Fraktur Oblique - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Kesehatan Tubuh

Fraktur Oblique - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
fraktur oblique

Fraktur oblique adalah jenis patah tulang yang ditandai dengan terbentuknya garis diagonal atau miring. Kondisi ini perlu segera ditangani dengan tepat, terutama jika menimbulkan patah tulang terbuka. Mari simak ulasan lengkap mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan fraktur oblique melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Fraktur Oblique?

 

Seperti yang telah dijelaskan bahwa oblique fracture atau fraktur oblique adalah jenis fraktur (patah tulang) yang membentuk garis miring (diagonal). Kondisi ini biasanya terjadi pada tulang panjang. Adapun beberapa jenis tulang yang kerap mengalami patah tulang oblique adalah:

 

  • Femur (tulang paha).

  • Tibia (tulang kering).

  • Fibula (tulang betis).

  • Humerus (tulang lengan atas).

  • Radius dan ulna (tulang lengan bawah).

  • Klavikula (tulang selangka).

 

Penyebab Fraktur Oblique

 

Penyebab utama fraktur oblique adalah adanya benturan yang sangat keras dari luar. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang mengalami kecelakaan, cedera saat berolahraga, terlibat kekerasan fisik, terjatuh dari ketinggian, dan lain-lain. 

 

Dalam kondisi tersebut, tubuh mendarat atau mendapatkan tekanan secara tiba-tiba dari sudut yang miring. Selain itu, seseorang yang menderita osteoporosis cenderung lebih berisiko untuk mengalami fraktur oblique.

 

Fraktur oblique adalah kondisi tulang yang patah secara diagonal sepanjang lebar tulang dan sepanjang sumbu longitudinal tulang. Bagian tepi tulang yang patah biasanya cukup tajam dapat menyebabkan laserasi atau sobekan pada kulit di sekitar patahan. Kondisi ini disebut sebagai jenis fraktur terbuka (open fracture).

 

Gejala Fraktur Oblique

 

Gejala oblique fracture cenderung beragam, tergantung pada lokasi serta tingkat keparahannya. Kendati demikian, terdapat beberapa gejala umum yang kerap dialami oleh penderita kondisi ini. Beberapa gejala tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Nyeri pada bagian tubuh yang terdampak.

  • Bengkak.

  • Nyeri tekan (tenderness).

  • Kesulitan untuk menggerakkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang.

  • Memar.

  • Kelainan bentuk atau munculnya benjolan abnormal pada bagian tubuh yang terdampak.

  • Perdarahan apabila terjadi patah tulang terbuka.

 

Diagnosis Fraktur Oblique

 

Penegakan diagnosis fraktur oblique dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi pasien secara keseluruhan terutama pada bagian tulang yang terdampak. 

 

Lalu, untuk membantu mengonfirmasi diagnosis, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:

 

 

Selain melihat adanya fraktur oblique, tes pencitraan juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah tulang mengalami pergeseran (displaced), yaitu kondisi ketika tulang menjauh dari ujung patahnya. Hal tersebut dapat membantu dokter untuk menentukan derajat keparahan serta pengobatannya.

 

Pengobatan Fraktur Oblique

 

Seperti jenis patah tulang lainnya, pengobatan oblique fracture dapat disesuaikan dengan tingkat keparahan dan penyebab yang mendasarinya. Namun, beberapa metode yang umumnya dilakukan untuk menangani patah tulang ini adalah imobilisasi, closed reduction, tindakan operasi, dan fisioterapi. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

  • Imobilisasi: Dokter dapat memasang bidai atau gips pada bagian tubuh yang mengalami patah tulang selama beberapa minggu untuk membatasi pergerakannya. Dengan begitu, proses pemulihan patah tulang dapat berjalan optimal. Pasien akan diminta untuk sesekali mengompres dan meninggikan bagian tubuh yang patah selama 24–48 jam berikutnya untuk membantu mengatasi rasa sakit serta bengkak. Tulang harus diimobilisasi selama 6–12 minggu agar dapat menyatu dengan sempurna.

  • Closed reduction: Melalui prosedur ini, dokter akan mendorong dan menarik tubuh pasien dari luar untuk menyejajarkan tulang yang patah. Setelah itu, dokter akan memasang bidai atau gips. Untuk menghilangkan rasa nyeri selama prosedur closed reduction, pasien akan diberikan anestesi (lokal maupun umum) dan obat penenang tertentu. Closed reduction dapat dilakukan pada kondisi fraktur non displaced (kondisi ketika tulang patah hingga remuk berkeping-keping tetapi tidak keluar dari posisi aslinya) dan fraktur tertutup (jenis fraktur di mana bagian ujung dari tulang yang patah tidak sampai mengakibatkan robekan pada kulit).

  • Tindakan operasi: Dokter dapat melakukan tindakan operasi untuk menangani oblique fracture yang parah. Beberapa metode operasi yang kerap digunakan dalam menangani kondisi ini adalah:

    • Internal fixation. Dilakukan dengan menyusun dan menyusun tulang yang patah pada tempat yang seharusnya. Setelah itu, dokter akan memasukkan potongan logam untuk menahan posisi tulang agar tetap pada tempat.

    • External fixation. Prosedur external fixation dapat dilakukan dengan memasang sekrup atau pin di kedua sisi tulang yang patah. Lalu, sekrup atau pin tersebut akan dihubungkan ke penyangga atau bracket pada tulang di bagian luar tubuh.

    • Arthroplasty. Jika patah tulang menyebabkan kerusakan pada sendi, pasien mungkin akan memerlukan arthroplasty atau prosedur penggantian sendi.

    • Bone grafting (cangkok tulang). Melalui prosedur ini, dokter bisa menggunakan jaringan tulang tambahan untuk menyatukan kembali tulang yang patah.

  • Fisioterapi: Guna mengoptimalkan proses pemulihan, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani terapi fisik atau fisioterapi. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan rentang gerak tubuh setelah mengalami cedera.

 

Komplikasi Fraktur Oblique

 

Patah tulang yang serius, termasuk fraktur oblique dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya jika tidak segera ditangani. Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk kerusakan pembuluh darah atau saraf hingga infeksi pada tulang (osteomielitis) maupun jaringan di sekitarnya. 

 

Pencegahan Fraktur Oblique

 

Pencegahan oblique fracture bisa dilakukan dengan menghindari kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya cedera tersebut. Secara umum, beberapa cara yang bisa diterapkan dalam mengurangi risiko terjadinya fraktur oblique adalah sebagai berikut:

 

  • Menggunakan sabuk pengaman saat berkendara.

  • Mengenakan alat pelindung diri yang tepat dan sesuai ketika berolahraga.

  • Melakukan pemanasan sebelum berolahraga.

  • Selalu berhati-hati saat beraktivitas fisik.

  • Mengonsumsi makanan sehat dan gizi seimbang, terutama yang mengandung vitamin D serta kalsium untuk memelihara kesehatan tulang.

  • Menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter jika menderita osteoporosis.

 

Jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada fraktur oblique, Anda dapat segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Ortopedi (Tulang) dari Siloam Hospitals untuk memperoleh diagnosis serta penanganan yang tepat. Tidak perlu khawatir, tim dokter Siloam Hospitals telah berpengalaman di bidangnya sehingga bisa memberikan tindakan medis yang komprehensif dan sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Di samping itu, Anda juga bisa memesan paket Fisioterapi dari layanan Siloam at Home untuk mengoptimalkan proses pemulihan tubuh setelah mengalami cedera, dalam hal ini adalah patah tulang. Paket tersebut dapat dipesan secara praktis melalui fitur dalam aplikasi MySiloam.

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail