Cacar Air pada Ibu Hamil, Apakah Perlu Diwaspadai?
Ibu dan Anak

Cacar Air pada Ibu Hamil, Apakah Perlu Diwaspadai?

03 September 2025 5 menit waktu baca
cacar air pada ibu hamil

Cacar air adalah infeksi virus yang umum terjadi dan biasanya dianggap ringan, terutama pada anak-anak. Namun, ketika infeksi ini menyerang ibu hamil, dampaknya bisa jauh lebih serius, baik bagi ibu maupun janin. Untuk memahami bagaimana dampak cacar air pada ibu hamil, mari simak ulasan di bawah ini sampai tuntas.

 

Penyebab Cacar Air pada Ibu Hamil

 

Pada dasarnya, cacar air merupakan penyakit menular disebabkan oleh infeksi virus Varicella zoster. Kondisi ini ditandai dengan munculnya ruam kulit berupa bintik-bintik merah yang berisi cairan (lenting). Ruam tersebut dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh, mulai dari wajah hingga kaki serta menimbulkan rasa gatal.

 

Pada sebagian besar kasus, orang yang sudah pernah terkena cacar air tidak akan mengalami penyakit ini lagi sebab kekebalan tubuhnya terhadap virus tersebut sudah terbentuk seumur hidup (lifelong immunity). Namun, ibu hamil termasuk dalam kelompok orang yang berisiko terkena cacar air dua kali karena sistem imunnya yang cenderung kurang optimal.

 

Ibu hamil dapat mengalami cacar air bila melakukan kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sedang terkena infeksi virus ini. Cacar air juga bisa menular melalui droplet penderitanya atau saat menyentuh benda yang terkontaminasi virus.

 

Ketika ibu hamil mengalami infeksi varicella saat melahirkan, hal tersebut dapat menyebabkan infeksi varicella. Penularan dari ibu ke bayi dapat terjadi melalui tiga cara, yaitu melalui plasenta, kontak langsung dengan lesi kulit atau darah selama persalinan, dan kontak pasca melahirkan melalui tetesan pernapasan atau kontak dengan lepuhan. 

Bahaya Cacar Air pada Ibu Hamil

 

Ibu hamil yang baru pertama kali terkena cacar air selama hidupnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi yang memengaruhi kondisi ibu maupun janin. Berikut adalah uraian mengenai bahaya cacar air yang terjadi saat hamil pada ibu dan janin.

 

A. Usia Kehamilan di Bawah 28 Minggu 

 

Komplikasi cacar air yang mungkin terjadi pada ibu di trimester awal kehamilan adalah pneumonia. Sedangkan, dampaknya terhadap bayi bisa berbeda-beda, tergantung dari kapan ibu mengalami infeksi. Meski sangat jarang terjadi, cacar air yang timbul di masa awal kehamilan (trimester 1 dan 2) dapat menyebabkan bayi mengalami sindrom varicella kongenital (CVS). Risiko ini akan meningkat jika ibu terkena cacar air di usia kehamilan 13–20 minggu.

 

Sindrom varicella kongenital (CVS) pada bayi ditandai dengan cacat lahir. Berikut adalah kondisi cacat lahir yang paling umum:

 

  • Tumbuhnya jaringan parut pada kulit.

  • Kelainan pada ekstremitas.

  • Gangguan neurologis, seperti retardasi mental.

  • Ukuran kepala lebih kecil dari batas normal (mikrosefali).

  • Hidrosefalus, yaitu kondisi yang terjadi ketika terdapat penumpukan cairan berlebihan di dalam otak.

  • Gangguan penglihatan, seperti katarak.

  • Intrauterine growth restriction (IUGR), kondisi ketika janin berukuran lebih kecil daripada ukuran ideal di usianya.

  • Kejang.

  • Cacat perkembangan fisik dan mental.

 

Namun, masih ada risiko keguguran dan bayi lahir mati (stillbirth). Guna mendeteksi infeksi lebih dini dan mencegah komplikasi pada ibu serta janin, jangan lupa melakukan pemeriksaan USG kehamilan secara rutin. USG dapat membantu dokter melihat perkembangan otak dan organ vital janin.

 

B.  Usia Kehamilan 28–36 Minggu

 

Jika ibu hamil terinfeksi cacar air saat usia kehamilan 28–36 minggu, virus penyebab cacar ar akan tetap berada di tubuh bayi, tetapi tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun, virus ini mungkin bisa menjadi aktif kembali dan dapat menyebabkan bayi mengalami herpes zoster dalam beberapa tahun pertama kehidupannya.

 

C. Usia Kehamilan di Atas 36 Minggu

 

Bayi memiliki risiko tinggi terkena cacar air apabila ibuterinfeksi cacar pada usia kehamilan di atas 36 minggu. Jika bayi lahir dalam waktu 7 hari setelah ruam cacar air muncul atau jika ibu hamil terkena cacar air dalam minggu pertama setelah lahir, bayi mungkin akan terkena cacar air dengan gejala yang berat. 

 

Bayi mempunyai risiko tertinggi terkena infeksi cacar air berat ketika ibu mengalami infeksi pada 5 hari sebelum dan 2 hari setelah melahirkan. Dalam jangka waktu tersebut, bayi akan terkena viremia yang tinggi (adanya virus di dalam darah), namun belum memiliki cukup waktu untuk memperoleh antibodi dari ibu.

 

Sebagai langkah penangannya, bayi harus menerima Varicella-zoster imunoglobulin (VZIG) segera setelah lahir atau segera setelah gejala ibu muncul dalam dua hari setelah melahirkan. Imunoglobulin intravena (IVIG) merupakan alternatif jika VZIG tidak tersedia di fasilitas kesehatan. 

 

Bayi harus diobati meskipun ibunya juga diberikan VZIG. Bayi-bayi ini harus dimonitor secara hati-hati, dan pengobatan dini dengan acyclovir intravena harus diberikan untuk mengatasi infeksi cacar air.

Cara Mengatasi Cacar Air pada Ibu Hamil

 

Ibu hamil yang menyadari munculnya tanda-tanda cacar air atau baru melakukan kontak dengan penderita cacar air sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter. Guna menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan identifikasi gejala dan meminta ibu melakukan beberapa tes, seperti tes darah, untuk memastikan infeksi.

 

Jika ibu hamil didiagnosis terkena cacar air, beberapa pengobatan yang akan diberikan oleh dokter adalah sebagai berikut:

 

  • Memberikan suntikan VZIG dalam waktu 10 hari setelah ibu terpapar virus. Suntikan ini bisa bekerja di dalam tubuh ibu hamil sekitar 3 minggu. Jadi, jika cacar air tidak sembuh setelah 3 minggu, ibu perlu melakukan suntikan lagi. Sayangnya, belum bisa dipastikan apakah suntikan ini bisa mencegah CVS pada bayi saat lahir.

  • Memberikan obat antivirus. Obat yang paling umum diberikan adalah acyclovir. Jika cacar air terjadi saat melahirkan, bayi juga akan menerima suntikan acyclovir dan imunoglobulin.

 

Jika usia kehamilan saat ibu hamil terkena cacar air sudah lebih dari 20 minggu, dokter dapat memberikan acyclovir untuk mengurangi demam dan gejalanya. Obat ini harus diberikan dalam waktu 24 jam setelah ruam cacar air muncul.

 

Bisa disimpulkan bahwa cacar air pada ibu hamil perlu diwaspadai, sehingga ibu yang mengalami gejala-gejala yang mengarah pada cacar air saat hamil perlu segera memeriksakan diri ke dokter. Dalam hal ini, ibu bisa membuat janji temu dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals.

 

Bila memerlukan layanan kesehatan seputar kehamilan, ibu juga bisa mengunjungi NEST yang terdapat di Siloam Hospitals TB Simatupang dan Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang. Bersama NEST, ibu hamil akan mendapatkan layanan dan fasilitas lengkap yang didukung oleh tim dokter multidisiplin, seperti spesialis kandungan dan kebidanan, anak, anestesi, gizi klinis, konsultan laktasi, serta bidan dan tenaga medis profesional.

 

Nest Artikel Banner

 

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail