Kesehatan Tubuh
Dislokasi Lensa: Penyebab, Gejala, Komplikasi, & Pengobatan

Table of Contents
Ektopia lentis atau juga dikenal dengan dislokasi lensa adalah kondisi medis ketika lensa mata berada pada posisi yang tidak seharusnya. Dalam kondisi normal, lensa mata berada tepat di belakang pupil dan bagian tengah mata. Namun pada kasus ektopia lentis, posisi lensa tidak sejajar dengan bagian mata lainnya.
Secara umum, ektopia lentis adalah kondisi yang cenderung langka atau jarang terjadi. Kendati demikian, penting untuk tetap mewaspadai kondisi ini karena bisa dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mari simak informasi lebih lanjut mengenai dislokasi lensa dalam artikel berikut ini.
Apa itu Dislokasi Lensa (Ektopia Lentis)?
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa dislokasi lensa (ektopia lentis) adalah kondisi di mana lensa mata berada pada posisi yang tidak normal. Lensa sendiri merupakan salah satu bagian mata yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke mata.
Berdasarkan posisi lensanya, kelainan lensa mata ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu luxated dan subluxated (subluxation). Luxated terjadi jika posisi lensa berada di luar ruang lensa. Sementara subluxated merupakan kondisi ketika posisi lensa bergeser, namun masih berada di dalam ruang lensa.
Selain itu, berdasarkan sisi mata yang terdampak, dislokasi lensa juga dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu isolated ectopia lentis dan bilateral ectopia lentis. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Isolated ectopia lentis: Ektopia lentis yang terjadi pada salah satu mata.
-
Bilateral ectopia lentis: Ektopia lentis yang terjadi pada kedua mata secara bersamaan.
Penyebab Dislokasi Lensa
Terdapat sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan seseorang mengalami dislokasi lensa, di antaranya adalah trauma atau cedera, kelainan genetik, dan penyakit tertentu yang memengaruhi mata. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Trauma atau Cedera
Trauma atau cedera merupakan penyebab ektopia lentis yang paling umum terjadi. Adapun sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya trauma pada mata dan meningkatkan risiko dislokasi lensa adalah kecelakaan lalu lintas, cedera saat berolahraga, terjatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan lain sebagainya.
2. Kelainan Genetik
Kelainan genetik terjadi ketika ada mutasi gen atau saat seseorang membawa materi genetik yang mengalami mutasi dari orang tua (carrier). Karena itu, seseorang lebih berisiko menderita kelainan ini jika memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa. Selain itu, sejumlah kelainan genetik yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini adalah:
-
Sindrom Weill-Marchesani.
-
Aniridia.
-
Homocystinuria.
-
Sindrom Ehlers-Danlos.
-
Sindrom Pierre Robin.
-
Retinitis pigmentosa.
-
Refsum disease.
-
Sindrom Axenfeld-Rieger.
-
Persistent pupillary membrane.
3. Penyakit yang Memengaruhi Mata
Selain trauma dan kelainan genetik, dislokasi lensa juga dapat dipicu oleh gangguan pada mata. Adapun sejumlah kondisi medis yang dapat memengaruhi mata dan memicu ektopia lentis adalah:
-
Pseudoexfoliation syndrome.
-
Miopi tinggi.
-
Bufthalmus (kondisi di mana terjadinya pembesaran bola mata).
-
Glaukoma kongenital.
-
Megalokornea (pembesaran diameter kornea melebihi 13 mm).
Gejala Dislokasi Lensa
Dislokasi lensa adalah kondisi yang dapat memengaruhi fungsi penglihatan secara menyeluruh. Adapun sejumlah gejala yang umum dialami oleh penderita ektopia lentis adalah sebagai berikut.
-
Pandangan buram, bisa berupa rabun jauh (miopi) atau astigmatisme (mata silinder).
-
Mata terasa nyeri.
-
Penglihatan ganda.
Komplikasi Dislokasi Lensa
Dislokasi lensa adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat. Pasalnya, jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini berisiko menyebabkan sejumlah komplikasi, di antaranya sebagai berikut:
-
Pandangan menjadi kabur.
-
Penglihatan ganda.
-
Glaukoma.
-
Kerusakan retina.
-
Buta permanen.
Diagnosis Dislokasi Lensa
Pertama-tama, dokter dapat menegakkan diagnosis dari kondisi ini dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta kronologi kecelakaan pasien. Setelah itu, dokter dapat mengarahkan pasien untuk menjalani tes ketajaman penglihatan dan memeriksa bagian lain dari mata pasien, termasuk:
-
Kornea.
-
Retina.
-
Tingkat tekanan dalam mata (intraocular pressure).
Lalu, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi kelainan genetik yang menyebabkan dislokasi lensa. Jika diperlukan, pemeriksaan juga dapat dilanjutkan untuk mendeteksi kelainan genetik yang memengaruhi sistem muskuloskeletal, seperti tulang, otot, ligamen, dan tendon.
Pengobatan Dislokasi Lensa
Pengobatan dislokasi lensa dapat dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Sebagian besar penderita kondisi ini biasanya memerlukan lensa kontak atau kacamata korektif agar dapat melihat dengan jelas.
Selain itu, pasien mungkin membutuhkan tindakan pembedahan untuk menangani ektopia lentis yang disertai dengan gangguan mata lain, seperti katarak, glaukoma, atau ablasi retina (kondisi ketika retina terlepas dari bagian belakang mata). Beberapa metode operasi yang umum dilakukan adalah:
-
Lensectomy.
-
Vitrectomy (biasanya dikombinasikan dengan lensectomy).
-
Iris-fixated intraocular lens.
-
Scleral-sutured posterior intraocular lens.
-
Bag-in-the-lens implantation of intraocular lens (IOL) with capsular tension ring.
-
Operasi katarak menggunakan laser femtosecond.
Pencegahan Dislokasi Lensa
Jika disebabkan oleh kelainan genetik, ektopia lentis cenderung sulit untuk dicegah. Namun, Anda dapat meminimalkan risiko cedera mata yang memicu terjadinya ektopia lentis dengan selalu menggunakan alat pelindung diri selama melakukan aktivitas yang berisiko tinggi.
Jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda mengeluhkan kondisi tidak biasa yang mengarah pada gejala ektopia lentis. Siloam Hospitals didukung dengan tim dokter spesialis berpengalaman dan fasilitas medis mutakhir sehingga dapat memberikan diagnosis serta penanganan yang sesuai kondisi tubuh.
Agar lebih praktis, Anda dapat menemukan informasi jadwal dan membuat appointment dengan dokter pilihan menggunakan fitur Cari Dokter atau melalui aplikasi MySiloam. Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk check in mandiri hingga antre secara online. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini







