Mengenal Nerve Compression Syndromes, Jenis, & Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Mengenal Nerve Compression Syndromes, Jenis, & Gejalanya

17 Oktober 2025 5 menit waktu baca
Nerve Compression Syndromes

 

Nerve compression syndromes adalah sekumpulan kondisi yang terjadi akibat adanya tekanan berlebih pada saraf tepi. Kondisi ini dapat memengaruhi tangan, lengan, kaki, atau bagian tubuh lainnya. Adapun salah satu jenis nerve compression syndromes yang sering terjadi adalah carpal tunnel syndrome (CTS). Mari pahami lebih lanjut tentang nerve compression syndromes melalui artikel berikut ini.

 

Apa Itu Nerve Compression Syndromes?

 

Seperti yang sudah disinggung, nerve compression syndromes adalah suatu kondisi ketika sistem saraf tepi mengalami tekanan berlebih. Saraf tepi berfungsi untuk menghubungkan sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang dengan seluruh bagian tubuh lainnya, seperti organ, otot, dan kulit.

Jenis-Jenis Nerve Compression Syndromes

 

Nerve compression syndromes terdiri dari berbagai bentuk. Sindrom ini memengaruhi berbagai saraf perifer pada anggota gerak tubuh bagian atas dan bawah. Adapun nerve compression syndrome yang menyerang anggota tubuh bagian atas meliputi:

 

  • Carpal tunnel syndrome (CTS): Tekanan berlebih pada saraf medianus di pergelangan tangan.

  • Pronator teres syndrome: Tekanan berlebih pada saraf medianus di area dekat otot pronator teres bagian lengan bawah.

  • Radial tunnel syndrome: Tekanan berlebih pada saraf radial di siku.

  • Suprascapular nerve entrapment: Kompresi atau kerusakan pada saraf supraskapular di bahu.

  • Thoracic outlet syndrome: Tekanan berlebih pada saraf di leher bagian bawah dan dada bagian atas.

  • Ulnar nerve entrapment: Tekanan berlebih pada saraf ulnaris di siku (cubital tunnel syndrome) atau pergelangan tangan (Guyon’s canal syndrome).

 

Sementara itu, jenis-jenis nerve compression syndromes yang memengaruhi anggota tubuh bagian bawah adalah sebagai berikut:

 

  • Peroneal nerve compression: Tekanan pada saraf peroneal di area sekitar lutut.

  • Meralgia paresthetica: Tekanan pada saraf lateral femoral cutaneous yang menyebabkan mati rasa atau nyeri di bagian luar paha.

  • Pudendal nerve entrapment syndrome: Tekanan pada saraf pudendal di area panggul, biasanya menyebabkan nyeri pada area panggul.

  • Sciatica: Nyeri sepanjang lintasan saraf skiatik di punggung bawah, pinggul, bokong atau kaki. Biasanya disebabkan karena adanya herniasi diskus atau penyempitan di tulang belakang

  • Tarsal tunnel syndrome: Kerusakan pada saraf tibialis posterior di terowongan tarsal yang menyebabkan nyeri atau kesemutan di tumit atau telapak kaki.

 

Penyebab Nerve Compression Syndromes

 

Kompresi saraf sering kali memengaruhi saraf yang berjalan melalui lubang kecil (disebut juga sebagai terowongan atau kanal) di persendian. Beberapa kemungkinan penyebab nerve compression syndromes adalah sebagai berikut:

 

  • Kecelakaan dan trauma, seperti jatuh, mengalami benturan, atau tekanan pada area tertentu bisa menyebabkan pembengkakan dan tekanan pada saraf.

  • Sering melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan berulang dalam waktu lama sehingga berpotensi menyebabkan iritasi dan pembengkakan pada jaringan di sekitar saraf. Contohnya, mengetik atau menggunakan mouse dalam waktu lama bisa menyebabkan carpal tunnel syndrome.

  • Posisi tubuh yang buruk, seperti membungkuk atau menekuk terlalu lama, dapat memberikan tekanan pada saraf. Misalnya, posisi duduk yang salah bisa memperburuk tekanan pada saraf skiatik.

  • Radang sendi. Kondisi seperti arthritis atau bursitis dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar sendi yang kemudian menekan saraf.

  • Hernia diskus.

  • Diabetes. Penderita diabetes lebih rentan terhadap neuropati, termasuk kompresi saraf, karena kadar gula darah yang tinggi bisa merusak saraf dan membuat penderita lebih sensitif terhadap tekanan.

  • Efek samping operasi.

  • Pertumbuhan abnormal, seperti munculnya tumor, kista, atau lipoma yang letaknya pada jalur saraf sehingga menyebabkan tekanan langsung pada saraf dan mengganggu aliran impuls saraf.

  • Terjadi retensi cairan berlebih didalam tubuh akibat adanya perubahan hormonal, seperti pada kondisi tumor pituitari atau hipotiroid. Kedua kondisi ini dapat mencetuskan terjadinya retensi cairan yang menyebabkan pembengkakan jaringan di sekitarnya, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan pada saraf tertentu.

 

Sindrom ini bisa dialami oleh siapa saja, namun risikonya lebih tinggi pada orang yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, sedang hamil, sedang menggunakan alat bantu (gips, kruk, atau belat), atau orang dengan pekerjaan tertentu, seperti pemain bisbol, pekerja konstruksi, dan pemain golf.

 

Gejala Nerve Compression Syndromes

 

Gejala sindrom ini biasanya muncul secara bertahap dan bersifat hilang timbul. Tingkat keparahan gejalanya pun berbeda-beda, berkisar dari ringan hingga berat. Biasanya, gejala akan semakin parah ketika penderitanya melakukan aktivitas yang melibatkan saraf yang terdampak. Secara umum, gejala nerve compression syndromes adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri, mati rasa, atau kesemutan di area saraf yang tertekan.

  • Ketidakmampuan untuk menggerakkan anggota tubuh, mengangkat tangan atau kaki, serta menggenggam atau memegang benda.

  • Kelemahan otot yang memengaruhi kemampuan penderitanya melakukan aktivitas sehari-hari.

  • Kehilangan massa otot (atrofi) di area yang dikendalikan oleh saraf yang mengalami gangguan.

 

Diagnosis Nerve Compression Syndromes

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik di area yang terdampak untuk mengevaluasi gejala. Dokter mungkin juga meminta pasien memegang benda, mengambil sesuatu, atau mengangkat tangan/kaki sebagai bagian dari evaluasi gejala. 

 

Apabila dokter mencurigai adanya masalah pada saraf, maka pasien akan diminta untuk menjalani pemeriksaan penunjang guna mengonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan tersebut di antaranya:

 

  • Elektromiografi (EMG) dan pemeriksaan untuk mengevaluasi fungsi otot berserta dengan saraf yang mengendalikannya. 

  • Rontgen, USG neuromuskular, atau MRI, untuk memeriksa gangguan pada organ sekitar, seperti radang sendi, cedera ligamen, atau patah tulang (fraktur).

 

Pengobatan Nerve Compression Syndromes

 

Pengobatan nerve compression syndromes dapat disesuaikan dengan saraf yang terdampak. Dokter dapat meresepkan beberapa obat, seperti obat nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID). Selain itu, perawatan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

 

  • Menggunakan kompres panas atau dingin untuk meredakan pembengkakan atau peradangan di area sekitar saraf yang terdampak, juga untuk mengendurkan otot-otot yang tegang di sekitar saraf yang tertekan, meningkatkan sirkulasi darah, dan meredakan rasa nyeri.

  • Terapi fisik seperti peregangan dan latihan khusus untuk meningkatkan fleksibilitas, mengurangi tekanan pada saraf yang terdampak, dan memperkuat otot di sekitar area yang tertekan.

  • Operasi, biasanya dibutuhkan jika metode konservatif tidak efektif atau apabila nerve compression syndromes disebabkan oleh gangguan struktural yang signifikan, seperti  pada pasien dengan herniasi diskus atau untuk mengangkat tumor/kista yang menekan saraf.

 

Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan pada artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Penyebab dan gejala yang dijelaskan di atas pun tidak secara spesifik merepresentasikan nerve compression syndromes sehingga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya.

 

Apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi ini, seperti nyeri di area saraf hingga sulit menggerakan anggota tubuh tertentu, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang dijalani terkait nerve compression syndromes mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Sumber

Medical News Today. Nerve compression syndrome: Definition and treatments. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Nerve Compression Syndromes. Diakses pada 2024 | Healthline. Nerve Compression Syndrome. Diakses pada 2024 | Deutsches Ärzteblatt International. Carpal and Cubital Tunnel and Other, Rarer Nerve Compression Syndromes. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail