Ibu dan Anak
Mengenal Anovulasi, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Anovulasi adalah kondisi ketika wanita tidak mengalami ovulasi selama siklus menstruasi. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, bahkan pada wanita dengan siklus menstruasi normal. Lantas, apakah anovulasi dapat menyebabkan gangguan fertilitas? Mari simak informasi selengkapnya mengenai anovulasi melalui artikel berikut.
Apa Itu Anovulasi?
Anovulasi adalah kondisi ketika indung telur (ovarium) tidak melepaskan sel telur selama siklus menstruasi. Sebagai informasi, proses pelepasan sel telur oleh ovarium disebut dengan ovulasi dan normalnya terjadi sekali dalam setiap siklus. Tanpa ovulasi, maka tidak ada sel telur yang dapat dibuahi oleh sperma untuk menghasilkan kehamilan. Namun, bukan berarti wanita yang mengalami anovulasi tidak memiliki peluang untuk hamil sama sekali.
Penyebab Anovulasi
Secara umum, anovulasi terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh, terutama hormon-hormon yang berperan dalam proses ovulasi, seperti GnRH (gonadotropin-releasing hormone), FSH (follicle-stimulating hormone), dan LH (luteinizing hormone). Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Hormon Androgen Berlebih (Hiperandrogenisme)
Meski sering dianggap sebagai hormon khas pria, tubuh wanita juga memproduksi androgen dalam jumlah kecil. Androgen sendiri merupakan kelompok hormon yang berperan dalam pertumbuhan dan reproduksi. Pada sebagian wanita, kadar hormon androgen dapat melebihi batas normal yang dikenal sebagai hiperandrogenisme.
Tingginya kadar hormon androgen inilah yang dapat menghambat perkembangan folikel pada ovarium (yang mengandung sel telur), sehingga sel telur tidak dapat matang sebagaimana mestinya. Adapun beberapa kondisi yang kerap dikaitkan dengan hiperandrogenisme adalah:
-
Gangguan kelenjar adrenal.
-
Kelainan kelenjar pituitari, seperti sindrom Cushing atau akromegali.
-
Efek samping obat-obatan tertentu.
2. Disfungsi Kelenjar Pituitari
Kelenjar pituitari berfungsi dalam memproduksi hormon LH dan FSH yang diperlukan untuk terjadinya ovulasi. Apabila fungsi kelenjar pituitari terganggu (misalnya, akibat berat badan yang terlalu rendah, olahraga secara berlebihan, tumor atau gangguan lain pada pituitari atau kondisi medis tertentu), hal ini berisiko menyebabkan anovulasi karena produksi hormon yang tidak optimal.
3. Hormon Prolaktin Berlebih (Hiperprolaktinemia)
Prolaktin adalah hormon yang bertanggung jawab untuk proses laktasi, perkembangan payudara, dan menjaga homeostasis tubuh. Seorang wanita berisiko mengalami anovaluasi apabila memiliki kadar prolaktin yang terlalu tinggi melebihi batas normal. Hal ini dikarenakan prolaktin dapat menekan produksi hormon FSH dan LH yang dibutuhkan untuk ovulasi.
Beberapa kondisi yang dapat memicu hiperprolaktinemia pada wanita adalah:
-
Menyusui.
-
Gangguan pada kelenjar pituitari, seperti prolaktinoma (tumor pada kelenjar pituitari).
-
Gangguan pada ginjal, hati, maupun kelenjar tiroid.
-
Efek samping obat-obatan tertentu.
4. Kadar Hormon Tiroksin Rendah
Rendahnya kadar hormon tiroksin dalam darah dapat meningkatkan produksi hormon prolaktin oleh kelenjar pituitari. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tingginya kadar prolaktin dapat menghambat terjadinya ovulasi atau pelepasan sel telur dari ovarium.
5. Kadar Hormon GnRH Rendah
Hipotalamus adalah bagian otak yang memproduksi hormon GnRH. GnRH yang diproduksi hipotalamus berfungsi memicu pelepasan LH dan FSH. Jika kadar GnRH rendah, hal ini berisiko menghambat terjadinya ovulasi. Rendahnya kadar GnRH dalam darah dapat terjadi karena adanya kerusakan pada hipotalamus.
Selain beberapa penyebab di atas, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya anovulasi, salah satunya adalah stres. Sebagaimana disebutkan dalam penelitian berjudul Functional Hypothalamic Amenorrhea: Recognition and Management of a Challenging Diagnosis (2023), stres salah satu pemicu functional hypothalamic amenorrhea (FHA). Kondisi stres dapat mengganggu sekresi hormon GnRH dan LH yang berperan penting dalam ovulasi. Akibatnya, ovulasi dan menstruasi pun tidak terjadi.
Gejala Anovulasi
Gejala anovulasi tidak selalu sama pada setiap wanita. Bahkan, gejalanya tidak mudah untuk disadari karena wanita tetap dapat mengalami menstruasi tanpa ovulasi. Dalam terminologi medis, kondisi ini disebut sebagai AUB-O (abnormal uterine bleeding-ovulatory disorder) menurut klasifikasi FIGO PALM-COEIN. Meski begitu, beberapa gejala yang biasanya dapat menandakan anovulasi adalah:
-
Siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak mengalami menstruasi sama sekali.
-
Durasi menstruasi yang berbeda-beda di setiap siklus.
-
Perubahan jumlah darah menstruasi (terlalu banyak atau sangat sedikit).
-
Tidak terdapat lendir serviks yang menyerupai putih telur sebelum dan selama ovulasi.
-
Suhu basal tubuh yang tidak teratur.
-
Kesulitan untuk hamil meskipun sudah berhubungan seksual tanpa kontrasepsi selama beberapa bulan.
Diagnosis Anovulasi
Diagnosis anovulasi biasanya dimulai dengan wawancara medis (anamnesis). Dokter akan menanyakan riwayat menstruasi, usia awal menstruasi, gejala yang dirasakan, pola gaya hidup, hingga riwayat kesehatan reproduksi pasien. Dari sini, dokter bisa mendapatkan gambaran awal mengenai kemungkinan adanya gangguan ovulasi.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh.Setelah itu, pemeriksaan lanjutan biasanya dilakukan untuk memastikan diagnosis, yang mencakup:
-
Tes kehamilan, untuk menyingkirkan kehamilan.
-
Tes darah untuk memeriksa darah lengkap, kadar hormon (seperti FSH, LH, prolaktin, dan tiroid), dan lain-lain.
-
Tes toleransi glukosa, bila dicurigai resistensi insulin.
-
USG transvaginal, untuk melihat folikel dan tanda PCOS.
Pada beberapa kasus, kondisi ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan anovulasi dapat menunjukkan gejala tertentu pada pasien. Oleh karenanya, dokter mungkin juga akan menyarankan pasien untuk menjalani tes tambahan guna memastikan kondisi tersebut.
Pengobatan Anovulasi
Penanganan anovulasi akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Beberapa metode pengobatan yang dianjurkan biasanya berupa:
-
Perubahan gaya hidup yang lebih sehat, seperti mengelola stres dengan baik, menjaga berat badan ideal (menurunkan 5–10% berat badan pada penderita obesitas), dan berolahraga sesuai kondisi dan kemampuan tubuh.
-
Terapi obat atau hormon, clomiphene citrate atau letrozole untuk induksi ovulasi, metformin pada PCOS dengan resistensi insulin, dan terapi lain sesuai kondisi medis yang mendasari.
-
Tindakan operasi, apabila metode pengobatan lainnya tidak efektif dalam menangani penyebab yang mendasari anovulasi.
Komplikasi Anovulasi
Apabila anovulasi berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini bisa meningkatkan risiko:
-
Periode menstruasi tidak teratur (amenorrhea).
-
Ketidakseimbangan hormon yang ditandai dengan penambahan berat badan, rambut rontok, dan jerawat.
-
Hiperplasia endometrium (penebalan lapisan rahim).
-
Osteoporosis.
-
Penyakit kardiovaskular.
Meski begitu, tidak semua wanita dengan anovulasi akan mengalami komplikasi. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Paediatric and Perinatal Epidemiology (2020), anovulasi sporadis (yang terjadi sesekali) pada wanita subur dengan siklus menstruasi teratur tidak berdampak signifikan terhadap peluang hamil maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk hamil. Artinya, meskipun seseorang mengalami anovulasi, peluang untuk hamil tetap ada.
Penting untuk diketahui bahwa informasi yang disampaikan dalam artikel ini tidak secara spesifik mewakili kondisi setiap wanita dengan anovulasi. Artinya, gejala-gejala, seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dan kesulitan untuk hamil, mungkin saja berkaitan dengan kondisi medis lain yang memengaruhi siklus menstruasi.
Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat, terlebih jika Anda sering mengalami menstruasi yang tidak teratur.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani mungkin berbeda di setiap fasilitas kesehatan. Tenaga medis akan menentukan langkah diagnosis dan penanganan yang paling tepat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter spesialis hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
HealthCentral. What to Know About Anovulation. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Anovulation. Diakses pada 2025 | WebMD. What Is Anovulation?. Diakses pada 2025 | Medical News Today. Anovulation: All you need to know. Diakses pada 2025 | Mayo Clinic Proceedings. Functional Hypothalamic Amenorrhea: Recognition and Management of a Challenging Diagnosis. Diakses pada 2025 | PubMed Central. Sporadic anovulation is not an important determinant of becoming pregnant and time to pregnancy among eumenorrheic women: a simulation study. Diakses pada 2025 | National Center for Biotechnology Information. Abnormal Uterine Bleeding. Diakses pada 2025 | Fertility and Sterility. Recommendations from the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Pranikah Basic (Wanita)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
18 Service/Item
Rp8.500.000
TERPOPULER
Skrining Pranikah Advance (Wanita)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
25 Service/Item
Rp11.000.000
TERPOPULER
Organ Reproduksi (Wanita) Komprehensif
Skrining Kanker
7 Service/Item
Rp4.000.000
TERPOPULER
Organ Reproduksi (Wanita) Tingkat Lanjut
Skrining Kanker
7 Service/Item
Rp5.600.000






