Bahaya Diet Ekstrem untuk Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Pola Hidup Sehat

Bahaya Diet Ekstrem untuk Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
Bahaya diet ekstrem

Guna mendapatkan berat badan ideal, seseorang disarankan untuk menjalani program diet yang sehat. Namun, sebagian orang mungkin menerapkan program diet yang terlalu ekstrem demi mengurangi berat badan dalam waktu singkat. Padahal, terdapat sejumlah bahaya diet ekstrem untuk kesehatan yang perlu diwaspadai.

 

Apa saja bahaya diet ekstrem tersebut? Mari simak informasi selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

 

Bahaya Diet Ekstrem yang Perlu Diwaspadai

 

Pada dasarnya, program diet merupakan cara mengatur pola makan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan berat badan ideal. Namun, diet yang dilakukan terlalu ekstrem dan tidak memperhatikan kondisi tubuh justru bisa memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan

 

Berdasarkan penelitian, diet ekstrem dapat diklasifikasikan menjadi diet rendah karbohidrat (tinggi lemak), diet rendah lemak (tinggi karbohidrat), diet sangat rendah kalori (very low calorie diet atau VLCD), dan modalitas diet lain yang digunakan untuk menurunkan berat badan.

 

Diet ekstrem sering kali diikuti dengan penurunan pada hampir semua zat gizi. Hal inilah yang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada orang-orang yang melakukan diet tersebut, di antaranya sebagai berikut.

 

1. Malnutrisi

 

Bahaya diet ekstrem untuk kesehatan yang pertama adalah dapat menyebabkan malnutrisi, yaitu kondisi ketika terjadi ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Kondisi ini dapat membuat seseorang cenderung mudah lelah, mengalami rambut rontok, dan lain sebagainya. Dalam jangka panjang, malnutrisi juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti anemia dan osteoporosis.

 

2. Menurunnya Sistem Imun Tubuh

 

Seperti yang telah dijelaskan bahwa diet ekstrem dapat menyebabkan malnutrisi dan membuat tubuh kekurangan nutrisi tertentu, termasuk vitamin dan mineral. Hal tersebut bisa memengaruhi kerja sistem imun tubuh dalam melawan berbagai infeksi patogen. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit.

 

3. Memengaruhi Kadar Gula Darah di Dalam Tubuh

 

Diet ekstrem dapat menyebabkan seseorang tidak bisa memperoleh asupan karbohidrat, protein, lemak, dan serat yang cukup. Padahal, asupan nutrisi tersebut bisa membantu menjaga kadar gula darah (glukosa) dan hormon insulin agar tetap stabil.

 

Diet ekstrem juga sering kali membuat seseorang cenderung mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula untuk mendapatkan energi lebih cepat. Hal ini bisa menyebabkan fluktuasi kadar gula darah secara drastis sehingga dapat membuat tubuh menjadi lebih mudah lapar.

 

Selain itu, karena diet ketat juga rentan menyebabkan kenaikan dan penurunan berat badan secara drastis, hal ini berpotensi memicu resistensi hormon insulin yang bisa menyebabkan diabetes tipe 2. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut.

 

4. Kehilangan Massa Otot dan Tulang

 

Umumnya, diet ekstrem dilakukan dengan mengurangi asupan kalori secara drastis. Cara ini tidak hanya mengurangi kadar lemak di dalam tubuh, namun juga berpotensi menghilangkan massa otot dalam jumlah banyak. Sebab, saat asupan kalori tidak tercukupi, tubuh akan memecah protein dalam tubuh untuk dijadikan sumber energi.

 

Bahkan, pada kasus yang lebih parah, diet ketat juga berisiko menyebabkan atrofi (penyusutan otot) pada otot jantung. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat memicu terjadinya aritmia (gangguan irama jantung).

 

Telah terbukti bahwa pola makan tinggi daging yang rendah buah-buahan dan sayur-sayuran menyebabkan pengeroposan tulang. Asupan protein yang sangat tinggi menyebabkan calciuria (kandungan kalsium dalam urine) dan memengaruhi tulang, kecuali jika diimbangi dengan asupan buah dan sayur yang cukup.

 

Penurunan massa otot disebabkan oleh kurangnya asupan protein yang dapat mengakibatkan penurunan metabolisme tubuh, sehingga kebutuhan energi menjadi turun. Hal ini kemudian bisa mengakibatkan tubuh mudah mengalami kenaikan berat badan (BB) kembali setelah diet dihentikan.

5. Dehidrasi

 

Diet ekstrem mungkin dapat menurunkan berat badan sedikit lebih cepat selama dua minggu pertama, namun hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh penyusutan kadar air di dalam tubuh, bukan lemak. Pasalnya, diet ketat dapat mengurangi kadar glikogen di dalam tubuh, yaitu salah satu bentuk karbohidrat yang turut mengikat air sekitar 3 ml di dalam tubuh.

 

Jika penurunan kadar glikogen terjadi terlalu cepat, tubuh akan kekurangan asupan cairan tubuh dan mengalami dehidrasi. Kondisi ini bisa memicu terjadinya berbagai masalah kesehatan, seperti kram otot, sakit kepala, sembelit, dan lain sebagainya. Dehidrasi juga bisa disebabkan oleh kurangnya asupan cairan atau penggunaan suplemen yang menyebabkan diare. 

 

6. Gangguan Metabolisme

 

Salah satu bahaya diet ekstrem yang kerap terjadi adalah gangguan metabolisme. Ketika kekurangan asupan kalori secara drastis, tubuh akan merespons hal tersebut dengan memperlambat laju metabolisme guna menghemat energi. 

 

Jika hal tersebut terjadi dalam jangka waktu lama, lambatnya laju metabolisme ini justru bisa mempersulit penurunan berat badan dan lebih mudah mengalami penambahan berat badan  dibandingkan sebelumnya.

 

7. Gangguan Makan

 

Gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia, juga menjadi salah satu bahaya diet ekstrem yang perlu diwaspadai. Sebab, diet yang tidak sehat dapat membuat seseorang cenderung mudah menyalahkan diri sendiri, stres, cemas, kesulitan berkonsentrasi, dan mudah marah.

 

Kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan menyebabkan seseorang merasa tidak percaya diri dengan penampilan tubuhnya. Jika terus berlanjut, hal tersebut dapat membuat mereka terobsesi mengurangi asupan makan agar bisa mendapatkan bentuk tubuh ideal sehingga memicu terjadinya gangguan makan.

 

8. Asam Urat Tinggi

 

Terdapat penelitian yang menunjukan bahwa diet ketogenik (tinggi lemak) dapat menyebabkan meningkatnya konsentrasi asam urat dalam darah. Perlu diketahui, diet ketogenik atau dikenal juga sebagai diet keto adalah jenis diet yang dilakukan dengan meningkatkan asupan lemak dan mengurangi asupan karbohidrat di bawah 50 gram per hari.

 

9. Meningkatkan Risiko Kanker

 

Karena pola makan rendah karbohidrat mengurangi asupan buah-buahan, sayur-sayuran, dan serat makanan, hal ini dapat meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang. Jenis diet seperti ini tentunya tidak disarankan untuk dilakukan.

 

Berbagai masalah kesehatan di atas dapat dihindari dengan cara menerapkan program diet yang sehat dan sesuai kondisi tubuh. Meski sedang menjalani diet, pastikan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Agar program penurunan berat badan efektif, diet juga harus dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang cukup.

 

Maka dari itu, Anda dapat memesan paket Catering Sehat Homecare dari Siloam Hospitals untuk mengoptimalkan program diet sehat yang sedang dijalani. Melalui paket ini, Anda bisa mendapatkan sesi konsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk membantu menganalisis komposisi tubuh serta memberikan saran pemenuhan gizi yang sesuai kondisi tubuh.

 

Paket Catering Sehat Homecare dapat dipesan secara praktis melalui fitur yang tersedia pada aplikasi MySiloam. Selain itu, Anda juga dapat menggunakan MySiloam untuk memudahkan akses layanan kesehatan lainnya, seperti mencari informasi jadwal praktik serta membuat appointment dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-lanny-christiawati-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lanny Christiawati, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-samuel-oetoro-spgk

Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)

Gizi Klinik

Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi


MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-christopher-andrian-mgizi-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail