Kesehatan Tubuh
Reseksi Usus: Prosedur yang Dapat Tangani Kanker Usus!

Table of Contents
Reseksi usus atau operasi pemotongan usus adalah prosedur yang dilakukan untuk memotong bagian usus tertentu. Prosedur ini umumnya dilakukan untuk mengatasi penyakit, kelainan, atau penyumbatan pada usus, termasuk usus kecil, usus besar, dan rektum. Mari simak penjelasan lebih lanjut mengenai reseksi usus dengan menyimak artikel di bawah ini.
Apa Itu Reseksi Usus?
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa reseksi usus adalah operasi yang dilakukan untuk mengangkat bagian usus, baik itu usus halus, usus besar, maupun bagian akhir usus (rektum). Dalam reseksi usus, dokter akan mengangkat bagian usus yang tidak sehat atau bermasalah lalu menyambungkan kembali ke usus yang sehat.
Pada beberapa kondisi, reseksi usus mungkin dikombinasikan dengan pembuatan stoma (lubang pada dinding perut) untuk menempelkan usus ke lubang tersebut, lalu disambungkan dengan kantong kotoran. Umumnya, hal ini dilakukan bila usus yang sehat tidak cukup baik untuk disambung sampai ke dubur. Alhasil, melalui stoma, kotoran dari usus bisa keluar melalui lubang ke dalam kantong.
Tujuan Reseksi Usus
Tujuan utama reseksi usus atau operasi potong usus adalah mengatasi kondisi medis tertentu yang melibatkan kerusakan pada usus. Adapun beberapa kondisi medis yang dapat ditangani dengan reseksi usus, di antaranya sebagai berikut:
-
Perdarahan parah pada usus.
-
Divertikulitis, yaitu infeksi pada divertikulum (kantong-kantong kecil di sepanjang saluran cerna).
-
Kanker usus, mencakup kanker usus besar (kolorektal) dan kanker usus halus. Pada kondisi ini, dokter mungkin juga mengangkat kelenjar getah bening di bagian usus yang terdapat kanker.
-
Operasi pencegahan. Jika pasien memiliki risiko yang sangat tinggi terkena kanker kolorektal akibat terdapat multipel polip prakanker pada usus besar, pasien dapat disarankan untuk menjalani kolektomi total untuk mencegah terjadinya kanker di kemudian hari. Kolektomi mungkin menjadi pilihan bagi orang-orang dengan kondisi genetik bawaan yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar, seperti poliposis adenomatosa familial atau sindrom Lynch.
Persiapan sebelum Reseksi Usus
Sebelum melakukan operasi, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait keluhan dan riwayat kesehatan pasien, termasuk obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien.
Dokter juga akan meminta pasien menjalani pemeriksaan, seperti rontgen, elektrokardiogram, dan tes darah agar dokter dapat merencanakan prosedur dengan baik. Pemeriksaan tersebut juga dapat membantu dokter mendeteksi adanya masalah yang mungkin memengaruhi operasi.
Beberapa hari menjelang operasi, dokter akan meminta pasien untuk menghentikan konsumsi suplemen atau obat-obatan tertentu, seperti ibuprofen. Dokter juga akan meminta pasien berpuasa selama satu hari sebelum operasi untuk membersihkan usus. Namun, pasien tetap bisa minum cairan bening.
Prosedur Reseksi Usus
Reseksi usus adalah operasi besar. Pasien akan diberikan bius total sehingga berada dalam kondisi tidak sadar seperti tertidur selama operasi. Operasi pemotongan usus ini bisa dilakukan melalui tiga metode, yaitu open resection, laparoscopic resection, dan robot-assisted laparoscopic resection.
-
Open resection: Pada prosedur ini, dokter membuat satu sayatan panjang pada perut, lalu menggunakan alat bedah untuk mengambil sebagian usus.
-
Laparoscopic resection: Dokter membuat 2–4 sayatan kecil (insisi) pada perut untuk memasukkan alat laparoskop (tabung tipis yang dilengkapi kamera kecil). Laparoskopi terhubung dengan monitor sehingga dokter dapat melihat kondisi bagian dalam perut. Kemudian, dokter juga memasukkan alat bedah khusus melalui sayatan lainnya untuk mengangkat bagian usus.
-
Robot-assisted laparoscopic resection: Pada prosedur bedah robotik, instrumen yang dibutuhkan untuk operasi dipasangkan pada robot, lalu dokter bedah akan mengendalikan robot tersebut untuk melakukan pembedahan secara real-time. Teknik minimal invasif ini kerap digunakan untuk reseksi rektum dan kolon (robotic colorectal surgery).
Risiko Efek Samping Reseksi Usus
Sama seperti prosedur pembedahan lainnya, reseksi usus juga dapat menimbulkan efek samping. Namun, prosedur ini sudah terjamin keamanannya dan komplikasi serius pun jarang terjadi. Kendati demikian, beberapa risiko atau efek samping operasi pemotongan usus yang dapat terjadi adalah:
-
Infeksi, terutama jika perawatan luka operasi kurang baik. Infeksi bisa terjadi pada jaringan di sekitar operasi hingga organ yang jauh dari lokasi operasi, seperti paru-paru atau saluran kemih.
-
Cedera pada organ yang berada di sekitar usus, seperti kandung kemih atau pembuluh darah.
-
Perforasi atau kebocoran usus. Hal ini bisa terjadi bila sambung usus tidak sembuh dengan baik atau terinfeksi.
-
Hernia pada bekas luka operasi (hernia insisional).
-
Penggumpalan darah di kaki (trombosis vena dalam) atau pada paru-paru (emboli paru).
Didukung oleh dokter yang terlatih dan bersertifikasi, Siloam Hospitals kini menghadirkan Da Vinci Xi Robotic Surgery, teknologi robotik terkini yang dapat digunakan dalam prosedur reseksi kolorektal dan berbagai tindakan lainnya.
Dilengkapi dengan kamera 3D HD yang mampu memperbesar objek hingga 10x, teknik robotic surgery ini dapat memberikan hasil bedah yang lebih konsisten dan presisi, waktu pemulihan yang lebih singkat, dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Alhasil, pasien bisa mendapatkan penanganan dengan lebih nyaman dan optimal.
Namun, penting untuk diketahui bahwa prosedur reseksi usus hanya dapat dilakukan jika diagnosis telah dikonfirmasi. Dokter dan tim medis pun akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien dan risiko yang mungkin terjadi sebelum melakukan prosedur.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Digestif di Siloam Hospitals terdekat untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Anda juga dapat memperoleh informasi mengenai Da Vinci Xi Robotic Surgery di Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
Sebagai informasi tambahan, tahapan pemeriksaan dan langkah pengobatan yang dilakukan terkait masalah pada usus di setiap rumah sakit dapat bervariasi, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan setiap pasien.
Tersedia aplikasi MySiloam yang memungkinkan Anda untuk mencari informasi jadwal praktik, booking, serta membuat janji temu dengan dokter secara online. Bahkan, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur untuk konsultasi virtual dengan dokter pilihan.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Sistem Pencernaan Basic
Skrining Lite
6 Service/Item
Rp1.250.000
TERPOPULER
Skrining Sistem Pencernaan Lengkap
Skrining Lite
13 Service/Item
Rp2.000.000
Kunjungan Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Homecare
Rp640.000
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300







