Sleepwalking (Somnambulism) - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
Kesehatan Tubuh

Sleepwalking (Somnambulism) - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

22 Agustus 2024 6 menit waktu baca
sleepwalking adalah

Somnambulisme, somnambulism, atau sleepwalking adalah kondisi ketika seseorang melakukan kegiatan yang tidak diinginkan seperti bangkit atau berjalan dalam keadaan sedang tertidur. Setelah terbangun dari tidur, penderita sleepwalking biasanya tidak mengingat hal-hal yang telah mereka lakukan selama tertidur.

 

Lantas, apa penyebab, gejala, dan bagaimana cara mengobati sleepwalking? Mari simak ulasan lengkap mengenai sleepwalking melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Sleepwalking (Somnambulism)?

 

Seperti yang telah dijelaskan bahwa sleepwalking, somnambulism, atau somnambulisme adalah keadaan di mana seseorang bangkit, berjalan, atau melakukan aktivitas tertentu dalam keadaan tertidur. Sekitar 6,9% orang pernah mengalami sleepwalking setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka.

 

Somnambulism adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja, namun lebih sering terjadi pada anak-anak. Somnabulism pada anak-anak biasanya hanya terjadi sesekali dan dapat menghilang seiring dengan bertambahnya usia. Apabila terjadi pada orang dewasa, biasanya bisa disebabkan oleh penggunaan obat tertentu atau penyakit neurodegeneratif.

 

Penyebab Sleepwalking

 

Pada dasarnya, sleepwalking adalah kondisi yang diklasifikasikan sebagai parasomnia, yaitu perilaku tidak biasa yang terjadi saat akan tertidur, sedang tidur, atau dalam periode antara tidur dan bangun. Sebelumnya, perlu dipahami terlebih dahulu jika tidur terbagi menjadi dua tahapan, yaitu tahapan tidur rapid eye movement (REM) dan tahapan non-rapid eye movement (NREM).

 

Tiga tahapan tidur NREM dan satu tahapan tidur REM akan membentuk satu siklus tidur. Seseorang biasanya akan melalui 4–6 siklus tidur per malam dengan durasi yang bervariasi di setiap tahapan.

 

Fase tidur NREM terdiri dari 3 fase tidur, yaitu:

 

  • Fase 1, yaitu mata terpejam, namun masih mudah terbangun. 

  • Fase 2, yaitu ketika irama jantung mulai melambat, suhu tubuh menurun, dan tubuh bersiap untuk tidur dalam. Ketika memasuki tahap tidur kedua ini, gerak mata akan berhenti dan gelombang aktivitas otak melambat.

  • Fase 3, yaitu fase tidur nyenyak, di mana seseorang akan sulit dibangunkan. Kondisi somnambulism terjadi akibat adanya gangguan tidur dalam tahap N3, yaitu fase terdalam dari non-rapid eye movement (NREM). 

 

Pada tahapan tidur yang terakhir, yaitu tidur REM, aktivitas otak akan meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, serta mata bergerak ke segala arah dengan sangat cepat. Tidur REM diyakini penting untuk fungsi kognitif seperti memori, pembelajaran, dan kreativitas. Mimpi juga paling sering terjadi pada fase tidur ini.

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami sleepwalking. Namun, beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sleepwalking adalah sebagai berikut.

 

  • Memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa.

  • Kurang tidur.

  • Stres.

  • Sedang sakit atau demam.

  • Tidur yang terganggu atau tidak berkualitas.

  • Penyalahgunaan NAPZA atau minuman beralkohol.

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti zolpidem, sodium oxybate, antihistamin, antibiotik, antikejang, benzodiazepine, lithium, antidepresan, antipsikotik, selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), quinine, beta-blockers, dan tricyclic antidepressants (TCAs).

  • Perubahan lingkungan dan suasana tidur, seperti sedang menginap di hotel.

  • Cedera kepala dan otak.

 

Di samping itu, sleepwalking yang terjadi berulang (recurrent sleepwalking) juga dapat muncul sebagai gejala dari kondisi medis tertentu, di antaranya sebagai berikut.

 

 

Gejala Sleepwalking

 

Gejala sleepwalking biasanya muncul sekitar 1–2 jam setelah tertidur. Namun, perlu diketahui bahwa sleepwalking jarang terjadi saat seseorang sedang tidur yang tidak dalam, contohnya seperti saat tidur siang. Sebagai informasi, gejala sleepwalking biasanya dilakukan secara tidak sadar oleh penderitanya, dengan kata lain kondisi ini sering kali lebih dulu disadari oleh anggota keluarga penderita.

 

Berikut adalah beberapa gejala umum dari sleepwalking yang perlu diketahui.

 

  • Berjalan-jalan dalam keadaan tertidur dengan mata terbuka ataupun tertutup.

  • Melakukan aktivitas yang tidak biasa saat sedang tertidur, seperti berlari.

  • Duduk di tempat tidur dengan keadaan mata terbuka maupun tertutup.

  • Memiliki pandangan yang kosong  atau tidak berekspresi.

  •  Berbicara dengan tidak masuk akal (mengigau).

  • Melakukan gerakan yang biasa dilakukan, seperti memakai baju atau memindahkan barang.

  • Berperilaku ceroboh atau aneh.

  • Sulit untuk dibangunkan.

  • Buang air pada tempat yang tidak seharusnya (mengompol).

  •  Melakukan perilaku seksual yang tidak pantas (sexsomnia).

  • Makan dalam keadaan tertidur.

  • Setelah terbangun, penderita akan kebingungan dan tidak mengingat apa yang sudah dilakukan selama tidur.

  • Kondisi ini dapat disertai dengan sleep terror, yaitu gangguan tidur yang membuat seseorang berteriak, ketakutan, bernapas lebih cepat, berkeringat, atau bahkan menangis saat sedang tidur.

 

Komplikasi Sleepwalking

 

Pada dasarnya, sleepwalking adalah kondisi yang tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya. Kendati demikian, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan sejumlah komplikasi, di antaranya adalah sebagai berikut.

 

  • Gangguan tidur berkepanjangan karena kualitas tidur yang tidak baik.

  • Cedera fisik, misalnya terjatuh, tersandung, atau tidak sengaja memegang benda tajam.

  • Tetap merasa lelah dan mengantuk setelah bangun tidur.

  • Perubahan perilaku.

  • Gangguan kehidupan sosial, misalnya karena merasa malu setelah tidak sadar melakukan penyimpangan saat sleepwalking.

  • Penurunan prestasi di sekolah atau performa kerja.

 

Diagnosis Sleepwalking

 

Langkah awal yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis sleepwalking adalah wawancara medis (anamnesis) dengan anggota keluarga pasien. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi medis lain, seperti panic attack, nightmare seizure, atau gangguan tidur lain.

 

Selain itu, sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dokter untuk membantu mengonfirmasi diagnosis sleepwalking adalah:

 

  • Polisomnografi (sleep study). Pemeriksaan ini dilakukan dengan merekam semua kegiatan tidur untuk mengamati gelombang otak, kadar oksigen dalam darah, denyut jantung, pola napas, serta pergerakan mata dan kaki yang terjadi selama tidur.

  • Electroencephalogram (EEG).

 

Pengobatan Sleepwalking

 

Gangguan tidur berjalan biasanya tidak membutuhkan pengobatan khusus karena bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, jika sudah membahayakan atau mengganggu orang lain, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menerapkan beberapa hal berikut ini.

 

  • Mengunci jendela dan pintu kamar.

  • Buang air kecil sebelum tidur.

  • Mengurangi minum di malam hari.

  • Menyimpan benda tajam atau barang pecah belah di tempat yang tertutup.

  • Tidur di lantai dasar jika memiliki rumah bertingkat.

  • Memasang jendela yang berat atau sulit dibuka.

  • Memasang pintu atau pagar penutup di sekitar tangga.

  • Menyusun perabotan agar tetap menempel di dinding.

  • Merapikan kabel listrik dengan cara menempelkan kabel tersebut ke dinding.

  • Membuat tubuh lebih rileks sebelum tidur, seperti mandi air hangat atau bermeditasi.

 

Di samping itu, dokter juga dapat menyarankan pasien untuk menjalani terapi perilaku kognitif guna membantu mengubah pola pikir pasien terkait gangguan tidur serta meningkatkan kualitas tidur.

 

Metode lain yang juga dapat diterapkan adalah scheduled waking, yaitu membangunkan pasien 15–30 menit sebelum waktu pasien biasanya melakukan sleepwalking. Hal ini umumnya dilakukan selama kurang lebih 2–3 minggu.

 

Pada beberapa kasus, dokter juga akan meresepkan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan atau clonazepam untuk mengurangi frekuensi terjadinya sleepwalking.

 

Pencegahan Sleepwalking

 

Secara umum, sleepwalking dapat dicegah dengan menghindari sejumlah faktor risikonya. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya sleepwalking, mulai dari membuat suasana tidur yang nyaman hingga menghindari bermain gadget sebelum tidur. Berikut adalah uraian selengkapnya.

 

  • Menciptakan lingkungan dan suasana tidur yang nyaman, seperti meredupkan atau mematikan lampu sebelum tidur dan menggunakan penyejuk ruangan.

  • Memutar musik yang lembut dan menenangkan sebelum tidur.

  • Mengelola stres dan kecemasan dengan baik.

  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Membuat jadwal tidur siang dan tidur malam yang teratur guna mencukupi kebutuhan tidur setiap hari.

  • Rutin berolahraga.

  • Menghindari bekerja hingga larut malam.

  • Membatasi konsumsi kafein dan menghindarinya menjelang waktu tidur.

  • Mengurangi intensitas aktivitas fisik pada satu jam sebelum tidur.

  • Menjalani pengobatan secara rutin jika menderita sleep apnea, kejang, atau kondisi psikologis tertentu.

  • Tidak bermain gadget sebelum tidur.

 

Sleepwalking adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat guna menghindari masalah yang lebih serius. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala sleepwalking seperti ulasan di atas, segera lakukan konsultasi dengan dokter secara virtual melalui layanan Telekonsultasi.

 

Agar lebih mudah, Anda bisa mengunduh aplikasi MySiloam yang menyediakan fitur-fitur untuk mengakses layanan kesehatan lebih cepat, seperti memesan paket kesehatan, cek hasil pemeriksaan, serta membuat janji temu dengan dokter sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat, Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail