tumbuh rambut.

  • Pemeriksaan laboratorium darah untuk menilai kadar vitamin C dalam tubuh dan sel darah putih atau leukosit. Selain itu, tes darah juga diperlukan untuk mendeteksi kekurangan vitamin dan mineral lainnya.

  • Rontgen untuk mendeteksi kelainan tulang.

 

Pengobatan Skorbut

 

Pada dasarnya, pengobatan skorbut dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu farmakoterapi (menggunakan obat-obatan) dan nonfarmakoterapi (perawatan mandiri di rumah). Berikut adalah masing-masing penjelasan terkait kedua cara tersebut.

 

  • Farmakoterapi: Pemberian suplemen vitamin C secara langsung. Untuk anak-anak, dokter dapat memberikan vitamin C sebanyak 300 mg/hari, sementara orang dewasa diberikan sekitar 500–1.000 mg/hari.

  • Nonfarmakoterapi: Pasien dianjurkan untuk menerapkan perawatan mandiri di rumah, seperti memperbanyak konsumsi buah dan sayur tinggi vitamin C, mengelola stres dengan baik, memperbanyak minum air putih, menghindari konsumsi obat tanpa anjuran dokter, serta berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan merokok.

 

Selain itu, jika pasien mengalami patah tulang akibat defisiensi vitamin C, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk menjalani prosedur pembedahan.

 

Pencegahan Skorbut

 

Cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya skorbut adalah dengan mencukupi kebutuhan vitamin C tubuh setiap hari melalui konsumsi buah dan sayuran. Menurut Angka Kecukupan Gizi, asupan vitamin C harian yang perlu dicukupi adalah:

 

  • Bayi usia 6–11 bulan: 50 mg/hari.

  • Bayi usia 1–3 tahun: 40 mg/hari.

  • Anak-anak usia 4–9 tahun: 45 mg/hari.

  • Remaja laki-laki usia 10–15 tahun: 50–75 mg/hari.

  • Remaja perempuan usia 10–15 tahun: 50–65 mg/hari.

  • Pria dewasa usia 16 tahun ke atas: 90 mg/hari.

  • Wanita dewasa usia 16 tahun ke atas: 75 mg/hari.

  • Ibu hamil: +10 mg/hari dari kebutuhan vitamin C individu seusianya.

  • Ibu menyusui: +45 mg/hari dari kebutuhan vitamin C individu seusianya.

 

Meski cenderung jarang terjadi, skorbut adalah kondisi yang perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi serius. Apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala skorbut seperti ulasan di atas, sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut dengan dokter melalui layanan Telekonsultasi.

 

Layanan Telekonsultasi dapat memudahkan Anda untuk memperoleh saran perawatan dan penanganan dari dokter berpengalaman di mana saja dan kapan saja. Melalui layanan ini, pasien juga bisa mendapatkan resep obat-obatan dari dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, mungkin terdapat beberapa jenis obat-obatan yang memerlukan pasien untuk bertemu atau berkonsultasi langsung dengan dokter. 

 

Anda juga bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses semua layanan kesehatan dari Siloam Hospitals lebih cepat, seperti membuat appointment dengan dokter sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat, check in mandiri, antre secara online, dan lain-lain. Mari nikmati kemudahan akses layanan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-lanny-christiawati-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lanny Christiawati, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-samuel-oetoro-spgk

Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)

Gizi Klinik

Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi


MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-christopher-andrian-mgizi-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail