Ibu dan Anak
Stillbirth (Bayi Lahir Mati), Ini Penyebab & Tanda-Tandanya

Table of Contents
Bayi lahir mati atau stillbirth adalah salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai. Kondisi ini ditandai dengan bayi yang telah meninggal sejak di dalam kandungan. Kendati demikian, perlu diketahui bahwa still birth adalah kondisi yang berbeda dengan keguguran.
Lantas, apa perbedaan stillbirth dengan keguguran dan bagaimana cara mencegah kondisi tersebut? Untuk mengetahuinya, mari simak ulasan lengkap mengenai stillbirth, mulai dari penyebab, faktor risiko, tanda-tanda, hingga cara mencegahnya di sini.
Apa itu Stillbirth (Bayi Lahir Mati)?
Intrauterine fetal death (IUFD) atau stillbirth adalah kondisi ketika bayi meninggal di dalam kandungan saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat terjadi ketika proses persalinan sedang berlangsung, namun persentase kejadiannya cenderung kecil.
Stillbirth adalah kondisi yang berbeda dengan keguguran atau abortus (miscarriage). Pada dasarnya, keguguran merupakan kondisi ketika janin meninggal sebelum usia kandungan mencapai 20 minggu. Sementara itu, stillbirth adalah keadaan di mana janin meninggal setelah usia kandungan mencapai 20 minggu.
Berdasarkan usia kehamilannya, intrauterine fetal death dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu stillbirth awal (early stillbirth), stillbirth akhir (late stillbirth), dan stillbirth. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Early stillbirth: Bayi meninggal saat usia kandungan mencapai 20–27 minggu.
-
Late stillbirth: Bayi meninggal saat usia kandungan mencapai 28–36 minggu.
-
Stillbirth: Bayi meninggal saat usia kandungan di atas 37 minggu.
Penyebab Stillbirth
Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti apa kondisi yang menyebabkan bayi meninggal di dalam kandungan. Namun, terdapat sejumlah kondisi medis yang diduga turut memicu terjadinya stillbirth, yaitu:
-
Gangguan plasenta, seperti peradangan, gangguan pembuluh darah di sekitar plasenta, hingga solusio plasenta.
-
Ibu menderita penyakit tertentu, seperti penyakit lupus, trombofilia, diabetes gestasional, hipertensi saat hamil, preeklamsia, dan obesitas.
-
Memiliki riwayat kehamilan dengan stillbirth sebelumnya.
-
Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, atau mengonsumsi obat-obatan yang tidak sesuai dengan anjuran dokter saat hamil.
-
Ibu terinfeksi virus, bakteri, atau parasit selama hamil, seperti Streptococcus, Herpes simplex virus, Chlamydia, Toxoplasma, Listeria, Plasmodium, atau Rubella.
-
Bayi mengalami cacat lahir (birth defect). Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kelainan kromosom atau genetik.
-
Hamil saat berusia di bawah 15 tahun atau di atas 35 tahun.
-
Janin terlilit tali pusar sehingga menghambat aliran darah dan oksigen dalam tubuhnya.
-
Janin mengalami intrauterine growth restriction (IUGR), yaitu kondisi ketika pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat selama berada dalam kandungan.
Tanda-Tanda Stillbirth yang Perlu Diwaspadai
Stillbirth biasanya tidak menunjukkan gejala awal sebelum bayi meninggal di dalam kandungan. Namun, ibu dapat mengalami sejumlah gejala ketika bayi sudah meninggal di dalam kandungan, seperti:
-
Ibu jarang atau bahkan tidak merasakan gerakan bayi di dalam kandungan sama sekali.
-
Perdarahan dari vagina, terutama selama trimester kedua kehamilan.
Diagnosis Stillbirth
Pada dasarnya, diagnosis stillbirth dapat ditegakkan dengan cara memeriksa detak jantung janin di dalam kandungan. Prosedur pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan doppler atau USG kandungan.
Penanganan Stillbirth
Langkah utama yang dapat dilakukan untuk menangani stillbirth adalah segera melahirkan bayinya. Beberapa pasien yang mengalami stillbirth umumnya sudah siap menerima induksi persalinan pada saat itu juga untuk merangsang kontraksi rahim dan melahirkan bayi secara normal.
Apabila jalan lahir (serviks atau leher rahim) belum membuka, dokter dapat memberikan obat tertentu pada vagina ibu untuk merangsang pembukaan leher rahim. Selain itu, ibu juga dapat menerima terapi infus hormon oksitosin untuk membantu merangsang kontraksi rahim.
Namun, jika mengalami kondisi tertentu, seperti posisi bayi tidak normal, ibu mengalami kelainan plasenta, ukuran bayi lebih besar daripada ukuran panggul ibu, pernah menjalani operasi caesar, atau hamil kembar, operasi caesar bisa menjadi pilihan untuk melahirkan bayi yang meninggal dalam kandungan guna menghindari risiko komplikasi saat persalinan, seperti perdarahan.
Di samping melahirkan normal atau operasi caesar, proses mengeluarkan bayi yang meninggal di dalam kandungan juga dapat dilakukan dengan cara dilatasi dan kuretase (kuret). Prosedur ini umumnya hanya dapat dilakukan apabila usia kandungan maksimal masih dalam trimester kedua awal atau kurang dari 24 minggu.
Cara Mencegah Stillbirth
Pada dasarnya, stillbirth adalah kondisi yang dapat dicegah dengan menghindari sejumlah faktor risikonya. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya stillbirth adalah sebagai berikut.
-
Menjaga berat badan ideal, baik sebelum maupun selama kehamilan. Pastikan kenaikan berat badan selama masa hamil masih dalam batas wajar.
-
Memantau pergerakan janin di dalam kandungan secara rutin. Pergerakan janin umumnya bisa mulai dirasakan pada minggu ke-26 sampai dengan ke-28 masa kehamilan.
-
Menerapkan pola hidup sehat selama masa hamil, seperti mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, rutin berolahraga, istirahat yang cukup, tidak merokok, serta menghindari konsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan yang tidak sesuai dengan anjuran dokter.
-
Dianjurkan untuk tidur dengan posisi menghadap ke kiri selama hamil, terutama jika kehamilan sudah mencapai trimester 3.
Stillbirth adalah risiko yang perlu dideteksi dan dicegah sejak dini agar ibu dapat melahirkan bayi dalam kondisi selamat dan sehat. Oleh karenanya, penting bagi setiap ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin guna menjaga dan memastikan kandungan dalam keadaan baik.
Untuk memperoleh pemeriksaan kehamilan secara menyeluruh, Anda dapat mengunjungi NEST yang berlokasi di Siloam Hospitals TB Simatupang dan Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang untuk mendapatkan layanan dan perawatan selama masa kehamilan, persalinan, dan pascamelahirkan.
NEST menyediakan tim dokter multidisiplin dan fasilitas medis mutakhir sehingga dapat memberikan Anda pengalaman persalinan serta pascamelahirkan yang aman, nyaman, dan tak terlupakan.
Anda juga bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mendapatkan beragam kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan, mulai dari mencari informasi jadwal praktik dokter hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Hidup Sehat Basic
Penawaran Spesial, Skrining Lite
11 Service/Item
Rp649.000
NEST - Lab Screening Trimester 1 (PAKET A)
Lainnya
16 Service/Item
Rp4.642.000
NEST - Lab Screening Trimester 2 / Trimester 3
Lainnya
5 Service/Item
Rp1.226.000
NEST - Lab Screening Preops
Lainnya
10 Service/Item
Rp2.528.000
NEST - Lab Screening Trimester 1 (PAKET B)
Lainnya
9 Service/Item
Rp1.692.000







